Sabtu, 25 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

Irwan Hidayat: Ingin Sidomuncul relevan sampai kapanpun

Editor   -   Jum'at, 17 Desember 2010, 14:22 WIB

BERITA TERKAIT

Mewarisi bisnis keluarga, Irwan Hidayat membawa industri jamu ini semakin membesar dan meluas ke bisnis restoran, multilevel marketing, industri bahan baku jamu, hingga merambah ke sektor perhotelan.

Lebih jauh melihat kesuksesan usaha keluarga itu, Bisnis mewawancarai Irwan di kantornya, di Klepu, Kabupaten Semarang. Berikut petikannya:

 

Bagaimana Anda mulai serius memegang kendali usaha keluarga?

 

Saya ini anak sulung dari lima bersaudara, cucu keenam dari pendiri Sidomuncul, Ibu Rachmat Sulistyo yang dilahirkan pada 13 Agustus 1897. Beliau memulai usaha jamunya di Yogyakarta pada 1930 -an.

 

Kemudian karena terjadi perang kolonial yang kedua, pada 1949, nenek mengungsi dari Yogyakarta hijrah ke Semarang. Sejak lahir saya memang ikut nenek. Oleh karena itu, waktu mengungsi ke Semarang saya termasuk salah satu yang diajak beliau.

 

Pada 11 November 1951, nenek memulai usaha lagi dan mendirikan perusahaan jamu dengan merek dagang Sidomuncul yang diawali dengan tiga orang karyawan. Lalu sekitar 35 tahun kemudian baru saya tahu bahwa nama merek itu mempunyai arti "Impian Yang Terwujud", yaitu terwujudnya cita-cita beliau untuk melestarikan resep-resepnya dan mendirikan perusahaan jamu itu.

 

Ketika nenek pensiun pada 1970-an, karena usia sudah cukup tua dan kesehatannya tidak memungkinkan, beliau menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepada kedua orangtua saya.

 

Pada saat itulah saya mulai ikut bergabung di Sidomuncul, di mana adik-adik saya yaitu tiga laki-laki satu perempuan menyusul pada tahun berikutnya. Pada 1994 ketika Ayah saya meninggal, kami mulai lebih banyak berperan, meskipun sampai saat ini ibu saya masih ikut bekerja dan tetap memimpin Sidomuncul.

 

Saya tidak pernah bermimpi bahwa Sidomuncul akan menjadi seperti saat ini. Pada waktu pertama kali masuk, jumlah karyawannya hanya sekitar 120 orang. Saya membantu Sidomuncul karena tidak punya pilihan dan kesempatan ini satu-satunya yang ada serta bisa dikerjakan.

 

Selama 20 tahun berjalan banyak mengalami kegagalan, akibat berbagai hambatan, walaupun akhirnya menyadari bahwa kegagalan terjadi karena kami tidak memiliki kepercayaan. Tidak ada yang percaya dengan produk-produk kami.

 

Bagaimana Anda membangun kepercayaan itu?

Membangun sebuah kepercayaan memang tidak mudah kami lakukan, membutuhkan perjalanan panjang dengan berbagai kendala yang kami hadapi. Namun, saya meyakini itu adalah perjuangan yang harus dilakukan untuk membangun Sidomuncul.

 

Dari pengalaman itu, saya melihat penjualan industri Farmasi dibandingkan dengan industri jamu pada awalnya adalah 10 : 1. Kenapa demikian? Jawabannya yaitu industri jamu harus dikelola seperti industri farmasi, yaitu transparan, rasional, aman, dan jujur. Di industri jamu sendiri pada waktu itu kerasionalan dan keamanannya hanyalah sebatas bukti-bukti empiris.

 

Oleh karena itu, produk jamu harus dilakukan penelitian dan uji khasiatnya, meski secara relatif aman tetapi apa pun harus dibuktikan secara ilmiah bahwa jamu itu tetap aman dikonsumen serta berkhasiat. Memang jika dikonsumsi berlebihan dapat juga menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

 

Untuk itu, saya membangun laboratorium yang modern, lengkap, dan terakreditasi, meski harus mengeluarkan biaya cukup besar, karena industri Sidomuncul didesain sebagai pabrik ramah lingkungan, misalnya, sisa penggunaan air panas kami proses untuk dapat dimanfaatkan lagi sebagai penghematan.

 

Tidak hanya itu, limbah pembuatan jamu juga kami gunakan menjadi pupuk organik, karena jika dihanguskan ataupun dibakar dampaknya akan menambah panasnya globalisasi.

 

Melalui upaya berbagai penelitian seperti uji toksisitas, uji khasiat, standardisasi, quality control, budi daya tanaman obat, dan produk jamu bisa disejajarkan dengan farmasi dan masih banyak hal lainnya yang sampai hari ini tetap terus kami kembangkan.

 

Perusahaan kami juga bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia di antaranya Fakultas Kedokteran Undip, Fakultas Farmasi Sanata DharmaYogyakarta, Universitas Maranata Bandung dan beberapa instansi seperti BPTO Tawangmangu, Balitro Bogor serta budi daya tanaman obat bekerjasama dengan kelompok-kelompok tani untuk mendapatkan standardisasi bahan baku.

 

Hingga sekarang pabrik kami adalah pabrik yang ramah lingkungan, dan pada 2000, Sidomuncul akhirnya mendapatkan sertifikat sebagai pabrik farmasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Depkes melalui BPOM. Bahkan sampai saat ini satu-satunya perusahaan jamu pertama yang memperoleh sertifikat pabrik farmasi itu.

 

Selain upaya-upaya itu, apa lagi yang akan Anda lakukan?

Dalam kurun waktu 10 tahun, kepercayaan terhadap jamu Sidomuncul mulai tumbuh dan kami mendapat banyak sekali penghargaan lebih dari 120, mulai dari ICSA, IBBA, Marketing Award, Cakram Award, Kehati Award, Bung Hatta Award, IMAC, WOM, dan penghargaan lainya.

 

Di luar semua penghargaan itu kami mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari masyarakat, terbukti dari meningkatnya penjualan produk-produk kami. Tentunya menjadi tugas kami akan terus menjaga kepercayaan itu.

 

Untuk itu, ada beberapa hal penting yang akan kami lakukan, di antaranya meningkatkan kualitas produk kami, melakukan penelitian berkelanjutan, karena masih banyak hal-hal yang tersimpan sebagai rahasia alam yang belum terungkap.

 

Kemudian untuk meningkatkan kualitas produk-produk jamu di Indonesia, kami sedang membangun pendirian industri sebagai usaha baru, PT Semarang Herbal Indo Plant sebuah pabrik bahan baku jamu berstandar internasional untuk memenuhi industri-industri jamu dapat menggunakan hasil produksi bahan baku kami yang sudah berstandardisasi.

 

Selanjutnya, saya mengharapkan supaya ada pendidikan S1 yang menghasilkan ahli farmasi tentang obat-obat alam dan dokter naturopati.

 

Oleh karena itu, saya sudah melakukan 20 kali seminar dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai upaya agar para dokter mau ikut ambil bagian di dalam memanfaatkan kekayaan alam kita, yang sangat berguna bagi kesehatan masyarakat dan jamu masuk dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.

 

Saya selalu mengatakan, kalau kita tidak mau terlibat dan anda tidak mau memulai sekarang untuk meneliti, pada akhirnya nanti kita akan menggunakan obat-obat alam tersebut, tetapi yang datangnya dari Barat (impor).

 

Bagaimana kondisi perusahaan keluarga saat Anda menerima estafet itu?

Ketika saya mulai bekerja pada 1970-an seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan ketika ayah meninggal, saya dan adik-adik saya mulai memimpin Sidomuncul. Tentunya untuk pertama kali kami merasakan canggung karena biasanya ada ayah yang selalu memutuskan. Namun, yang membuat kami akhirnya yakin yaitu adalah pesan ayah yang mengatakan bahwa "Kalau kalian hidup rukun, semuanya jadi beres!" Ternyata apa yang dipesankan beliau itu benar, kami berusaha untuk hidup rukun dan semuanya berjalan dengan baik. Buah dari kerukunan itulah yang akhirnya membuat kami berbisnis dengan hati nurani.

 

Bagaimana Anda membawa usaha keluarga ini ke depan?

Kami ingin menjadikan Sidomuncul terus berkibar dan masih akan tetap relevan sampai kapan pun.

 

Kami prihatin melihat kekayaan alam kita tidak dapat dimanfaatkan di dunia pelayanan kesehatan, ketergantungan kita terhadap obat-obat impor, saya prihatin melihat masyarakat kita lebih yakin pada obat-obat yang datang dari China, India. Bagi saya semua itu adalah tantangan, bagaimana cara mengubah perilaku tersebut. Masalahnya masyarakat kita itu kehilangan kepercayaannya terhadap segala sesuatu yang menjadi miliknya sendiri.

 

Untuk itu, saya ingin mengelola Sidomuncul yang kini telah melibatkan 3.500 tenaga kerja menjadi sebuah perusahaan yang modern dan semua produknya rasional, aman, dan jujur dengan bukti ilmiah.

 

Apakah Anda yakin semua cita-cita dan impiannya itu akan terwujud?

Ya, tentu saja saya yakin. Kalau tidak yakin, saya tidak akan menghabiskan waktu saya untuk melakukan semua kegiatan itu yang penuh perjuangan.

 

 

Biografi
Nama LengkapY. Irwan Hidayat
Tempat & Tanggal lahirYogyakarta, 23 April 1947
IstriM. Shinta Ekoputri SUjarwo
Anak1. Y. Maria Reviani Hidayat2. M. Mario Arnaz Hidayat3. J. Marco Jonathan Hidayat
PekerjaanGenerasi ketiga pemilik PT Sidomuncul 1972 hingga sekarang

 

*Untuk membaca berita lainnya, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com atau klik epaper Bisnis Indonesia jika Anda ingin berlangganan koran Bisnis Indonesia edisi digital.

 


Source : Rachmat Sujianto

Editor :

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

 

POPULER