Rabu, 23 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

PENGELOLA PKBM harus orientasi pada kewirausahaan

A. Nurul Fajri   -   Senin, 09 April 2012, 19:18 WIB

BERITA TERKAIT

JAKARTA: Pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) diminta melakukan revitalisasi program, terutama yang dibutuhkan masyarakat.Ella Yulaelawati, Direktur Pembinaan dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, mengatakan saat ini kewirausahaan menjadi kebutuhan masyarakat."Karena itu mindset pengelola PKBM juga harus berorientasi pada entrepreneurship bukan lagi hanya menjadi penyuplai atau hanya melayani residu pendidikan formal," ujarnya, Senin, 9 April 2012.Dia mengungkapkan hal yang utama kini adalah program apa yang paling dibutuhkan dan diminati masyarakat. Maka itulah yang difasilitasi oleh PKBM sehingga fungsi dan keberadaannya dapat optimal dalam memberdayakan masyarakat.Menurutnya, PKBM yang banyak dikelola individu harus direvitalisasi sehingga menjadi PKBM yang  bisa melakukan pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan melalui pendidikan orang dewasa.Di Indonesia, tambahnya, saat ini ada 6.500 PKBM yang dikelola individu. Kalau sebelumnya PKBM orientasinya pada pendidikan kesetaraan dan ketrampilan. Maka sudah saatnya PKBM layaknya menjadi semacam holding company sebuah usaha bisnis."Masyarakat yang bergabung di PKBM bisa membuat bisnis kecil-kecilan bersama seperti bisnis garmen, katering sesuai kebutuhan setempat. Selama ini PKBM karena konsentrasinya memberikan ketrampilan maka produksi macam-macam tapi tidak bisa menjual," kata Ella.Oleh karena itu PKBM sudah saatnya berorientasi bisnis, bisa memberikan ketrampilan, bisa produksi tetapi juga bisa memasarkan layaknya bisnis.(tw) 


Editor :

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.