Kamis, 18 Desember 2014

CIPUTRA WAY: Harus Punya Keinginan Mental Sebagai Bos

Martin Sihombing Kamis, 16/05/2013 15:11 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Kisah sukses Ciputra, pengusaha kelahiran 24 Agustus 1931 di Parigi, Sulawesi Tengah, mengajak hampir semua orang ingin belajar kepadanya. Atau paling t idak ingin mencari kiatnya.

Tak ayal, dalam berbagai seminar, saat ayah empat anak ini tampil, orang pun begitu gandrung untuk hadir. Apalagi,  kiprah Ciputra diapresiasi oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan memberikan dua rekor kepada Ciputra --sebagai wirausahawan peraih penghargaan terbanyak di berbagai bidang dan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan kepada dosen terbanyak— kegandrungan orang untuk belajar darinya, semakin menjadi-jadi. Plus setelah Ciputra dinobatkan sebagai Entrepreneur of The Year 2007 versi Ernst & Young.

Hingga kini, Ciputra melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC), telah memberikan pelatihan entrepreneurship kepada setidaknya 1.600 dosen.

Untungnya, raja properti Dr (HC) Ir Ciputra, tidak pernah lelah dalam upaya mengembangkan jiwa entrepreneurship kepada publik di Indonesia.  

Bagi Pak Ci, panggilan akrab Ciputra, dalam kondisi krisis seperti saat ini pola itu –pelatihan-- dapat menciptakan tenaga-tenaga kerja yang kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Ciputra mengaku bangga negeri ini masih punya bibit-bibit unggul entrepreneur andalan. Beberapa waktu lalu, dia bercerita, bertemu seorang pengusaha di Hotel Ciputra yang mau berinvestasi di Luwu, Sulsel. Kepada Pak Ci, pengusaha itu bercerita mau mengembangkan pabrik pengolahan rumput laut menjadi bubuk.

" Ini menunjukkan, orang itu memiliki jiwa entrepreneur yang akan memanfaatkan komoditas lokal kita," katanya dalam acara CEO Talk Entrepreneurship: Strategi Menghadapi Krisis di Clarion Hotel and Convention beberapa waktu lalu.

Menurut Ciputra, masih banyak lagi peluang usaha yang bisa digarap asal pengusaha kreatif. Misalnya, Singapura merupakan negara penghasil essence (intisari) untuk parfum. Padahal, sebagian besar bahan bakunya diambil dari Indonesia dengan harga murah. Ironisnya, saat yang sama Indonesia mengimpor produk olahan dari Singapura.  "Ini dapat dijadikan pelajaran bagi Indonesia untuk mendirikan industri pengolahan," katanya.

Ciputra mengakui untuk mencetak jiwa entrepreneurship tidak gampang. Ciputra bahkan mengusulkan anggaran sekitar Rp 10 triliun setiap tahunnya untuk pengembangan kemampuan entrepreneurship di dunia pendidikan.

Ciputra sendiri menggandeng kerja sama dengan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas untuk mengejawantahkan gagasan ini. Saat ini, mereka menyiapkan anggaran Rp 114 miliar untuk mengembangkan pola entrepreneurship di Indonesia.

Jumlah entrepreneur di Indonesia, idealnya, 4,4 juta entrepreneur atau berkisar 2% dari jumlah penduduk.  

Jika dibandingkan dengan Singapura pada 2005, Indonesia sudah juga kalah jauh. Sebab, rasio jumlah entrepreneur di Negari Singa sudah mencapai 7,2%. Demikian pula, Amerika Serikat. Pada 2007 mencapai 11,5% entrepeneur.

Suatu kali, dia mendapatkan pertanyaan dari seseorang tentang bagaimana mengubah mental seorang pelayan menjadi boss.

Apa jawab Ciputra di ciputra.org? Dia teringat beberapa contoh pelayan yang menjadi CEO.  Kuncinya dia punya semangat. Harus punya semangat dan keinginan mental sebagai boss. Kalo anda punya mental, maka harus anda tanamkan agar semangat tetap ada. Banyak juga seorang bos yang bermental pelayan, tetapi ada juga seorang pelayan bermental boss. (msb)

Apps Bisnis.com available on:    
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!
more...