Sabtu, 22 November 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

Bisnis Boneka: Kaya Karakter, Banjir Order

Rio Sandy Pradana   -   Jum'at, 13 September 2013, 11:30 WIB

BERITA TERKAIT

Bisnis.com, JAKARTA - Gelombang permintaan boneka yang tidak pernah surut membuat banyak pengusaha mainan anak selalu diliputi optimisme untuk memproduksi boneka.

Apalagi didapat data, tingginya permintaan boneka yang mencapai lebih dari 300 juta unit per tahun belum bisa diimbangi oleh industri dalam negeri.Anang Sujana, misalnya, yang selalu percaya
diri mengusung moto ‘selama wanita masih bisa hamil maka bisnis boneka tetap menjadi bisnis kami’.

Anang meyakini permintaan mainan yang umumnya digemari anak perempuan ini akan selalu mengalir.

Pemilik Hayashi Toys Mart ini mengaku setiap anak kecil pasti mem butuhkan alat permainan, salah satunya boneka. Mainan ini relatif mem punyai tingkat permintaan yang tinggi karena jika ditaksir dari populasi, jumlah anak perempuan diperkirakan lebih banyak dibandingkan dengan anak laki-laki.

Dengan latar belakang keyakinan itu, Hayashi Toys Mart berani mematok kapasitas produksi hingga 2.000 buah boneka per hari. Saat men da pat kan banyak pesanan Anang biasa nya dibantu oleh mitra usaha dengan kapasitas produksi sebanyak 1.000 buah per hari, sehingga total bisa memproduksi 3.000 buah per hari.

Sistem penjualan produk boneka milik Anang bisa dilakukan melalui grosir, eceran, jaringan distributor, dan pesanan dari instansi atau perusahaan. Namun, penjualan boneka melalui eceran masih yang terbesar dengan jumlah sekitar 1.000 unit per hari.

Suami dari Dwi Yanti Wastini ini mengaku tidak bisa menerima seluruh pesanan yang diminta perusahaan atau instansi. Bahkan, desain yang ditawarkan oleh pemesan kadang kala dinilai tidak bagus bila dibuat menjadi boneka.

Ini karena dia tidak mau boneka yang dihasilkan usahanya itu menjadi jelek karena desain yang dipesan tidak sesuai dengan karakter asli tokoh dalam boneka tersebut. Bila hasil buatannya dinilai jelek, hal ini bisa mencemarkan nama baik perusahaan.

Anang, yang telah 15 tahun menggeluti bisnis boneka lebih memahami desain boneka yang apik dibandingkan dengan pemesan. Untuk yang satu ini, dia berprinsip pembeli bukanlah raja, melainkan mitra, sehingga perlu diedukasi.

Pria yang pernah mengenyam bangku pendidikan di STIE Kusuma Negara Cijantung ini mengaku tidak pernah mengikuti tender pengadaan di perusahaan swasta atau instansi pemerintahan. Di sisi lain, dia ingin pihak yang memesan bonekanya adalah kalangan yang sungguh-sungguh tertarik karena kualitas yang dihasilkan Hayashi Toys Mart.

Bisnis boneka Anang mempunyai tim kreatif sendiri untuk menghasilkan boneka baru dalam 2 hari sekali.

Boneka baru ini bisa berarti karak ter baru atau modifikasi tampil an dari karakter lama. Sampai saat ini, perusahaan yang didirikan pada 1998 ini sudah menghasilkan delapan jenis boneka antara lain boneka bantal, cindy, guling, promosi, rocking, sofa, sandal boneka, dan tas boneka.

Menurutnya, kesulitan biasanya ada pada pemenuhan bahan baku karena sebagian besar masih diimpor dari Korea. Pelaku usaha juga harus memberikan uang deposit bagi importir untuk mendapatkan bahan baku seperti rasfur, velboa, dan boa.

Adapun uang deposit yang diberikan bervariasi antara Rp500 juta— Rp1 miliar untuk satu atau dua rol bahan baku. Seringkali, penyediaan bahan baku ini dimonopoli oleh pengusaha pribumi yang memiliki koneksi dengan importir asing. Sebenarnya, sudah ada pabrikan di Indonesia yang memproduksi bahan baku pembuatan boneka.

Namun, sedikitnya jumlah pabrik yakni yang berlokasi di Cikarang dan Tangerang ini juga masih rentan praktik monopoli.

Pada masa-masa tertentu, berbagai bahan baku boneka ini bisa menghilang dari pasaran. Seperti pada saat booming tokoh kartun Dora The Exploler dan Upin Ipin. Biasanya, importir hanya menjual bahan bakunya kepada pengusaha boneka yang mempunyai hubungan dekat saja.

Masalah ketersediaan bahan baku ini juga dialami Yaqub Sabeni, pemilik pembuatan boneka Al Mukaromah. Terlebih, harga bahan baku ini berfluktuasi mengikuti pergerakan kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Padahal dia membutuhkan 12 rol dari empat jenis bahan baku setiap 2 minggu. Bahan baku boneka yang dia beli antara lain dacron, rasfur, kulit boneka, dan velboa. Bahan baku biasanya masih diimpor dari Korea, Jepang, maupun China.

Dengan ketersediaan bahan baku, maka setiap harinya bisnis Yaqub sanggup membuat antara 700 hingga 1.000 buah boneka.

Yaqub maupun pengusaha boneka lainnya, biasa menyerahkan uang deposit yang dikumpulkan ke pihak asosiasi yakni dari Himpunan Industri Boneka dan Bordir. Namun, besarnya biaya deposit kerap membuat pengusaha khususnya yang berskala kecil dan menengah harus menyatukan diri dalam wadah asosiasi untuk mengumpulkan deposit.

Nantinya, uang tersebut akan diserahkan kepada importir untuk penyediaan bahan baku. Pembuat boneka yang mempunyai gerai di Pasar Inpres Cipinang Besar Selatan Jatinegara, Jakarta Timur ini juga mengeluhkan bahan baku yang terkadang menghilang dari pasaran.

Kendati demikian, Yaqub tetap optimistis akan prospek bisnis bo neka ini. Dia mendapatkan banyak pesanan terutama saat munculnya tokoh film atau kartun yang sedang digemari anak-anak.

Pria yang telah menekuni bisnis ini sejak 12 tahun silam mencontohkan munculnya tokoh Teletubbies, Angry Bird, dan Shaun The Sheep sempat membuat pundi-pundi rupiah nya penuh.

Pasar merespons produksi boneka dengan tokoh tersebut. Berapa pun boneka yang dihasilkan masyarakat di Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Makassar, yang menjadi area pemasarannya dipastikan bisa menyerap habis.

TANTANGAN INDUSTRI

Tingginya kebutuhan boneka yang setiap tahun belum bisa diimbangi oleh industri di dalam negeri menjadi tantangan tersendiri.

Direktur PT Leonsehati Intikreasi Gemilang Katharina Gosal mengatakan ada sejumlah tantangan yang dihadapi industri boneka nasional di antaranya masalah kapasitas produksi, bahan baku, dan permodalan.

“Jumlah produsen boneka di Indonesia hanya 500 perusahaan, padahal setiap perajin harus bisa membuat setidaknya 750.000 buah boneka per tahun,” kata Katharina kepada Bisnis, belum lama ini.

Angka tersebut mengambil asumsi dari jumlah penduduk di bawah usia 19 tahun yakni sekitar 30% dari total populasi Indonesia. Jika total populasi mencapai 250 juta jiwa, anak-anak berjumlah 75 juta.

Dengan asumsi itu, maka apabila setiap anak membeli lima boneka per tahun, kebutuhan bo neka dalam negeri akan men capai 375 juta buah. Padahal, jumlah itu belum termasuk permintaan souvenir, permintaan dari perban kan, restoran, dan acara khusus.

Sayangnya, rata-rata produsen hanya sanggup melayani 5.000- 15.000 unit per bulan. Padahal, agar bisa memenuhi permintaan setiap bulan setidaknya harus bisa menghasilkan 62.500 buah boneka.

Perempuan yang terjun ke bisnis boneka 14 tahun silam ini menceritakan selama ini kebutuhan boneka domestik didapatkan dari luar negeri, baik dalam bentuk utuh maupun setengah jadi. Jika ingin seluruhnya diproduksi dalam negeri, industri boneka membutuhkan sekitar 2.000 perajin lagi.


Editor : Fatkhul Maskur

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

 

POPULER