Trihatma K. Haliman: Berani melawan arus

Agung Podomoro Group tampil sebagai salah satu pemain utama di bidang bisnis properti selama 12 tahun terakhir terutama dalam penyediaan hunian vertikal di Kota Jakarta. Nama Trihatma Kusuma Haliman jelas terkait sangat erat dengan kemajuan yang ditorehkan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 Desember 2010  |  12:13 WIB

Agung Podomoro Group tampil sebagai salah satu pemain utama di bidang bisnis properti selama 12 tahun terakhir terutama dalam penyediaan hunian vertikal di Kota Jakarta. Nama Trihatma Kusuma Haliman jelas terkait sangat erat dengan kemajuan yang ditorehkan oleh perusahaan tersebut. Dalam satu kesempatan pada pertengahan bulan ini, dia membuka sedikit rahasia lari kencangnya Agung Podomoro kepada Bisnis.

Apa siasat ataupun filosofi sehingga bisnis Agung Podomoro melaju pesat selama 12 tahun terakhir?

Kita harus pandai membaca situasi. Pada saat krisis regional 1997, hampir semua perusahaan kolaps. Berarti tidak ada suplai [aset properti] di pasar. Pada saat itu kami melihat hal tersebut merupakan peluang besar. Selama 3 tahun suplai itu tidak ada.

Kami juga melihat demand. Harga tanah di Jakarta semakin mahal. Daya beli juga berkurang. Kami melihat segmen mana yang bisa dipasok ke pasar yang pada saat itu sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Pada saat itu, kami membaca hanya ada pasokan untuk golongan menengah dengan harga hunian mulai Rp600 juta sampai Rp1 miliar. Padahal golongan menengah ke bawah juga membutuhkan rumah yang layak di perkotaan.

Itu tidak pernah terpikirkan. Melihat kondisi itu, saya merasa golongan pekerja memerlukan rumah yang dekat dengan tempat kerjanya. Tapi bagaimana juga harganya harus terjangkau. Mereka [golongan pekerja] juga punya hak untuk tinggal di perkotaan.

Tetapi kita harus menciptakan sesuatu yang terjangkau buat mereka dan juga lingkungan yang baik, yang bersih, juga dengan fasilitas yang bagus.

Awalnya mungkin orang akan merasa khawatir karena dalam membangun sesuatu yang baru, tentu tantangannya juga ada. Buat orang Jawa, kalau nggak menginjak tanah, terasa bukan tinggal di rumah. Tradisi seperti ini juga bagi kami merupakan tantangan tersendiri.

Tetapi nggak ada alternatif lain. Kalau kita mau hidup di Jakarta, kita harus tinggal di high rise, di apartemen. Apartemennya kita buat yang home-lah. Home sweet home begitu. Ketika kami coba pertama kali, saat awal itu mungkin ditertawakan orang. Tetapi saya tidak surut pada komentar siapa pun. Saya maju terus.

Akhirnya teori ini betul-betul berhasil [terbukti]. Pada saat awal kita laksanakan itu, kami juga agak kaget melihat respons konsumen yang luar biasa.

Dari situ kita bisa mengukur bahwa Jakarta ini memang memerlukan urban development untuk golongan menengah bawah, karena mereka tidak bisa membeli landed housing akibat harga tanah sudah mahal.

Kami bikin high rise itu lebih compact. Lebih efisien. Dari sisi lokasi kita tawarkan konsep back to the city. Saya melihat pembangunan infrastruktur tersendat-sendat, tidak berjalan dengan cepat, sehingga pengembangan satelit-satelit di luar kota [di Bodetabek] lebih cepat dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur. Sehingga ada bottleneck, ada jalan tol yang tidak nyambung. Itu membuat constraint bagi mereka yang harus tinggal jauh dari kota [Jakarta].

Itulah sebabnya konsep back to the city menjadi sangat menjual, bermula dari satu blok terdiri dari tiga tower di Kelapa Gading [Jakarta Utara]. Tes pasar kita luar biasa hasilnya.

Kami buat hunian dengan beberapa ribu unit, dilengkapi di bawahnya dengan [properti] komersial yang tidak begitu besar. Lama-lama kami melihat dari ukuran yang kecil 3 - 5 hektare, kami pikirkan ukuran yang paling ideal. Mulailah kami melihat, karena properti seperti fashion juga, setiap 3 - 6 bulan berubah. Properti juga maju. Makin hari makin baik dan untuk ukuran yang ideal kami melihat polanya seperti kota di dalam kota. Ini yang kami sebut Podomoro City.

Kami membangun sembilan superblok dengan tipikal Podomoro City besar dan kecil, tapi konsepnya mirip.

Puluhan ribu yang menghuni superblok tentu perlu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita buat sarana yang representatif agar mereka nyaman di superblok semacam itu. Konsep itu berkembang terus dan kami melihat ini hunian yang ideal untuk tinggal di kota.

Untuk penataan sistem transportasi juga baik, karena ada konsentrasi penduduk yang sudah tertata baik. Membangun satu stasiun kecil atau terminal sangat ideal.

Konsep ini tentu harus di lokasi yang tepat. Kalau itu diposisikan di koridor-koridor yang punya catchment area yang besar.

Pelaksanaan konsep ini akan kami teruskan. Konsep ini mungkin juga bagus diterapkan oleh pemerintah daerah dalam rangka konsep urban renewal. Kan banyak kampung-kampung yang kumuh, tidak layak sebagai hunian.

Kalau diadakan konsolidasi lahan, itu akan menjadi kompleks hunian yang sehat dan optimasi lahan bisa maksimal, karena tadinya luas tapi kumuh menjadi kompleks yang rapi dan tertata baik dengan high rise yang dilengkapi dengan taman, tempat bermain, dan lebih sehat.

Apakah ada rencana besar terkait dengan go public?

Yang jelas, kami sudah besar sekarang ini. Market share kami untuk apartemen sudah di atas 50%. Pertumbuhan penduduk besar dan kebutuhan untuk hunian di perkotaan masih besar, maka kami akan terus menyuplai kebutuhan urban housing di kota-kota besar.

Tentu dengan lebih lengkap. Kota di dalam kota tadi ada gedung perkantoran, hotel, apartemen dalam jumlah besar, serta mal.

Bagaimana dengan anggapan bahwa mal menjadi sumber kemacetan?

Sebetulnya kita bangun mal karena adanya kebutuhan dari lingkungan, catchment area di sekitarnya. Kita meng-create pasar sendiri.

Seperti di Podomoro City punya 10.000 unit apartemen, kalau kalau dikali empat [orang per kepala keluarga], maka jumlahnya 40.000 orang. Ini perlu pemenuhan berbagai kebutuhan sehari-hari, entertainment, gym, ada tempat yang representatif. Kami juga membikin taman yang bagus di tengah-tengah Central Park [superblok di Jakarta Barat].

Ini konsep yang terintegrasi dengan lingkungan, memenuhi kebutuhan masyarakat sekitarnya, juga membuka lapangan kerja yang besar. Dengan mal sebesar itu ribuan orang bisa bekerja.

Kalau dikatakan membuat kemacetan, saya kira kemacetan itu bukan semata-mata karena adanyamal, melainkan juga karena penambahan jumlah kendaraan yang sangat cepat, sementara pertumbuhan jalan minim sekali.

Pemerintah harus mempercepat realisasi ring road, sehingga tidak perlu semua transportasi melintas di tengah kota lagi. Rencana jalan tol disiapkan sejak 1970-an, tetapi lebih cepat pertambahan penduduk dan perkembangan kota daripada ruas jalan.

Meskipun Agung Podomoro berkonsentrasi dengan pasar domestik, mungkin Anda bisa sharing mengenai bagaimana posisi bisnis properti Indonesia di Asia?

Kita lihat dari sisi harga, kita masih sangat-sangat murah. Memang untuk pemilikan oleh orang asing, sampai hari ini kita belum bisa secara by law menjual properti kepada mereka. Bisa, tetapi dengan status hak pakai dengan waktu yang tidak panjang, hanya 25 tahun walaupun bisa diperpanjang. Jadi, kita belum bisa melihat tren bahwa orang asing mau masuk ke pasar properti di Indonesia.

Lain seperti di Singapura, Malaysia, ataupun negara-negara Asia lainnya. Mereka menetapkan status asing sama dengan warga negaranya. Orang asing bisa punya properti dengan hak milik [freehold]. Memang untuk landed ada larangan, tetapi untuk apartemen mereka disamakan dengan warga negara setempat. Itulah mengapa asing masih ragu untuk investasi di apartemen di Indonesia.

Bisa dijelaskan mengenai back to the culture?

Kebetulan ada teman yang memberitahu saya, kita ini orang Jawa, tinggal di Pulau Jawa, tetapi makin lama bahasa Jawa semakin hilang. Bujet guru untuk mengajar bahasa Jawa terbatas. Di Papua saja mungkin semakin sedikit yang berbahasa Papua. CSR kami untuk membantu program pemeliharaan bahasa daerah ini.

Ini kekayaan budaya yang harus kita lestarikan. Generasi kita mungkin masih banyak yang berbahasa Jawa, tetapi generasi berikutnya mungkin jumlahnya akan semakin berkurang. Kalau guru-guru itu perlu bujet, ya kami support.

Bukan hanya itu. Banyak hal yang kita harus berbuat untuk kelestarian budaya.

Anda pernah punya pengalaman yang begitu berkesan?

Memulai sesuatu yang baru, entrepreneurship memang diperlukan untuk berani membuat keputusan yang melawan arus.

Pada saat krisis regional 1997 itu merupakan saat yang sangat mencekam. Semua orang lari keluar, saya balik masuk. Juga saat krisis global 2008, karena subprime mortgage di Amerika Serikat, maka banyak yang menuding properti sebagai biang keladinya.

Kita di Indonesia juga punya bisnis properti yang menjadi backbone kami. Ketakutan itu luar biasa termasuk CEO-CEO saya pun sudah punya firasat yang sangat mengkhawatirkan adanya dampak serius terhadap properti dunia.

Mungkin saat itu saya sendiri yang tenang, Ada proyek yang baru jalan 50%. Kami harus membuat keputusan maju atau slow atau setop. Banyak teman-teman lain juga setop saat itu.

Analisa saya saat 1997, memang terjadi krisis regional, tetapi itu hanya Asia Tenggara dan Korea [Selatan] yang kena. Tidak seluruh dunia. Di Asia Tenggara juga hanya beberapa negara yaitu Thailand, Malaysia, Indonesia. Berarti masih ada Paman Sam [AS] yang bisa menolong kita.

Ketika global krisis 2008, Paman Sam-nya sendiri bermasalah. Siapa yang menolong kita kalau kita juga kena masalah? Saat itu saya putuskan kita tidak perlu khawatir. Saya membaca bahwa masalah di sana [AS] berbeda persoalannya dengan kita. Kita domestik. Tidak ada orang asing yang belanja di kita. Lain dengan di Singapura, mereka tergantung pada orang asing. Konsumen dengan porsi yang besar juga dari orang asing. Kita hampir 99% domestik. Jadi, tidak usah khawatir, saya putuskan untuk jalan terus.

Jadi kami selesaikan, lewat 2008, memasuki 2009 kami sudah buka mal. Tetapi sebenarnya ketika itu berat juga karena support bank tidak ada lagi. Bank saat itu menutup keran meskipun mereka sebenarnya punya banyak uang. Mereka takut dengan runtuhnya Lehman Brothers dan sistem keuangan di AS.

Sebenarnya krisis 1998 itu membuat kita menjadi lebih hati-hati. Karena itu, menghadapi 2008 kita sudah jauh lebih siap.

Belajar dari dua krisis 1997 dan 2008 itulah kita perlu membaca situasi dengan jernih, sehingga dalam menghadapi cobaan-cobaan itu kita bisa membuat keputusan ke depan dengan tepat dan hasilnya luar biasa.

Tetapi saya tegaskan bahwa tidak mudah membuat terobosan-terobosan seperti itu. Setelah ada taifun, suasana pun akan cerah. Kita harus memperhitungkan segala-galanya dan kita yakin mampu melalui cobaan-cobaan seperti itu.

Apa pesan Anda untuk pembaca?

Bangsa Indonesia mempunyai kekayaan alam yang luar biasa, juga mempunyai penduduk dan pasar yang besar. Ketika dikelola dengan tidak profesional, kekayaan tersebut akan menjadi sia-sia.

Artinya, yang penting bukan sumber daya alam [SDA] yang besar, melainkan sumber daya manusia [SDM]-nya. Dengan SDM yang baik kita bisa menghasilkan yang terbaik.

Kita sudah memiliki basic yang bagus sekali. Kita melihat negara-negara yang tidak mempunyai SDA seperti Jepang atau Singapura, kenyataannya mereka makmur karena kualitas manusianya bagus.

Kualitas manusia itu jauh lebih berharga daripada kekayaan alam atau materi yang kita miliki. Bangsa ini harus kita majukan dengan edukasi, skill, dan mentalitas yang baik. Kita juga harus bersatu padu, sehingga kita bisa kuat dan ketertinggalan itu bisa segera kita atasi.

Yang ekonominya berada di bawah harus kita angkat bersama-sama, salah satu satunya dengan pendidikan. Kalau pendidikan tetap rendah, mereka akan tetap miskin untuk selamanya.

Lihat Malaysia, mereka maju. Salah satu penyebabnya adalah pendidikan di sana sekarang lebih maju daripada kita. Padahal dulu mereka belajar dari kita.

 

 

Biografi
Nama LengkapTrihatma Kusuma Haliman
Tempat & Tanggal lahirJakarta, 6 Januari 1952
Pendidikan1970 - 1973 Arsitektur Trier University Kaiserlautern, Jerman
Karier1974 Mulai bekerja di Agung Podomoro1986 Presdir sekaligus pemilik Agung Podomoro

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top