Emirsjah Satar: Fokus ekspansi

LONDON: Garuda Indonesia sudah merampungkan masalah utang yang telah melilit maskapai nasional ini selama puluhan tahun. Bagi sang pilot, selesainya masalah utang ini bisa mulai lebih fokus untuk ekspansi.
News Editor | 20 Desember 2010 04:14 WIB

LONDON: Garuda Indonesia sudah merampungkan masalah utang yang telah melilit maskapai nasional ini selama puluhan tahun. Bagi sang pilot, selesainya masalah utang ini bisa mulai lebih fokus untuk ekspansi.

Berikut penjelasan Emirsyah Satar, direktur utama, mengenai beberapa hal termasuk persoalan belenggu legacy di Garuda, disela-sela penandatanganan restrukturisasi utang akhir pekan lalu.

Apa arti penyelesaian utang dengan kreditur Eropa ini?

Penandatanganan restrukturisasi utang dengan kreditur European Export Credit Agency (ECA) bertujuan supaya fondasi keuangan Garuda makin kuat.

Yang pasti utang lama ini harus dibereskan agar payment-nya jelas sesuasi dengan kemampuan. Sehingga Garuda dapat suistainable growth.

Berapa besar utang yang harus ditanggung dan dibereskan?

Utang ini timbul untuk pembelian enam Airbus pada 1996. Jumlah utang awal mencapai US$1 miliar lebih. Memang yang penting bahwa utang itu sudah dapat kita turunkan. Jika kita lihat posisi akhir 2005 menjadi US$866 juta, turun menjadi US$477 juta per September 2010, hampir setengahnya.

Penurunan ini dibayar melalui kinerja operasional, buyback utang, dan konversi saham. Meski selama 5 tahun ini kita tidak menandatangani debt restructuring karena memang negosiasinya cukup lama dimulai 2006.

Utang yang sudah turun itu akan dicicil sesuai dengan kemampuan Garuda sampai 2016. Jika utang ini tidak diselesaikan, fondasi Garuda bisa tidak stabil karena utangnya default semua. Setelah 5 tahun, alhamdullillah masalah ini sudah selesai.

Apa masalahnya kok bisa sampai lama dan mengapa akhirnya kreditur berubah sikap?

Pada awal-awal pembicaraan, pihak kreditur meminta jaminan pemerintah. Keinginan mereka ini yang membuat kesepakatan sulit dicapai. Pemerintah sendiri menolak permintaan itu. Setelah melihat kinerja Garuda yang membaik dan mampu membayar utang dalam 5 tahun terakhir.

Niat baik kita untuk terus membayar cicilan utang meski belum ada penandatanganan restrukturisasi utang, mungkin mengubah sikap mereka. Termin dan besarnya cicilan sama dengan sebelumnya.

Bagaimana dengan rencana IPO, apakah setelah restrukturisasi utang ini ditandatangani, berpengaruh pada prosesnya?

Masalah utang ini memang harus dibereskan sebelum IPO. Di sisi lain, penandatanganan ini akan mempermudah Garuda untuk mencari pinjaman ke lembaga keuangan lain. Saya tidak bisa bicara banyak mengenai IPO.

Belum lama ini penawaran saham sebuah BUMN dianggap terlalu murah, bagaimana nanti dengan Garuda?

Jika dilihat dalam penjualan saham perusahaan, ada yang disebut saham nilai nominal dan book value. Di Garuda, retained lossess nya besar sekali. Meski kita sudah untung tetapi belum bisa menutup kerugian yang terjadi belasan tahun lalu.

Sehingga nilai nominal menjadi lebih tinggi dari nilai buku. Ini sangat jarang terjadi atas perusahaan yang akan IPO. Namun, ini tidak masalah karena beberapa maskapai juga mengalami seperti Tiger yang equitynya negative. Meski begitu, nilai pasar atau market value Garuda lebih tinggi.

Bagaimana menilai sebuah perusahaan?

Ada 3 faktor yang menentukan penilaian perusahaan ketika go public. Pertama, pasar atau industri tempat perusahaan beroperasi. Seperti Garuda yang beroperasi di Indonesia, dilihat ekonomi dan potensi pasar dari penerbangan.

Kedua, dilihat manajemennya. Bagaimana perusahaan bisa mengambil keuntungan dari pasar yang dinilai positif. Ketiga, legacy, dan ini bisa mengurangi perusahaan. Seperti pada Garuda memiliki legacy yang panjang.

Memang sudah banyak yang kita perbaiki dan benahi, tetapi tetap saja investor akan melihat kemampuan manajeman untuk melanjutkan perusahaan sehingga dapat menghapus semua legacy yang negatif. Sejauh ini, kita sudah memenangkan sejumlah penghargaan seperti good corporate governance.

Sebenarnya legacy itu bisa mengurangi nilai perusahaan, atau malahan bisa menambah. Sekarang tinggal bagaimana me-manage hal ini dengan benar. Harus diingat, kita menjual perusahaan itu atau IPO itu terkait dengan ekspektasi di masa mendatang, bukan past time.

Biasanya saham BUMN itu oversubscribe kalau IPO?

Belum tahu. Mudah-mudahan. Tugas kami adalah bagaimana mengoptimumkan penilaian meski dalam RUPS sudah jelas bahwa penilaian dan jumlah saham yang dilepas bukan wewenang direksi, tetapi pemegang saham.

Dalam RUPS sangat jelas bahwa manajemen bertanggungjawab atas semua persiapan IPO kecuali menentukan harga dan jumlah saham yang akan dilepas.

Saat ini dominasi asing terlihat di beberapa sektor seperti perbankan, bagaimana dengan IPO Garuda nanti?

Itu porsi pemegang saham. Saya tidak mempunyai kompetensi untuk itu. Namun, jika saya diberikan otorisasi, saya bisa atur hasil yang terbaik buat bangsa dan negara.

Setelah penandatanganan restrukturisasi utang ini, masalah keuangan apa lagi yang masih mengganjal?

Hasil dari IPO ini akan digunakan untuk ekspansi, baik penambahan rute maupun pesawat baru. Masalah keuangan sebenarnya sudah tidak ada lagi setelah perjanjian dengan ECA.

Dana untuk ekspansi sudah ada dari IPO. Tahun depan kita sudah bisa bicara mengenai ekspansi. Sebagai patokan, perkembangan penumpang pesawat, baik domestik maupun internasional, di satu negara itu terkait dengan fungsi dari perkembangan ekonominya.

Jika pertumbuhan ekonomi tumbuh 5%, paling tidak penumpang tumbuh 7%-10%. Di Indonesia hal ini sudah terjadi. Sampai saat ini, masyarakat kita yang bepergian ke luar negeri masih banyak menggunakan maskapai asing.

Hal ini tidak bisa disalahkan karena maskapai kita tak bisa memberikan pelayanan yang baik. Dengan membaiknya kinerja Garuda, baik pesawat maupun pelayanan, saya hanya ingin mengambil kembali penumpang yang sebelumnya dipinjamkan ke airline lain. Saya minta dibalikin.

Bagaimana caranya menghilangkan legacy Garuda yang masih dianggap banyak utang, selalu rugi, dan sarat intervensi?

Memang benar. Namun, kalau kita konsisten mampu membuktikan Garuda makin membaik, tentu bisa dihilangkan. Saya tidak menyalahkan jika masih ada masyarakat yang berpikiran seperti itu.

Namun, yang saya harapkan, tolong admit juga bahwa Garuda sudah berubah karena asing saja sudah melihat perubahan itu. Akseptasi asing atas Garuda sudah membaik, apa masyarakat kita tidak bisa. Untuk penerbangan lokal, Garuda sudah menggunakan pesawat-pesawat baru.

Memang dibutuhkan waktu untuk menghilangkan legacy itu. Dalam 5 tahun teakhir pencapaian tertinggi apa yang dicapai Garuda? Apa yang telah dicapai Garuda adalah hasil kerja keras semua orang di Garuda. Tanpa team work tidak bisa seperti saat ini.

Saya rasa dalam 5 tahun ini banyak milestones-milestones yang dicapai. Pertama, Garuda bisa dipercaya lagi untuk terbang ke Eropa karena hal itu cukup rumit. Kedua, dari sudut kinerja keuangan yang terus membaik, dari negatif ke positif. Bukan hanya profit and loss tetapi juga cashflow-nya, yaitu pencapaian penurunan jumlah utang yang signifikan sesuai dengan kemampuan.

Ketiga, dari sudut service, Garuda bisa mencapai empat bintang, naik dari tiga bintang. Keempat, pada Oktober, lembaga survei CAPA (Centre of Asia Pacific Aviation) menempatkan Garuda pada posisi tertinggi dibandingkan dengan maskapai lain di Asia Tenggara seperti Singapore Airline.

Bagaimana Anda memposisikan Garuda di pasar lokal dan internasional?

Garuda harus menjadi pemain yang disegani di regional karena pasar Indonesia itu besar. Jadi tergantung Garuda bagaimana memanfaatkan pasar yang ada. Mungkin dulu kita belum optimal. Namun, dengan pesawat baru yang pada 2010 ini kita mendatangkan 24 pesawat baru.

Ini sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi. Dengan pengembangan ini, tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa menjadi pemain yang dominan di regional ini.

Jika ada perombakan direksi setelah IPO dan manajemen baru tidak sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga menekan harga saham Garuda, tanggapan Anda?

Kalau itu domainnya pemegang saham. Namun, yang pasti dengan go public itu semuanya jadi transparan. Tentunya pemegang saham melakukan proses yang tepat.

Yang penting bagi saya, sejak 5 tahun terakhir kita sudah menerapkan sistem di semua bidang. Jadi siapapun pimpinannya, Garuda sudah memiliki sistem, tinggal melanjutkan. Meski begitu semuanya terus berproses.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top