Sindroma Peter Pan

 
News Editor | 26 Desember 2010 05:33 WIB

 

Kali ini saya ingin bicara suatu istilah yang sangat terkenal di bidang psikologi populer yakni Sindrom Peter Pan. Yang jelas, istilah ini bukan muncul lantaran terkait dengan isu skandal heboh penyanyi kita yang punya grup musik yang namanya mirip.
 
Namun, sepenuhnya ini bicara soal suatu ciri khas kepribadian seseorang yang tidak wajar, dan untuk memahami istilah ini pun, Anda perlu tahu tentang dongeng anak-anak Peter Pan yang terkenal.
 
Dalam kisah itu diceritakan soal Peter Pan, seorang anak kecil yang bisa terbang. Mereka tinggal di tempat bernama Neverland di mana seorang anak kecil tidak akan pernah menjadi tua.
 
Ke sanalah Peter pan membawa Wendy dan saudara-saudaranya mengalami banyak petualangan yang seru. Itulah kisah Peter Pan yang selain masuk ke dalam buku, juga dibuat ke layar lebar.
 
Lantas, apakah hubungannya antara Sindrom Peter Pan ini dengan pengembangan diri kita? Nah, justru itulah pada kesempatan ini, saya ingin membicarakan Sindrom Peter Pan ini. Meskipun, istilah ini sendiri tidak pernah diakui secara resmi dalam pendidikan psikologi yang formal, tetapi istilah ini sering digunakan. Secara umum istilah ini diartikan untuk menjelaskan mengenai seseorang yang tidak pernah menjadi dewasa, atau dengan kata lain kekanak-kanakan.
 
Mari kita ambil contohnya saja. Honggo, misalnya. Dia adalah seorang laki-laki kaya, cukup ganteng dan sempat berpacaran dengan banyak wanita. Namun, berpacarannya tidak pernah lama dan juga tidak pernah ada ujung-ujungnya.
 
Pada bagian terakhir di mana Honggo diminta untuk membuat komitmen pernikahan, dia selalu mundur teratur. Honggo pun tidak pernah bisa mengambil tanggung jawab dalam hidupnya.
 
Bahkan, hidupnya boleh dikatakan segala-galanya diatur dan disiapkan oleh kedua orangtuanya. Ketika sampai pada situasi dimana Honggo harus mengambil keputusan, membuat komitmen, dia selalu menghindari situasi tersebut. Itulah kisah si Honggo.
 
Kisah lain terjadi pada Dana. Dana adalah seorang karyawati yang sangat sensitif sekaligus rapuh. Suasana hati kerjanya kadang bisa melonjak naik dan turun. Kalau dia lagi senang, seluruh dunia seakan-akan jadi bersinar.
 
Namun, tatkala dia dimarahi ataupun ada masalah, dia bisa cemberut seharian seperti anak kecil. Pernah sekali dia membuat kesalahan yang fatal. Akibatnya, dia pun dimarahi oleh manajernya.
 
Bukannya merasa bersalah atas kesalahannya itu, dia pun jadi memusuhi si manajernya. Manajernya pun dicuekin. Teman-temannya pun tiap hari harus mendengar soal keluhannya tentang manajernya dan semua keluhan lainnya. Kalau lagi bete, dia sering kali curhat kepada orang tuanya di rumah dan bisa berjam-jam.
 
Itulah kisah tentang dua manusia yang selalu kekanak-kanakan dan tidak pernah dewasa. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah Sindrom Peter Pan.
 
Mengapa terjadi?
 
Yang jelas Sindrom Peter Pan ini banyak terkait dengan bagaimana seorang dibesarkan dan dididik sejak kecilnya. Biasanya, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama anak dididik dengan sangat otoriter sehingga anak menjadi penakut dan tidak berani mengambil keputusan dan risiko apa pun.
 
Hingga dia dewasa pun, anak ini tidak pernah berani karena orangtuanya selalu mencela dan mengkritik atau pun memarahi ketika si anak ini mencoba melakukan sesuatu. Akibatnya, ketika dewasa, anak itu pun tetap tidak punya nyali untuk melakukan apa pun.
 
Bisa juga, anak ini dibesarkan di dalam lingkungan yang sangat protektif. Disini, si anak selalu dilindungi dan dijaga dari kondisi luar yang tidak nyaman. Saat masih balita, hal ini mungkin sah-sah saja dilakukan oleh orangtua.
 
Namun, celakanya, sikap proaktif dari orangtua ini terus berlanjut hingga anak itu menjadi dewasa. Akibatnya, si anak itu pun menjadi terus-menerus merasa perlu dilindungi.
 
Tatkala si anak merasa berada dalam situasi ataupun kondisi yang dirasakan tidak nyaman, maka dia pun dengan segera akan kembali kepada orangtuanya. Misalkan saja, seorang peserta pelatihan saya menceritakan tentang istrinya yang berasal dari latar belakang keluarga kaya.
 
Masalahnya, setiap kali ada konflik yang seharusnya diselesaikan antara suami istri, justru yang dilakukan oleh istrinya adalah ngambek dan kembali ke rumah orangtuanya. Dia sendiri merasa bahwa campur tangan mertuanya dalam perkawinan mereka, sangat berlebihan sekali.
 
Menghadapi sindrom
 
Bagaimanakah sikap terbaik kita menghadapi manusia dengan Sindrom Peter Pan ini? Pertama-tama kita tidak boleh melabel lantas berpikir bahwa selamanya orang-orang yang demikian tidak akan pernah berubah lagi.
 
Kenyataannya, kadang Si Sindrom Peter Pan ini pun sebenarnya ingin mandiri, ingin terlepas dari ketergantungan pada keluarganya serta ingin mengambil risiko.
 
Masalah utamanya, mereka tidak pernah dilatih dan mereka tidak terbiasa. Akibatnya, pada saat menghadapi kesulitan dan masalah, mereka sangat cepat membutuhkan perlindungan.
 
Memarahi, menyalahkan, membentak-bentak para Sindrom Peter Pan ini juga bukan solusi yang baik. Masalahnya, mereka bukan perlu dimarahi ataupun dibentak tetapi dituntun untuk berani mengambil risiko dan mulai melangkah.
 
Kadang di sinilah letak masalahnya. Mereka-mereka kadang tidak mempunyai siapa pun yang bisa menuntun mereka melangkah. Kalaupun ada orang lain, orang lain yang mereka kenal adalah mereka yang justru mengambl alih tanggung jawab buat mereka. Akibatnya, otot menghadapi kesulitan mereka tidak pernah terlatih dikembangkan.
 
Kadang proses step by step, dibutuhkan bagi orang-orang ini untuk berani melangkah. Setelah mereka melihat bahwa risiko ataupun masalahnya tidaklah sehebat yang mereka takutkan, maka rasa percaya diri mereka akan semakin besar untuk melangkah.
 
Hal ini misalkan terjadi pada seorang klien saya yang tidak pernah berani untuk membawa hubungan dengan pacarnya ke perkawinan. Namun, akhirnya setelah konseling dan diubah pola pikirnya, dia pun berani membuat komitmen perkawinan. Toh, akhirnya dia merasa bahagia dengan keputusannya tersebut.
 
Setelah diselidiki, ternyata sejak kecil dia telah ditakut-takuti oleh ibunya bahwa perkawinan akan menyengsarakan hidup dan merepotkan. Itulah yang telah tertanam ke dalam dirinya selama ini.
 
Sindrom di tempat kerja
 
Di tempat kerja, Sindrom Peter Pan memang agak menyusahkan karena dia membutuhkan orang lain yang selalu bisa 'menepuk-nepuk' dirinya terus-menerus. Akibatnya, dia jadi menghabiskan banyak energi orang-orang di sekitarnya.
 
Sesekali dua kali, mungkin bagus buat kita untuk membangun hubungan emosional yang baik dengannya. Namun, jika keterusan, sebenarnya ini tidak akan baik baginya. Karena itulah, terkadang kita pun harus berani 'tega dan tegas'.
 
Meskipun tidak harus disikapi dengan galak dan marah-marah (dan sebaiknya ini dihindari dengan tipe semacam ini!) mulailah dengan ramah padanya, sehingga terbangun tabungan emosi yang positif.
 
Selanjutnya, dengan hubungan yang positif itu, sebenarnya kita bisa mengarahkan orang tersebut untuk mengambil tanggung jawab, berani ambil risiko dan tidak mudah cengeng saat menghadapi kendala ataupun tantangan kegagalan. Inilah yang mesti dengan tekun kita latih pada manusia-manusia penderita Sindrom Peter Pan ini.
 
Sekali lagi, janganlah kita anggap manusia-manusia penderita Sindrom Peter Pan ini sebagai orang sulit. Ingatlah, saya selalu bilang, "Tidak ada orang sulit, yang ada adalah orang yang belum kita pahami."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Anthony Dio Martin

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top