STRATEGI BISNIS: Kristal kepercayaan

Kenangan depresi besar atau great depression mulai muncul lagi di benak para ekonom. Setiap kali membaca berita perekonomian dunia, seakan-akan selalu muncul istilah ‘tidak becus’ dan ‘ketidakmampuan’. Maka, bayangan miris tentang
News Editor
News Editor - Bisnis.com 03 April 2012  |  17:49 WIB

Kenangan depresi besar atau great depression mulai muncul lagi di benak para ekonom. Setiap kali membaca berita perekonomian dunia, seakan-akan selalu muncul istilah ‘tidak becus’ dan ‘ketidakmampuan’. Maka, bayangan miris tentang depresi perekonomian yang melanda berbagai belahan bumi seusai Perang Dunia II pun menjadi ‘hantu’ di berbagai prediksi.

 
Apakah sesungguhnya para pengambil kebijakan dunia itu memang tidak becus? Benarkah lulusan dari Harvard itu kurang cerdik menangani krisis di Amerika Serikat?  Para staf ahli menteri di Eropa itu tidak mampu merumuskan formula tepat terhadap berbagai krisis di beberapa negara?
 
Perkara yang sebenarnya terjadi adalah kepercayaan. Manakala Presiden Barack Obama mengajukan nama Jim Yong Kim sebagai bos di Bank Dunia untuk menggantikan Robert Zoellick, yang ia ajukan adalah kepercayaan. 
 
Para pengamat meributkan kompetensi Kim, “Seorang dokter mengurusi perekonomian dunia, yang benar saja?” “Hai, permasalahan dunia tidak hanya berputar pada penanganan HIV/Aids saja yang menjadi keahlian Kim!” Sorak sorai itu mendengungkan ketidakpercayaan. 
 
Di level mikro, ketidakpercayaan terjadi dalam keseharian bisnis. Perusahaan yang sedemikian mapan, selama bertahun-tahun aman-aman saja, bisa jadi memendam benih ketidakpercayaan yang siap untuk meledak sewaktu-waktu. Ketidakpercayaan seperti itu menimbulkan pola kerja yang muram dan menghasilkan produktivitas yang menyedihkan. Keadaan seperti itu tidak akan hilang dengan hanya berdoa, tapi kerja keras para pemimpin. Ya, harus diawali dari pemimpin karena merekalah yang memegang tongkat komando.
 
Bagaimana orang-orang membangun kepercayaan dalam kehidupan mereka sehari-hari? Cukupkah melakukan briefing harian dan menceramahi bawahan? Anda tahu hal seperti itu tidak menyelesaikan masalah. Anda harus bertindak dan mengkomunikasikannya. Dan ingat sekali lagi, kepercayaan dimulai dari atas. 
 
Manakala Franklin Quest dan Covey Leadership Center bergabung dalam FranklinCovey Company, sempat terjadi kebingungan di dalamnya. Dua perusahaan itu dikenal dengan performa yang meyakinkan yang didukung orang-orang pilihan di bidang manajemen. Setiap orang yang pernah merasakaan bagaimana proses merger terjadi pastilah paham bahwa penggabungan dua budaya tidaklah mudah. Harapan-harapan yang muncul di awal akuisisi seakan menjadi nisbi.  Kecurigaan muncul dan ungkapan Mahatma Gandhi pun terngiang, “Begitu ada kecurigaan tentang motif-motif seseorang, segala yang ia lakukan menjadi ternoda.”
 
Stephen MR Covey mengakui kegagalan-kegagalan awal yang ia lakukan adalah karena ia lebih mengandalkan asumsi. Ia pun melakukan serangkaian langkah untuk membangun kepercayaan. Pemimpin yang fokus membangun kredibilitas akan menggapai kepercayaan dari orang lain, bahkan kepercayaan terhadap diri sendiri. Hasilnya? Merger itu kemudian berjalan mulus dan terjadi budaya saling percaya.
 
Apa yang Covey lakukan dimulai dengan sebuah pertemuan di mana ia dengan lantang mengungkapkan apa yang sebelumnya menjadi kasak-kusuk. Gosip di antara karyawan dan kecurigaan-kecurigaan dalam politik kantor ia kemukakan dengan bahasa sederhana. Rapat yang semula dijadwalkan satu jam saja kemudian melar menjadi seharian. Semua orang seperti ingin memuntahkan apa yang ada di benak mereka selama ini. 
 
Tiga perilaku
 
Untuk menjadi pemimpin yang dipercaya, ada beberapa perilaku yang harus dilakukan. Stephen Covey mengidentifikasikan tiga perilaku utama para pemimpin terpercaya (high-trust leaders).
 
Pertama, bicara langsung. Jujurlah. Katakan yang sebenarnya dan biarkan orang lain tahu Anda berada di sisi mana. Gunakan kata-kata sederhana. Covey melakukannya saat rapat bersama dengan menyatakan apa yang ada di pikirannya. Ia menyatakan terus-terang tentang friksi yang terjadi akibat ketidakpercayaan. 
 
Langkah itu memang mengejutkan orang-orang yang terlibat. Seakan-akan tindakan itu mewakili apa yang mereka pikirkan selama ini. Ada kecenderungan untuk berkilah. Atau, sebagai orang Indonesia, lebih bahagia dengan membicarakannya secara diam-diam atau berbicara dengan sindiran. Tindakan menutup-nutupi apa yang terjadi sesungguhnya justru  menambah ketidakpercayaan.
 
Langkah kedua adalah perlihatkan penghargaan (demonstrate respect). Biarkan orang lain tahu bahwa Anda peduli. Biarkan juga orang lain menyatakan apa yang ia pikirkan. Mendengarkan terkadang lebih berharga daripada memberi perintah. Hargai setiap inci dari apa yang terjadi tanpa meninggalkan prinsip efektivitas. 
 
Terkadang orang lupa bahwa setiap makhluk memiliki harga diri. Setiap individu memiliki imajinasi. Mereka pun butuh untuk memiliki kepercayaan diri seperti Anda. Dalam hal ini, apa yang mereka lakukan membutuhkan afirmasi apakah sudah sesuai dengan yang telah ditetapkan. 
 
Cara paling ‘primitif’ yang dilakukan oleh pemimpin adalah dengan mendekati anak kecil atau bayi. Silakan periksa, ada berapa banyak presiden yang foto bersama anak-anak kecil. Bahkan Presiden Amerika Serikat selalu memiliki acara untuk mengadakan pertemuan dengan siswa-siswi sekolah. Ternyata, strategi ini juga diterapkan oleh pemimpin simpanse. 
 
Dalam menarik kepercayaan komunitasnya, pemimpin simpanse akan mendekati bayi simpanse dan mengelus-elus kepala bayi itu. Tindakan itu efektif untuk menunjukkan bahwa ia perhatian terhadap hal-hal kecil. Jadi, ketika pemimpin melakukan tindakan besar, secara tidak sadar anggota tim akan langsung beranggapan bahwa ia tidak akan mengabaikan detil.
 
Hal yang ketiga adalah menciptakan transparansi. Terbukalah dan bersikaplah otentik. Nyatakan perhatian Anda. Biarkan Anda menjadi kristal bening yang bisa dinikmati oleh semua orang yang memandang. Atau, belajarlah dari keberhasilan para pembuat software komputer yang memanfaatkan frasa what you see is what you get (wysiwyg). Manakala Anda membiarkan orang lain untuk bermain tebak-tebak buah manggis, tidakkah itu sama saja dengan membiarkan mereka menuju ke arah yang salah? 
 
Seberapa banyak dari para pemimpin yang telah menyatakan secara terbuka, mau dibawa kemana organisasi yang ia pimpin? Bayangkan apabila Anda mengikuti rombongan perjalanan tanpa tahu tujuan. Anda hanya akan berjalan dan melihat. Anda memiliki impian tetapi tidak memiliki strategi yang nyata karena takut impian itu tidak sesuai dengan tujuan yang sesungguhnya.
 
Ketakutan adalah biang dari kepercayaan. Dalam dunia intelijen, ketakutan adalah salah satu senjata yang ampuh untuk menghancurkan musuh dan menjadi jalan bebas hambatan menuju ketidakpercayaan. Dengan ketidakpercayaan, apa saja bisa terjadi, bahkan untuk menghancurkan sebuah negara atau meluluhkan perekonomian dunia. 
 
*) Satyo Fatwan adalah Managing Partner Dunamis Organization Services
 
 

>>> BACA JUGA

- KINERJA EMITEN BI-27 KINCLONG

- KAPAN HARGA BBM NAIK?

 

*) INGIN MEMBACA berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari harian Bisnis Indonesia? Silahkan klik epaper.bisnis.com. Anda juga bisa berlangganan epaper Bisnis Indonesia dengan register langsung ke Bisnis Indonesia edisi digital.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Satyo Fatwan

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top