TECHNOPRENEURSHIP PEMUDA: Konglomerat baru akan lahir

 
nurul | 04 April 2012 19:25 WIB

 

 

JAKARTA: Technopreneurship Pemuda, kompetisi wirausaha berbasis tekhnologi  berpotensi melahirkan konglomerat baru di Indonesia yang mampu memanfaatkan  iptek dengan mengelola potensi sumber daya alam.

 

“Lewat kegiatan ini kami yakin 10-20 tahun mendatang akan lahir konglomerat baru di tanah air yang lahir dari kompetisi ini karena pemenang tahun lalu Hadi Apriliawan yang membuat inovasi proses pasteurisasi susu kini sedang berkompetisi di ajang internasional dan berpotensi sebagai pemenang,” ungkap Technopreneurship Antonius Tanan, Presdir Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) didampingi Santosa Yudo Warsono, Asisten Deputi Iptek Industri Kecil Menengah, Kemenristek, Rabu, 4 Maret 2012.

 

Saat ini, ujarnya, Hadi tengah mengikuti Global Inovation Through Science &Technology (GIST) dan baru pulang dari Dubai, Uni  Emirat Arab. Sebagai pemenang Techopreneurship Pemuda 2011 dia telah menolong banyak petani di Malang agar produksi susu bisa bertahan lebih dari seminggu setelah di perah.

 

“Hal yang terpenting dari kompetisi wirausaha berbasis tekhnologi ini adalah kegiatan boot camp pemuda dan membuat jejaring baik bagi peserta maupun pemenang dengan jaringan global sehingga mereka dapat berkompetisi di tingkat global dan meningkatkan daya saing bangsa,” kata Antonius Tanan.

 

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa produktivitas suatu negara sangat ditentukan oleh kemampungan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola sumber daya alam (SDA) yang dimilikinya karena itu jumlah pemuda yang kini mencapai 27% dari jumlah penduduk harus di dorong udalam berkarya, berkreasi, dan berinovasi. 

“Mereka memiliki peran yang strategis bagi tumbuh dan berkembangnya budaya inovasi sehingga melalui tekhnologi bisa memberikan solusi yang tepat bagi masalah-masalah yang dihadapi di daerah asalnya,” kata Santosa Yudo Warsono .

 

Dalam hal agribisnis, misalnya, peserta Technopreneurship Pemuda 2011 misalnya, ada yang membuat inovasi alat untuk panen padi dengan cepat. Produk buatan luar negri hanya mampu memotong butiran padinya tapi alat buatan Indonesia bisa memilah-milah antara bulir padi dan batang yang dimanfaatkan untuk makan ternak.

 

“Di luar negri batang padi tidak dimanfaatkan lagi untuk kebutuhan lain sehingga melalui inovasinya dapat mendorong para pemuda untuk menjadi pengusaha beras berkat modernisasi alat yang diciptakan oleh para pemuda juga,” kata Santosa sambil menambahkan bahwa kompetisi ini menjadi penting karena dalam Kabinet Indonesia Bersatu II yang telah menetapkan 11 prioritas termasuk membudayakan kreativitas dan inovasi tekhnologi

 

Selaras dengan program Masterplan Percepatan  dan Perluasan Pembangunan (MP3I) Kemenristek akan mendorong para peserta untuk membuat inovasi-inovasi yang mampu menyelesaikan masalah-masalah di daerah maupun nasional yang terkait dengan potensi bisnis.(msb)

 

 

*) Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari harian Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com. Anda juga bisa berlangganan epaper Bisnis Indonesia dengan register langsung ke Bisnis Indonesia edisi digital. 

 

 

Sumber : Hilda Sabri Sulistyo

Tag :
Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top