VIKRAM NEHRU: Masalah di negara maju akan menahan pertumbuhan global

JAKARTA: Sejumlah lembaga keuangan internasional telah merevisi turun pertumbuhan ekonomi global, dipicu oleh kekhawatiran terhadap kondisi krisis utang Eropa.
News Editor | 18 April 2012 12:33 WIB

JAKARTA: Sejumlah lembaga keuangan internasional telah merevisi turun pertumbuhan ekonomi global, dipicu oleh kekhawatiran terhadap kondisi krisis utang Eropa.

 

Di sisi lain, pemerintah di masing-masing negara berupaya kuat agar tak terimbas krisis global. Untuk mengetahui hal ini, Bisnis berkesempatan mewawancarai Vikram Nehru, analis ekonomi global dan juga mantan kepala ekonom sekaligus direktur departemen Bank Dunia yang saat ini menjadi Senior Associate Carnegie Endowment. Berikut petikannya:

 

Berkaitan dengan situasi ekonomi global yang melambat, bagaimana tanggapan Anda?

 

Pertumbuhan ekonomi global memang melambat terutama di negara maju. Kita melihat Amerika sedang mengalami pemulihan pelan-pelan dari resesi. Selain itu, Eropa mengalami masalah krisis utang yang sangat serius dimulai dari Yunani.

 

Meskipun ada komitmen bantuan yang memberi sedikit ruang untuk bernafas dan ada program restrukturisasi utang jangka panjang dari ECB, ini hanya memberi stabilitas sementara.

 

Apakah upaya yang dijalankan selama ini belum cukup?

 

Mereka hanya membangun firewall agar tidak menyebar ke negara lain termasuk Spanyol. Tapi ini bukan solusi permanen. Solusi permanen butuh pengurangan anggaran besar-besaran. Ini sebuah tantangan yang sangat sulit. Kita tidak akan tahu kapan tapi masalah ini akan muncul kembali. Dan pertanyaan mengenai apakah Eropa masih bisa bersatu belum bisa terjawab.

 

Saya tidak yakin Eropa bisa tumbuh pesat lagi. Mungkin double dip recession bisa terjadi di Eropa, seperti yang pernah dihadapi Inggris. Maka bagi negara-negara maju, situasi yang ada saat ini sangat buruk.

 

Di sisi lain, ada berita bagus. China terus berkembang, begitu juga dengan India, Indonesia, dan emerging market lainnya. Meski sedikit melambat, ekonomi terus tumbuh.  Kita bisa lihat kuartal lalu, Indonesia tumbuh 6,1%, India 6,3%, China 9,1%. Kita bisa melihat negara-negara berkembang ini mendapat dampak dari perlambatan di negara maju.

 

Mereka tidak terlepas, tetapi sangat berkaitan. Jadi melihat ke depan, meski negara emerging akan menyetir pertumbuhan dunia, masalah di negara maju akan menahan pertumbuhan global. Hal ini yang disebut dengan pertumbuhan multi-speed, yaitu ada lebih dari satu kecepatan.

 

Di satu sisi, ada yang bergerak cepat dan ada yang bergerak lambat. Saya rasa ini bagus tapi dunia tetap butuh kondisi Eropa dan AS yang sehat.

 

China sudah merevisi turun pertumbuhan tahun ini dan ini sangat mempengaruhi situasi pasar dunia. Bagaimana pendapat Anda?

 

Itu bukan hanya proyeksi. Perdana Menteri Wen Jiabao mengatakan itu sebagai target [yang ingin dicapai]. Waktu saya bekerja di China, target negara itu hanya 4%.

 

Menurut saya, China akan terus tumbuh. Negara itu melakukan hal yang benar, mengambil kebijakan benar, dan perubahan yang baik, serta menyeimbangkan ekonomi dengan keadaan luar. Coba lihat angka proyeksi China 2030 di Internet. Mereka memiliki rencana jangka panjang. Mereka tahu kebutuhan dan apa yang harus dilakukan.

 

Menurut saya, memang China melambat dan itu hal yang bagus karena banyak hal yang harus dipertimbangkan seperti lingkungan, kualitas produk dsb.

 

BRICS dikabarkan akan mendirikan sebuah tandingan untuk Bank Dunia. Bagaimana tanggapan Anda?

 

Pertama-tama, aliran uang di dunia terutama kepada negara berkembang telah meningkat sebesar 15 kali dalam 20 tahun terakhir. Namun, bantuan telah berkurang.

 

Oleh karena itu, Bank Dunia kini hanya sebagian kecil dalam sistem keuangan global. Jangan hanya fokus pada World Bank.

 

Dalam 3 tahun terakhir, pinjaman Bank Dunia telah meningkat sehingga menguras modalnya. Bank Dunia harus mengurangi pinjaman. Selain itu, sudah ada banyak kompetitor di dunia ini.

 

Sekarang sudah ada non-traditional donor. BRICS Bank juga akan menjadi salah satu kompetitor. Presiden Bank Dunia yang baru harus bisa mencari donor yang besar.

 

Menurut Anda siapa Presiden Bank Dunia yang akan terpilih?

 

Pendapat saya senada dengan yang orang lain katakan. Hal ini bagus karena ada pilihan kandidat. Saya harap prosesnya terbuka dan kompetitif. Mereka punya visi.

 

Saya juga berharap dewan akan mempertimbangan kemampuan mereka, bukan hanya melihat dari negara asal mereka. Yang terbaiklah yang diperlukan karena saat ini lembaga tersebut tengah mengalami tantangan besar.

 

Kenapa selalu AS yang menjadi Presiden Bank Dunia?

 

Melihat dari sejarahnya, Bank Dunia berdasarkan pada pasar modal. Pasar modal dulu hanya ada di New York. Oleh karena itu, bankir terbaik yang ada berasal dari AS. Tapi harusnya tidak begitu mengingat kontribusi modal AS hanya 16% di Bank Dunia, sementara kontribusi emerging countries 47%. Harusnya negara berkembang mengusulkan kandidat mereka. (spr)

 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Harga emas setelah naik turun

+ PAK DOMO, orang kuat itu mangkat

+ Liga Champions: Di balik kekalahan REAL MADRID

+ SIAPA di belakang sepak terjang DAHLAN ISKAN?

+ CEPAT ITU PENTING, kata Dahlan Iskan

 

Sumber : Hanum Kusuma Dewi/Maria Y. Benyamin/ Yeni H. Simanjuntak/ Wisnu Wijaya

Tag :
Editor : Kahfi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top