PRINSIP MOTIVASI Jadilah lebih besar dari masalahmu

Ada sebuah prinsip motivasi yang saya sukai yakni, “Buatlah dirimu jauh lebih besar dari masalahmu!”. Untuk itulah, saya ingin memulai dari kisah motivasional yang luar biasa tentang  usaha Sir Edmund Hillary untuk menaklukkan puncak
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 April 2012  |  20:53 WIB

Ada sebuah prinsip motivasi yang saya sukai yakni, “Buatlah dirimu jauh lebih besar dari masalahmu!”. Untuk itulah, saya ingin memulai dari kisah motivasional yang luar biasa tentang  usaha Sir Edmund Hillary untuk menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia.

 

Konon, kabarnya pada 1952, Sir Edmund Hillary dengan timnya telah mencoba mendaki puncak tertinggi di dunia. Namun, hasilnya nihil alias gagal. Bagaimanapun juga usaha pendakiannya tersebut tetap amat dikagumi. Hingga akhirnya, beberapa minggu setelah kegagalannya, Sir Edmund Hillary diminta untuk memberikan inspirasinya mengenai usahanya di sebuah komunitas di Inggris.

 

Pada hari itu, ketika tiba giliran Sir Edmund Hillary untuk berbicara, tepukan tangan meriah mengiringi. Namun, Sir Edmund Hllary kemudian mengejutkan hadirin yang ada di situ, karena dia berdiri jauh-jauh dan menunjuk pada gambar gunung yang ada di latar belakang podium.

 

Lantas dengan lantang Sir Edmund Hillary berseru, “Mount Everest, kamu mengalahkan saya pertama kali. Tapi, lain kali saya akan mengalahkanmu karena kamu sendiri sudah berhenti bertumbuh tetapi saya sendiri….masih akan terus bertumbuh”.

 

Akhirnya, benar juga. Pada tahun berikutnya, tepatnya tanggal 29 Mei 1953, Sir Edmund Hillary bersama dengan Tanzing Norgay menjadi dua orang manusia pertama yang sampai di puncak gunung itu.

 

Bagaikan latihan beban

Kisah inspiratif Sir Edmund Hillary tersebut mengingatkan kita bahwa pada prinsipnya hidup itu seperti kita sedang latihan mengangkat beban. Pada suatu ketika, kita akan terhenti di suatu beban yang kita tidak mampu mengangkatnya.

 

Mereka yang berhasil adalah yang tidak pernah menyerah dengan beban tersebut. Langkah berikutnya yang mereka lakukan adalah secara rutin mereka mengembangkan otot-otot mereka. Mereka makan makanan dengan nutrisi tinggi.

Mereka berlatih, mereka minta saran dari yang mampu mengangkat beban tersebut bahkan mencontoh dari mereka. Setelah sekian lama berlatih, akhirnya tibalah saatnya latihan mereka diujicobakan dan, ternyata mereka mampu mengangkatnya!

 

Mengenai hal ini, sangat tepatlah kalimat yang diucapkan oleh si genius penerima hadiah Nobel, Albert Eistein ketika ia mengatakan, “Suatu masalah yang kamu hadapi saat ini, tidak bisa dipecahkan dengan level berpikir yang sama seperti sekarang”.

 

Saya pun teringat saat seorang pebisnis berbincang-bincang dengan saya dan berkeluh kesah, “Pak Anthony, sudah tiga tahun bisnis saya sepertinya mengalami stagnasi.  Jalan di tempat dan profitnya dari tahun ke tahun ya sama saja”.

 

Maka, saran sederhana yang saya berikan kepadanya adalah menyuruhnya untuk mengembangkan dirinya, belajar serta menggunakan pendekatan baru sehingga dia bisa punya ‘level ‘ yang berbeda untuk mengembangkan bisnisnya.

 

Menariknya, kasus semacam ini bukan hanya dialami oleh si pebisnis ini saja tetapi juga pada sebagian besar orang dalam hidup mereka. Banyak di antara kita yang seakan-akan berjalan di tempat.

 

Mereka mengharapkan dan mengimpikan hasil yang lebih baik tetapi, kenyataannya mereka hanya berjalan di tempat dan tidak mengalami perkembangan. Masalah sederhana, mereka mulai terjebak dalam pertumbuhan dan kemampuan yang sama, tindakan yang sama, dan sebagai akibatnya, hasil yang mereka peroleh pun menjadi sama saja.

 

Berlatih dan bayar ongkosnya

 

Ketika pertumbuhan kita mengalami stagnasi dan hasilnya begitu-begitu saja, tidak seperti yang kita mpikan, maka itulah alarm supaya kita mau berbenah dan mengembangkan diri kita. Suatu impian dan cita-cita tinggi, tidak mungkin terwujud kalau kita tidak mengembangkan kapasitas kita untuk mendukungnya.

 

Andaikan saja, Sir Edmund Hillary hanya bercita-cita mencapai puncak tertinggi di dunia tetapi tidak mulai berlatih dan mempersiapkan dirinya, maka tindaklah mungkin di ahin 1953 ia akan mampu menaklukkan puncak tertinggi itu.

 

Saya pun teringat kisah dahsyat dari Bruce Jenner, mantan atlet pemecah rekor Olimpiade 1976, yang sekarang banyak muncul di TV dalam acara keluarga Kardashian, karena menajadi ayah tirinya Kim Kardashian. Diceritakan bagaimana pada 1972, dia hanya mendapat juara ke-10 di acara Olimpiade 1972 di Munich.

 

Saat itulah, dia berjanji pada dirinya. Di kejuaraan berikutnya, dia mau menjadi pemenangnya. Maka, mulailah setiap hari selama empat tahun diceritakan bagaimana Bruce Jenner berlatih hampir 7 hingga 8 jam sehari tanpa ada waktu istirahat termasuk minggu. Akhirnya,tibalah hari dimana kemampuan diuji pada 1976 di Olimpiade di Toronto. Hasilnya? Bruce Jenner keluar dengan medali emasi untuk Decatlon.

 

Bayangkan, saat mengenang momen itu, Bruce Jenner berkisah, “Saat saya datang dan berlomba, tidak ada  yang mengenal bahkan menjabat tanganku. Bahkan, melihatku pun tidak. Tapi, ketika saya keluar dengan medali emas, semua tangan berebut menyalamiku dan orang-orang berebutan meminta tanda tanganku. Semua latihan dan pengorbanan yang saya lakukan, tidak sia-sia!”

 

Memang itulah, buah dari pengorbanan dan ongkos yang dibayar oleh si Bruce Jenner. Yang namanya medali emas, tetap akan ada disana dan tetap diperlombakan. Tetapi, Bruce Jenner tahu bahwa jika dirinya ingin mendapatkan medali emas tersebut, dia tidak boleh lagi berlatih dengan cara yang sama.

 

Makanya, dia pun mulai berlatih dengan begitu giat selama 4 tahun lamanya. Dia mengembangkan dirinya dan mengembangkan kemampuannya. Ujung-ujungnya, ia memperoleh medali emasnya!

 

Bagaimana membuat dirimu lebih besar?

Kita perlu ingat selalu kalimat Albert Eistein bahwa kita harus membuat diri kita bisa berada di level yang berikutnya agar mampu mengatasi masalah yang kita hadapi saat ini. Bagaimana caranya agar kita bisa mengembangkan diri kita ke level berikutnya? Ada berbagai hal yang bisa kita lakukan!

 

Pertama, perhatikan mereka yang telah sampai ke level yang Anda idam-idankan. Cobalah perhatikan apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Lantas, bertanyalah pula bagaimana Anda bisa mulai melakukan apa yang telah mereka lakukan.

 

Banyak klub sepak bola maupun klub olah raga yang melakukan langkah seperti ini. Bagaimana caranya membawa pemain mereka ke level yang berikutnya? Salah satunya dengan cara mendatangkan ataupun membeli pelatih dari klub yang telah ternama untuk menciptakan mind set ataupun kebiasaan yang dilakukan oleh tim-tim dunia, dengan demikianlah maka mereka berharap bisa membawa diri mereka ke level berikutnya.

 

Kedua, akuilah bahwa cara yang lama tidak lagi akan membawa Anda kemana-mana. Ada sebuah pepatah bagus yang mengatakan, “What Bring You Here, Will No Bring You There!” (Apa yang membawamu sampai kesini, tidak lagi akan membawamu ke sana).

 

Maka, akuilah cara sekarang bagus untuk tantangan masa lalu tetapi mungkin tidak lagi akan pas untuk tantangan berikutnya. Karena itulah caranya harus Anda ubah. Berpikirlah keras untuk mengubah dan mengembangkan dirimu agar dirimu bisa makin berkembang dengan cara-cara dan metode yang baru. Beranikanlah diri Anda pula untuk mencoba cara maupun teknik yang baru.

 

Ketiga, bayarlah ongkos sekolah. Terkadang, Anda harus belajar dari ahlinya, supaya Anda bisa berkembang menjadi lebih baik. Karena itulah, maka janganlah pelit untuk mengembangkan diri Anda dengan membayar uang sekolah, uang kursus ataupun unga pelatihan agar diri Anda bisa semakin berkembang lebih besar dari masalah Anda.

 

Masalahnya, banyak orang yang terlalu pelit dan merasa enggan untuk membayar ongkos sekolah ataupun training. Mereka merasa dirinya sudah tahu dan paham. Padahal, dunia terus berkembang dan berubah. Nah, saatnya Anda mengembangkan diri Anda jika tidak ingin terjebak dengan hasil yang begitu-begitu saja. (msb)

 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Berita BISNIS INDONESIA hari ini: Akuisisi Danamon bikin CEMAS?

+ DBS janji pertahankan merk DANAMON

+ INDONESIAN BONDS sets for Weekly GAIN

+ NAZARUDDIN kok cuma divonis 4 TAHUN

+ MANCHESTER UNITED Value rises to $2.2 Billion

+ DAHLAN ISKAN mengintili TIGA PEREMPUAN

+ FIFA ban Indonesian football coach AJI SANTOSO

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Anthony Dio Martin

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top