TIM GROSER: Investasi Selandia baru ke Indonesia akan tumbuh

 JAKARTA: Selama kunjungan di Tanah Air pada 15-17 April, Perdana Menteri Selandia Baru John Key memanfaatkan momentum untuk meningkatkan hubungan di antara kedua negara. Untuk mengetahui seberapa besar peluang kerjasama Indonesia-Selandia
Hilman Hidayat
Hilman Hidayat - Bisnis.com 19 April 2012  |  15:24 WIB

 JAKARTA: Selama kunjungan di Tanah Air pada 15-17 April, Perdana Menteri Selandia Baru John Key memanfaatkan momentum untuk meningkatkan hubungan di antara kedua negara. Untuk mengetahui seberapa besar peluang kerjasama Indonesia-Selandia Baru dan sektor mana sajakah yang diincar oleh Negeri Kiwi itu, Bisnis berkesempatan mewawancarai Menteri Perdagangan Selandia Baru Tim Groser, yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Selandia Baru di Indonesia. Berikut petikannya:Apa yang membawa Selandia Baru datang ke Indonesia?Dari sudut pandang kami, ini adalah bagian dari upaya keras kami untuk mereorientasi ekonomi Selandia Baru menuju negara dengan perekonomian yang tengah berkembang (emerging economics). Kami membuat perkembangan yang masif dengan China, khususnya setelah kami menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan China.Sejak itu, hubungan perdagangan kami berkembang dalam konteks yang sangat positif. Bahkan  tahun lalu, China menggantikan Australia sebagai negara tujuan ekspor utama Selandia Baru. 2 Tahun lalu, ekspor kami ke China menggantikan posisi Amerika Serikat. Jadi China menjadi pasar kedua terpenting bagi Selandia Baru, setelah Australia. Kami ingin melakukan hal yang sama dengan Indonesia.Apa yang membuat Indonesia menarik di mata Selandia Baru?Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan size ekonomi yang besar. Selama 40 tahun, Indonesia tumbuh sekitar 6-7%, terkecuali pada saat krisis ekonomi Asia 1997-1998. Indonesia bisa melakukan ini selama 40 tahun dan kesuksesan itu juga mengalir ke sektor politik dan finansial. Tidak ada alasan mengapa kita harus pesimistis dalam memandang Indonesia. Tidak ada hal yang logis dibalik pesimisme itu, sebaliknya banyak alasan untuk percaya bahwa Indonesia akan terus bertumbuh di level yang tinggi.Sekarang Indonesia juga menjadi negara dengan size ekonomi hampir mencapai US$1 triliun. Pertumbuhan ekonomi 6-7% dan size ekonomi US$1 triliun ini menjadi momentum perubahan bagi Indonesia, dan bagaimana negara lain berinteraksi dengan Indonesia.Selandia Baru juga melihat Indonesia sudah mencapai banyak kemajuan di bidang demokrasi dan masyarakat kelas menengah terus bertumbuh di negara ini.Kerjasama di bidang apa saja yang akan dikembangkan?Dalam bidang pendidikan. Selandia Baru memiliki kebijakan di sektor pendidikan tinggi. Kami menyubsidi mahasiswa asing sama besar dengan dukungan kami kepada lokal. Biaya kuliah untuk program Ph.D di Selandia Baru sangat rendah dibandingkan dengan negara lainnya yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya.  Utamanya, kami unggul di bidang keperawatan dan pendidikan anak usia dini jadi sektor pendidikan dan kesehatan juga bisa dikembangkan.Di sektor energi, ekonomi Indonesia yang mencapai US$1 triliun tentu membutuhkan dukungan tenaga listrik yang besar. Ini isu yang sangat sensitif di Indonesia. Ditambah masih ada 70-80 juta orang yang belum mendapat akses listrik. Padahal negara ini punya 40% cadangan geothermal dunia. Itulah mengapa kedua negara menandatangani MoU di bidang ini.Di sektor pertanian, kami mengekspor produk yang berkualitas tinggi. Kami membutuhkan pengembangan pasar. Kami melihat pertumbuhan kelas menengah Indonesia menuntut demand yang sama besar dengan kelas menengah lain di emerging countries. Juga pertumbuhan supermarket yang meningkatkan bisnis penjualan ritel di pasar Indonesia membuka ruang ekspansi bagi Selandia Baru. Kami bergerak menuju investasi di bidang makanan, produksi produk pertanian dan peternakan, serta distribusi untuk menumbuhkan pasar.Bentuk kerjasama di bidang energi seperti apa?Kami tidak terlalu mahir di bidang konstruksi berat atau membuat mesin pembangkit tenaga geotermal. Yang kami tawarkan adalah kerjasama di bidang keilmuan dan desain. Kami salah satu yang terbaik di bidang ini. Keahlian dan desain pembangkit listrik tenaga geotermal Selandia Baru sudah diimplementasikan pada pembangkit listrik tenaga geotermal pertama di Indonesia di Kamojang. Kami juga mendidik sebagian besar ahli geotermal Indonesia di Universitas Auckland. Jadi kita akan meningkatkan banyak kerjasama di bidang ini karena banyak orang di Indonesia belum mengerti eksplorasi geotermal.Bagaimana perkembangan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Selandia Baru?Konyolnya itu sangat rendah. Menurut saya, ini sangat aneh. Faktanya, di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia hanya menjadi negara tujuan ekspor Selandia Baru terbesar ke-4, lebih kecil dari Singapura, Malaysia dan Thailand.Bagi kami, bagaimana mungkin hal ini terjadi, padahal 40% GDP Asean disumbang Indonesia, dan Indonesia bukan lagi negara miskin. Capital income-nya saja rata-rata 3 kali lipat dari Vietnam. Ini harus diubah. Menurut saya, kita sama-sama memiliki ekspektasi yang besar dari bertumbuhnya perdagangan kedua negara.  Kalau melihat impor kami dari Indonesia, didominasi oleh komoditas tradisional. Sekarang kami ingin Indonesia untuk meningkatkan nilai komoditas ekspornya.Apakah salah satu penyebabnya karena kami mengeskpor begitu banyak barang tambang mentah?Tepat sekali. Indonesia pasti ingin melakukan yang lebih baik dari sekadar mengekspor raw material. Saya percaya Indonesia bisa menemukan cara untuk meningkatkan ekspor komoditasnya jadi lebih memiliki nilai tambah, seiring dengan proses pertumbuhan ekonomi yang terus berkembang.Terkait perdagangan, bagaimana kemajuan implementasi  kesepakatan AANZFTA?Kini kita memiliki AANZFTA. Berbicara soal Indonesia ini baru dimulai beberapa pekan yang lalu, tepatnya 10 Januari tahun ini. Jadi kita belum melihat dampak apapun, ini terlalu awal. Yang jelas ini meniadakan hambatan tarif dalam perdagangan kedua negara.

Tapi kalau kita lihat pengalaman FTA Selandia Baru dengan China, sejak diberlakukan 4 tahun lalu, perdagangan kedua negara sudah berkembang lebih dari dua kali lipat. Jadi, tentu punya dampak yang sangat besar tapi bukan hanya didorong FTA, dinamika internal, pertumbuhan kelas menengah China, dan liberalisasi perdagangan juga mendorong pertumbuhan perdagangan.Proyeksi saya, hal ini juga akan terjadi pada hubungan perdagangan Indonesia dan Selandia Baru. Tapi mungkin dalam skala yang lebih kecil, karena size China 1/5 dari China, namun tetap Indonesia itu bukan negara yang kecil.Data dari BKPM, pada 2011 ada beberapa proyek investasi asal Selandia Baru, tapi realisasinya nyaris tidak ada. Bagaimana sektor investasi ini bisa dikembangkan?Itu benar. Investasi dari Selandia Baru memang sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada. Berdasarkan estimasi saya ada sekitar NZ$176 juta investasi di Indonesia, dan angka yang lebih kecil investasi Indonesia di Selandia Baru.

Kita menerima itu dan kita akan kita bangun hubungan investasi ini di masa depan. MoU kemarin itu langkah awal, dan itu saya yakin investasi akan tumbuh.Seiring kerjasama dengan Selandia Baru di bidang geotermal, saya yakin ini akan mengundang investasi besar. Meski tidak seluruhnya investasi dari Selandia Baru, tapi ini akan mengundang investasi asing.Apakah Selandia Baru mematok target perdagangan di antara dua negara?Kami pernah punya target dengan China, dari 2 tahun lalu ditargetkan berkembang 3 kali lipat pada 2015. Dan kami dijalur yang benar untuk mencapai target itu.Dengan Indonesia, kita mencoba untuk menyusun matriks yang mencakup seluruh target. Tapi ini harus disusun secara realistis meskipun tetap harus optimistis. Jadi, kita memang belum punya, tapi mulai sekarang, kita harus mulai memikirkannya. Sekarang kita punya kerja sama antar perusahaan, hubungan inilah yang itulah yang akan mengerakkan hubungan ekonomi.

Pemerintah sudah melakukan bagiannya, dengan meliberalisasi perjanjian perdagangan, menyusun kerangka kerjasama di berbagai area. Sekarang bolanya ada di tangan pelaku usaha, enterpreneur, dan swasta.China punya kontribusi besar terhadap ekonomi Selandia Baru, tetapi pemerintah sudah merevisi turun pertumbuhannya. Apakah itu mengganggu?Menurut saya, revisi turun pertumbuhan China itu justru lebih sustainable. Saya melihat China akan tumbuh 8% pada tahun depan dengan inflasi yang lebih terkendali. Dibandingkan dengan tumbuh 10% dengan inflasi tinggi, semua akan meledak pada titik tertentu.Pandangan saya ini memang agak berbeda dengan yang ada di surat kabar. Menurut saya, China melakukan hal yang benar dan saya senang mereka melakukan hal itu karena untuk jangka panjang akan lebih sustainable. (tw) 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Berita BISNIS INDONESIA hari ini: Akuisisi Danamon bikin CEMAS?

+ HARGA EMAS: Pasar masih GALAU, cuma sedikit GOYANG

+ CHERRY BELLE pecah, WENDA dan DEVI bikin duet baru

+ DAHLAN ISKAN mengintili TIGA PEREMPUAN

+ WISHNUTAMA mau buka RESTO dan bikin EO?

+ INDONESIAN IDOL 2012: DAFTAR LAGU kontes Jumat malam

+ REKOMENDASI: Mau beli SAHAM apa saja?

+ MARKET MOVING: Pupuk Indonesia Obtains Loan Facilities US$900 Million

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top