PARMAN NATAATMAJA: Pemimpin mengagumkan

Tidak banyak CEO yang mau membuka atau menutup pelatihan yang sedang dijalankan karyawannya. Dari yang tidak banyak itu muncul nama Parman Nataatmaja, CEO PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Begitulah yang terjadi ketika saya memberi pelatihan kepemimpinan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 April 2012  |  18:18 WIB

Tidak banyak CEO yang mau membuka atau menutup pelatihan yang sedang dijalankan karyawannya. Dari yang tidak banyak itu muncul nama Parman Nataatmaja, CEO PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Begitulah yang terjadi ketika saya memberi pelatihan kepemimpinan dan manajerial bagi para kepala cabang maupun manager PNM.

 

Bila tidak ada tugas yang sifatnya mendadak, Parman Nataatmaja akan membuka atau menutup pelatihan. Untuk aktivitas sederhana ini membuktikan bahwa Parman Nataatmaja peduli terhadap pengembangan karyawannya.

 

Paradigma lama berucap bahwa karyawan adalah asset paling berharga bagi perusahaan. Ternyata paradigma ini keliru. Jim Collins melalui buku spektakulernya “Good to Great” menyebut bahwa karyawan yang produktif adalah asset berharga bagi perusahaan. Sedangkan karyawan yang nir produktivitas, lemah dalam kreativitas dan tanpa semangat untuk maju, tak lain hanyalah sumber ‘penyakit’ bagi perusahaan.

 

Guna mendapat karyawan produktif dengan ide-ide cemerlang bagi kemajuan, Parman Nataatmaja tak segan berinvestasi dengan menggelar pelatihan, seminar, diskusi buku, benchmarking ke perusahaan lain hingga memberi beasiswa kepada karyawannya untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru. Investasi yang dilakukan tanpa jeda ini tak lain untuk mengantisipasi kemajuan kencang yang dihadapi oleh PNM.

 

Sebagai perusahaan pelat merah yang mendapat titah dari negara untuk menyalurkan kredit bagi pengembangan usaha kecil, menengah dan koperasi sejak 1 Juni 1999, PNM telah mengalami loncatan bisnis yang spektakuler.

 

Pada 2011, akumulasi laba yang diperoleh PNM sebesar Rp489,55 miliar. Per 2012 ini manajemen memproyeksikan PNM akan memiliki 582 kantor layanan yang tersebar di 25 provinsi dan akan terhubung secara online. Sementara unit usahanya bernama Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) yang tak lain kiat PNM untuk semakin mendekatkan diri dengan UKM untuk menyalurkan kredit sekaligus memberikan pendampingan bagi perorangan maupun lembaga, bertumbuh sangat kencang.

 

Tahun awal berdiri 2008 ULaMM hanya terkonsentrasi di Jawa Barat dan DKI Jaya dengan jumlah cabang 12. Sampai hari ini ULaMM mampu menyalurkan Rp 4,67 triliun untuk 76.790 UMK di hampir seluruh pelosok Indonesia.

 

Pertumbuhan bisnis PNM ini mau tidak mau lantaran tangan midas Parman Nataatmaja. Pria berpembawaan santun dengan gaya bicara terstruktur ini memberi warna indah bagi keberlangsungan bisnis PNM. Kepemimpinan Parman Nataatmaja mampu membawa PNM menyejajarkan diri dengan lembaga-lembaga keuangan mikro lainnya yang telah lama beroperasi di Indonesia. Kepemimpinan Parman Nataatmaja pula yang membuat karyawan PNM ingin memberikan diri terbaiknya bagi perusahaan.

 

Lima Tingkat Kepemimpinan

 

Pemikir kepemimpinan nomor wahid dunia, John Maxwell menyebut ada Lima Tingkat Kepemimpinan. Tingkat pertama bernama Posisi. Orang mengikuti sang pemimpin tak lain karena posisi pemimpin tersebut dalam struktur organisasi. Anak buah bertindak karena harus melakukan tindakan tersebut. Alhasil pengaruh sang pemimpin tidak akan melampaui batasan-batasan deskripsi pekerjaan.

 

Tingkat kedua disebut Hubungan. Orang mengikuti sang pemimpin lantaran mereka ingin melakukan tindakan itu. Tindakan anak buah sudah tidak terbatas pada deskripsi pekerjaan semata. Anak buah mengerjakan sesuatu dari pemimpin karena merasa senang dan nyaman. Hanya saja jika ini terjadi terus menerus anak buah dengan motivasi dan kreativitas tinggi akan menjadi gelisah dan berujung pada kekecewaan.

 

Tingkat ketiga dinamakan Hasil. Orang mengikuti sang pemimpin karena apa yang telah dilakukan pemimpin untuk organisasi tersebut. Hasil karya pemimpin diapresiasi anak buah. Mereka menyukai pemimpin dan apa saja yang sedang dikerjakan pemimpin. Tingkat tiga ini memberi landasan kokoh bagi sang pemimpin untuk meraih hasil optimal pada apa yang telah direncanakan.

 

Tingkat keempat berjejuluk Reproduksi. Intinya anak buah mengikuti sang pemimpin lantaran apa yang telah pemimpin lakukan untuk mereka. Komitmen pemimpin untuk memberi ruang bagi anak buah mengembangkan bakat akan berdampak pada keberhasilan organisasi dalam jangka panjang. Anak buah didesaian untuk menjadi pemimpin baru yang kelak akan mengganti sang pemimpin.

 

Tingkat paling tinggi, kelima dinamakan Respek. Anak buah mengikuti sang pemimpin karena siapa diri sang pemimpin dan apa yang pemimpin representasikan. Tingkat ini terjadi karena komitmen tanpa jeda yang dilakukan sang pemimpin untuk mengembangkan anak buah dan organisasinya.

 

Respek muncul bukan secara tiba-tiba, namun dibangun dalam waktu bertahun-tahun. Respek ini terjadi karena sang pemimpin melewati empat tingkatan kepemimpinan nyaris tanpa cela. Dalam tingkat kelima ini pemimpin layak disebut pemimpin mengagumkan.

 

Untuk konteks kepemimpinan Parman Nataatmaja dengan PNM-nya menunjukkan bahwa Parman Nataatmaja sudah melewati tingkat ketiga kepemimpinan dengan penuh apresiasi. Saat ini Parman Nataatmaja berada pada tingkat keempat dimana beliau sedang berjibaku untuk memberikan diri terbaiknya kepada seluruh karyawan dan organisasi PNM. Komitmen tinggi dari Parman Nataatmaja saat ini adalah melahirkan pemimpin-pemimpin PNM guna mengisi berbagai posisi seiring dengan pertumbuhan organisasi PNM. Dukungan penuh karyawan menjadikan penyemaian kepemimpinan di organisasi PNM berlangsung mulus dengan hanya meninggalkan sedikit goncangan.

 

Pertanyaan reflektif tak lain adalah apakah Parman Nataatmaja akan menjadi pemimpin tingkat lima dimana namanya akan tertoreh dalam tinta emas dalam keberlangsungan PNM masa depan? Akankah pergantian kepemimpinan di PNM kelak berlangsung mulus dan Parman Nataatmaja mendapat tugas dari negara untuk organisasi yang lebih besar lagi? Waktu tentu yang akan menjawab.

 

Namun berkaca pada kinerja PNM selama dinakhodai Parman Nataatmaja dan dukungan bulat dari hampir seluruh karyawan terhadap tindakan Parman Nataatmaja, tak ayal kepemimpinan tingkat lima mampu diraih Parman Nataatmaja. Parman Nataatmaja, meminjam istilah John Maxwell akan menjadi pemimpin mengagumkan.(msb)

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : A.M. Lilik Agung

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top