Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasangan Ini Sukses Produksi 7.000 Sabun Cupcakes Per Bulan

Pernikahan merupakan momentum penting dalam kehidupan seseorang. Calon pengantin pasti mempersiapkan segala kebutuhan secara matang. Selain menyiapkan gedung, makanan, hingga baju pengantin, satu hal yang tak boleh luput adalah suvenir pernikahan.Saat ini, ada beragam produk suvenir pernikahan yang dijual di pasar. Jenisnya pun beragam, mulai dari gelas, kipas, dompet koin, dan masih banyak pernak-pernik lainnya. Sebagian besar pasangan calon pengantin memilih cara praktis dengan membeli suvenir-suvenir tersebut di pasar. Selain mudah didapat, harganya juga terbilang murah.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 24 April 2014  |  11:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pernikahan merupakan momentum penting dalam kehidupan seseorang. Calon pengantin pasti mempersiapkan segala kebutuhan secara matang. Selain menyiapkan gedung, makanan, hingga baju pengantin, satu hal yang tak boleh luput adalah suvenir pernikahan.

Saat ini, ada beragam produk suvenir pernikahan yang dijual di pasar. Jenisnya pun beragam, mulai dari gelas, kipas, dompet koin, dan masih banyak pernak-pernik lainnya. Sebagian besar pasangan calon pengantin memilih cara praktis dengan membeli suvenir-suvenir tersebut di pasar. Selain mudah didapat, harganya juga terbilang murah.

Kendati demikian, ada juga pasangan yang ingin buah tangan di hari bahagia mereka berbentuk unik dan tak pasaran. Fenomena ini ternyata membuka peluang bisnis. Faktor inilah yang mendorong Angelinda Fransisca dan Daniel Tan untuk menjajaln usaha pembuatan suvenir pernikahan dengan varian unik. Di bawah bendera The Bath Box, mereka merintis bisnis ini sejak 2013.

Mereka mengaku latar belakang merintis bisnis ini karena melihat peluang di bisnis pernak-pernik pernikahan. “Suvenir adalah elemen penting dalam sebuah pesta pernikahan. Sayangnya, bentuk produk suvenir di pasaran  itu-itu saja. Makanya kami ingin tawarkan produk yang berbeda,” ujar perempuan yang akrab disapa Linda ini.

Produk berbeda yang mereka maksud adalah sabun. Namun, jangan pikir bentuk sabun yang kotak polos. Berbekal kreativitas dan imajinasi, pasangan ini berhasil membentuk cairan sabun menjadi bentuk kue yang sedang tren saat ini, yaitucupcakes.

Layaknya sebuah cupcakes, produk suvenir The Bath Box memiliki bentuk layaknya kue bolu berbentuk mangkuk di bagian bawah. Di atasnya, sabun dicetak menyerupai topping krim. Bukan itu saja, ‘kue sabun’ ini juga memiliki aroma vanilla dan coklat nan lezat. Jika sekilas melihatnya, Anda tak akan menyangka produk ini sesungguhnya tak bisa dimakan.

Namun demikian, Daniel menambahkan konsumen bisa memesan bentuk-bentuk yang mereka inginkan. “Untuk model suvenir sabun, kita menyesuaikan dengan keinginan konsumen. Selain cupcakes ada juga model hati, kue tart, atau bentuk-bentuk menarik lainnya,” ujar lulusan jurusan perhotelan ini.

Karena membidik calon pengantin, Daniel dan Linda bekerja sama dengan beberapa penyelenggara pesta pernikahan (wedding organizer). Selain itu, mereka juga memasarkan produk The Bath Box secara daring melalui situswww.thebathboxsoap.com.

Harga sabun suvenir ini dibanderol Rp30.000—Rp35.000 per buah untuk pembeli ritel. Di sisi lain, mereka membanderol harga lebih murah jika konsumen memesan dalam partai besar. Bukan itu saja, margin keuntungan yang didapat dari bisnis ini terbilang menjajikan. “Laba bersih bisa mencapai 30%—40%,” kata Linda.

Untuk produksi, Daniel dan Linda menggunakan sistem cold process. Di sistem ini, mereka memanfaatkan bahan alami yaitu minyak zaitun, minyak kelapa murni (virgin coconut oil), dan beberapa bahan lainnya.

Daniel menambahkan layaknya membuat kue, sabun juga memerlukan adonan. Setelah bahan-bahan dicampur dan dipanaskan, mereka memiliki waktu sekitar 15—20 menit untuk mencetak sabun. “Kalau lebih dari itu, sabun akan beku,” kata Daniel. Setelah tercetak, sabun dikeringkan secara alami. Prosesnya bisa memakan waktu 3—4 minggu.

The Bath Box juga tak sepenuhnya menggunakan material dalam negeri. Linda mengaku dia harus mengimpor beberapa bahan, di antaranya pewarna sabun, pengarum, dan akses glitter untuk sabun cupcakes buatannya.

Seiring berjalannya waktu, kapasitas produksi The Bath Box pun terus meningkat. Kini, pasangan ini bisa menghasilkan 7.000 batang suvenir sabun setiap bulan. Jumlah ini jauh berbeda kala mereka memulai bisnis yang hanya mampu menghasilkan ratusan sabun per bulan.

Kendati sukses meningkatkan produksi, Daniel dan Linda menghadapi kendala. Salah satunya adalah soal perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Rumitnya mengurus perizinan BPOM membuat mereka sulit memperluas pasar. “Kami perlu izin untuk masuk ke pasar ritel. Makanya, sampai saat ini kami masih menjalankan strategi dengan cara kami sendiri,” kata Linda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top