Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stephan Moebius: Awak Mercedes-Benz Jangan Lama Tinggal Di Asia

Mercedes-Benz enggan menempatkan prajuritnya terlalu lama tinggal di satu negara Asia Tenggara.
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 30 Mei 2014  |  12:48 WIB
Stephan Moebius (kiri) - www.the/marketeers.com
Stephan Moebius (kiri) - www.the/marketeers.com

Bisnis.com, JAKARTA - Transparency International (TI) selaku lembaga independen anti korupsi skala global memberikan nilai Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Indonesia cuma 32. Ini menempatkan Negeri Garuda di peringkat ke-114 negara terkorup di dunia sepanjang 2013.

Kondisi itu tak jauh beda dengan negara sekawasan seperti Vietnam dan Thailand. Ini menjadi pertimbangan Mercedes-Benz enggan menempatkan 'prajuritnya' terlalu lama tinggal di satu negara Asia Tenggara.

Hal tersebut dikemukakan Stephan Moebius yang kini menjabat direktur pemasaran kendaraan penumpang PT Mercedes-Benz Indonesia. Pria asal Jerman ini hijrah ke Indonesia tepatnya ke DKI Jakarta sekitar 2 tahun silam.

“Perusahaan punya kebijakan jangka waktu maksimum tinggal di suatu negara. Indonesia, Thailand dan Vietnam termasuk negara rentan praktik korupsi. Ini agar kami tidak sampai terpengaruh dengan local habits,” tuturnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Kendati demikian, keberadaannnya di Tanah Air dipastikan belum sampai penghujung waktu. Sebelum kemari, Moebius dan istri menetap di ibukota Negeri Gajah Putih, Bangkok. Keduanya menjalani hari-hari di Thailand selama 2007 – 2011.

Apa yang dijalani sekarang merupakan harapan yang terwujud. Pasalnya, sewaktu masih di Jerman dia beserta istri ingin merasakan hidup di banyak negara. Tak ada target negara mana yang ingin didiami, syaratnya satu, adalah wilayah yang belum banyak mereka ketahui.

“Kami belum pernah tinggal di negara Asia kecuali saat liburan. Akhirnya, setelah bicara dengan manajemen, kami berkesempatan pindah ke Thailand kemudian Indonesia,” ucap Moebius.

Menurut dia, banyak persamaan antara Bangkok dan Jakarta. Yang paling terasa adalah populasi masyarakat yang mendiami kedua kota ini. Jutaan orang mengadu nasib di ibukota membuat keduanya terasa penuh orang.

Hal lainnya adalah iklim tropis yang dimiliki sesama anggota Asean itu. Belum lagi soal karakter masyarakatnya yang dinilai jauh lebih ramah ketimbang orang-orang di daratan Eropa. Item terakhir yang disebutkan menyangkut keruwetan lalu lintas alias macet.

Di sanalah menariknya negara berkembang karena semua memang sedang bertumbuh dengan segala gejolak yang ada. Industri otomotif misalnya, Frost & Sullivan memproyeksikan market yang akan terus berkembang adalahkawasan Asia. 

Lembaga riset internasional itu memproyeksikan pasar otomotif Asia Tenggara akan tumbuh 5,8%  (compound annual growth rate/CAGR) 2012 – 2019 atau menjadi 4,71 juta pada 2019. Kondisi ini terdorong pesatnya perkembangan pasar di Indonesia dan Thailand.

Rendahnya tingkat motorisasi di kawasan Asia Tenggara menawarkan potensi pertumbuhan yang kuat bagi pasar otomotif. Asia akan tampil menggantikan pasar yang sudah jenuh lantara tingkat motorisasinya tinggi seperti Eropa Barat dan Amerika Selatan.

Inilah yang disebut Moebius sebagai paket. Ya, Indonesia dengan masyarakat, kultur, sampai kondisi perekonomiannya berada dalam suatu kemasan. “Setiap negara itu sepaket. Rakyat, karakter, pendidikan, iklim, religi, satu paket yang tak bisa dipisahkan. Semua indah apa adanya,” ujar dia.

Keunikan Indonesia utamanya terletak pada kultur dan keindahan alam. Bersama istri, dirinya senang menjelajah berbagai pelosok negeri. Pulau Jawa dan Sulawesi pernah dijejak. Mulai dari prosesi penguburan ala Tanah Toraja, silaturahmi ke suku Badui hingga menengok Borobudur, pernah dilakoni.

Traveling di Indonesia berbeda dengan suasana di Eropa. Butuh waktu lama untuk menjelah Tanah Air sedangkan Eropa bisa ditempuh seharian. Banyak wilayah yang belum sempat dikunjungi, kata Moebius, misalnya Gunung Bromo dan Danau Toba.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mercedes benz
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top