Menginspirasi Lewat Aksi

Muntaka, pria berumur 21 tahun kelahiran Indramayu menceritakan kisahnya dalam video singkat berdurasi 3 menit berjudul A Scavenger Journey to University. Dalam video tersebut, dia menceritakan kisahnya pindah dari Indramayu ke Jakarta dan ikut bekerja sebagai pemulung bersama ayah ibunya.
Agnes Savithri | 30 Juni 2014 13:52 WIB

Muntaka, pria berumur 21 tahun kelahiran Indramayu menceritakan kisahnya dalam video singkat berdurasi 3 menit berjudul A Scavenger Journey to University. Dalam video tersebut, dia menceritakan kisahnya pindah dari Indramayu ke Jakarta dan ikut bekerja sebagai pemulung bersama ayah ibunya.

Ketika dia sedang memulung, secara tidak sengaja melihat pengumuman mengenai sebuah rumah belajar bernama Rumah Mekanik. Muntaka tertarik dan mendatangi langsung rumah belajar tersebut.

Dia kemudian bergabung masuk menjadi salah satu murid di Rumah Mekanik tersebut. Dikisahkan pada pagi hari Muntaka memulung, dan siang hari dia belajar di rumah belajar tersebut. Kerja keras dan kegigihan Muntaka tidak sia-sia. Ia berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik, dan sekarang sedang melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yakni universitas.

Di akhir video, Muntaka mengingatkan untuk semua orang yang memiliki mimpi agar tidak mudah menyerah dan terus berusaha. Dia pun mengucapkan terimakasih kepada Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) pemilik dari Rumah Mekanik.

YCAB memiliki banyak program yang membantu mewujudkan mimpi anak-anak yang kurang mampu, salah satunya dari Rumah Mekanik. Veronica Colondam, CEO sekaligus founder dari YCAB merupakan sosok yang memiliki andil besar dalam program yayasan tersebut.

YCAB merupakan yayasan sosial non-profit yang berkecimpung di bidang kesehatan dan pendidikan yang memiliki tiga pilar yakni Healthy Lifestyle Promotion  (HeLP), House of Learning and Development (HoLD) dan Hands-on Operation for Entrepreneurship (HopE). Tidak hanya itu, YCAB merupakan hasil dari perjalanan spritual seorang Veronica Colondam.

“Saya berumur 26 tahun saat itu, dan tiba-tiba seperti ada yang memukul saya,” tutur Veronica.

Dalam umur 26 tahun itu, Veronica yang akrab dipanggil Vera ini mulai mempertanyakan bagaimana cara dia dalam memaknai hidup. Apa yang harus dia lakukan? Itulah yang menuntunnya mendirikan YCAB di tahun 1999.

Menurutnya, berkecimpung dalam dunia sosial seperti sekarang ini merupakan panggilan hidupnya. Dia menceritakan bahwa semua orang akan masuk ke dalam fase pertanyaan apa yang sudah dia lakukan selama hidupnya untuk orang lain. Dia ingin melakukan sesuatu hal yang tidak hanya berdampak bagi dirinya, namun tentunya berdampak positif untuk orang banyak.

Ibu tiga anak ini, menjelaskan bahwa kebanyakan orang akan mengalami pertanyaan seperti itu dalam hidupnya. Namun tentunya datang di umur yang berbeda-beda, untuknya kebetulan datang di umur 26 tahun, dimana dia merasa masih memiliki tenaga untuk melakukan banyak hal.

Vera menyebutkan ini merupakan aktualisasi diri. Semua orang memilikinya dan menanggapi hal ini dengan respon yang berbeda-beda, jelasnya. Ada yang menanggapinya dengan langsung berbuat sesuatu yang besar untuk orang banyak.

Ada yang hanya bertanya apa yang harus dilakukan tanpa berbuat apa-apa. Adapula yang memberikan jawaban dengan memberikan beberapa materi dan menganggap sudah cukup dan selesai.

Vera tidak menyalahkan cara orang-orang ini tentunya, karena mereka semua punya cara  masing-masing ketika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan hidup. Sedangkan dia sendiri merasa harus terjun langsung ikut dalam melakukan sesuatu.

Dia memandang hal ini berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan orang masing-masing. Dalam membantu orang  dalam kegiatan yayasan pun, dia merasa harus mengetahui jelas apa yang dibutuhkan orang tersebut. Tidak bisa hanya dengan gambaran pribadi mengenai apa yang dibutuhkan banyak orang.

“Orang-orang yang tinggal di pinggir rel ketika kita melihat rumahnya, kita merasa kasian dan sedih. Tapi ketika ditanya langsung kepada mereka, mereka menjawab bahagia dan tidak mau pindah. Beberapa diantaranya bahkan sudah tinggal 2-3 generasi di situ,” tutur Veronica saat ditemui di kantornya di daerah Jakarta Barat.

Itulah mengapa dia menjelaskan perlunya mengetahui betul apa yang dibutuhkan seseorang, bukan hanya sebuah perkiraan saja. Mungkin hal ini juga bisa diterapkan oleh para pemimpin nantinya. Agar memperhatikan apa kebutuhan masyarakatnya dengan jelas, bukan hanya memperkirakan.

Berbicara mengenai Jakarta, Veronica menceritakan banyak hal yang harus diubah dari Jakarta, kota tempat dia tumbuh dewasa. Namun adapula yang sudah lekat dengan keadaan Jakarta yang tidak mungkin diubah, misalnya udara panas Jakarta.

Dia menceritakan karena Jakarta yang panas, sehingga membuat dia dan keluarga jika berlibur berusaha mencari kota yang dingin. Salah satunya adalah Inggris. Negara ini bukan menjadi destinasi favorit ketika berlibur namun karena familiar dengan negara tersebut, hingga akhirnya sering kembali ke sana lagi.

Namun, bagaimana pun keadaan Jakarta, Veronica beranggapan hal tersebut sudah menjadi satu paket yang tidak terpisahkan, dan tentunya tidak mudah untuk mengubahnya. Jakarta dengan udaranya yang panas, banjir dan macet.

Tidak hanya ketiga hal itu saja, kesejahteraan saat ini menjadi masalah utama yang harus diperhatikan. Menurutnya kesejahteraan menjadi ujung pangkal sebuah siklus yang harus diperbaiki. Tidak hanya masalah pendidikan saja.

“Kita tidak dapat menyelesaikan sebuah masalah dengan melihat hanya kepada masalah itu sendiri. Kita menjadi terisolasi masalah itu sendiri. Misalnya masalah kemiskinan, kita tidak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan hanya dengan pendidikan saja,” cerita Veronica.

Pendidikan tentunya menjadi aspek yang penting, namun permasalahan tidak berhenti saat orang mendapatkan pendidikan saja. Pendidikan itu tidak akan cukup kalau tidak disertai dengan pekerjaan yang memadai.

Menjadi permasalah disini adalah kemiskinan kesempatan bagi anak-anak yang kurang mampu. Jika anak tersebut tidak diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, bagaimana anak tersebut memiliki wawasan. Sedangkan wawasan sendiri merupakan akar dari sebuah mimpi, mimpi menjadi acuan apa yang akan anak tersebut capai. Ini menjadikannya menjadi sebuah satu kesatuan.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat seseorang menjadi sejahtera.

“Untuk kesejahteraan dia harus sehat, setelah sehat dia harus memiliki pendidikan, setelah pendidikan dia harus memiliki kesempatan, setelah itu dia harus memiliki kemampuan ekonomi untuk keluarganya agar menjadi sejahtera. Ini merupakan siklus, yang tentunya di setiap siklusnya memiliki seni yang tersendiri,” tutur Veronica.

Semua siklus ini tentunya dibutuhkan keikhlasan dalam bekerja, karena dengan keikhlasan Veronica beranggapan dunia bisa menjadi tempat yang lebih nyaman. Terutama di bidang yayasan sosial, keikhlasan menjadi salah satu aspek yang penting.

Tag : tokoh
Editor : Taufik Wisastra

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top