Menikmati Makanan Serba Jamur di Rumah Makan Saung Jamur

Keunggulan jamur yang bisa dengan mudah diracik menjadi berbagai menu makanan juga menginspirasi Tririan Arianto untuk membuat sebuah warung makan yang khusus menyajikan menu serba jamjr
Nenden Sekar Arum | 17 Maret 2015 10:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Keunggulan jamur yang bisa dengan mudah diracik menjadi berbagai menu makanan juga menginspirasi Tririan Arianto untuk membuah sebuah warung makan yang khusus menyajikan menu serba jamur.

Idenya tersebut kemudian direalisasikan sejak 2010 dengan nama Saung Jamur yang berdiri di Surabaya, dan sekarang sudah memiliki dua cabang di Sidoarjo dan Gresik, Jawa Timur.

“Awalnya cuma buat outlet kecil-kecilan yang menjual jamur crispy, kemudian saya lihat peminat terhadap produk-produk jamur terus meningkat sehingga saya berani untuk total dalam bisnis jamu,” katanya.

Dia pun menggelontorkan modal sebesar Rp15 juta untuk sewa tempat dan menyediakan berbagai perlengkapan dan bahan baku lainnya.

Berawal hanya menyajikan beberapa menu masakan jamur yang sederhana, secara perlahan inovasi resep pun terus dilakukan hingga saat ini Saung Jamur bisa menyediakan belasa menu masakan jamur, seperti nasi jamur penyet, steak jamur hotplate, burger roti jamur, kebab jamur, sate jamur spesial dan jamur omelette.

Harga yang ditawarkan tiap menu tersebut juga relatif terjangkau, dengan kisaran harga Rp6.000 hingga Rp15.000. “Harga jual kami sesuaikan dengan target konsumen pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Warung yang beroperasi sejak pukul 10.00 WIB – 21.00 WIB itu tiap harinya bisa menjual sekitar 40-50 porsi menu jamur, dengan margin keuntungan setiap menunya rata-rata 50%.

Selain menjualan menu makanan jadi di warungnya tersebut, Tririan juga memproduksi olahan jamur dalam bentuk makanan beku. Misalnya, empal jamur frozen, bakso urat jamur, dan kebab jamur.

Untuk menikmati makanan beku yang dibanderol pada kisaran harga Rp10.000-Rp35.000 per kemasan, konsumen cukup memanaskan olahan jamur tersebut dan memasaknya sesuai dengan selera.

“Dalam sebulan kami bisa memproduksi hingga 300 kemasakan olahan jamur beku, jumlah tersebut masih sangat kecil dan belum bisa melayani seluruh permintaan online,” katanya.

Di sisi lain, Saung Jamu juga belum lama ini mengeluarkan inovasi produk terbarunya, yakni daging analog yang merupakan jamur yang diolah khusus menyerupai dagin sapi, sehingga cocok untuk dihidangkan dengan resep olahan daging.

“Banyak yang memesan daging analog khususnya pengelola katering, biasanya digunakan sebagai campuran hidangan daging supaya lebih murah,” katanya.

Di samping menjual langsung produknya di rumah makan yang dimilikinya, Tririan juga memasarkan makanan olahan jamurnya tersebut melalui websitesaungjamur.com dan saung-jamur.com.

Selain itu, dia juga memanfaatkan para agen dan reseller yang sering datang mengambil produk di tempatnya dan menjualnya lagi di berbagai tempat.

Sebagai bentuk pengembangan bisnis ke depannya, Tririan juga tengah mengembangkan sistem pelatihan bisnis jamur dengan investasi senilai Rp15 juta. Tiap peserta pelatihan akan diberikan materi awal terkait bisnis jamur, serta dibantu untuk membangun bisnis dari awal.

Dia juga menjual tutorial resep produk olahan jamur dengan konsep video dan buku yang bisa dibeli oleh siapa saja. Video tutorial tersebut dihargai Rp300.000-Rp400.000, tergantung dari menu apa saja yang diinginkan konsumen.

“Karena banyak yang bertanya bagaimana caranya membangun dan memulai bisnis jamur, maka saya coba bantu mereka dengan konsep pelatihan dan tutorial,” katanya.

Tririan optimistis bisnis dalam pengolahan jamur ini masih akan terus berkembang di masa depan, seiring dengan semakin meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan jamur dicap sebagai makanan sehat bebas lemak.

Tag : peluang usaha, bisnis kuliner
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top