Berawal dari Jualan di Depan Rumah, Rempeyek Ilham Kini Kuasai Pasar Modern

Selain dengan menggoreng dan membuat sambal ikan teri, ada banyak cara untuk mengolah ikan teri seperti menjadikannya rempeyek. Ikan teri dibuat menjadi penganan yang diolah dengan tepung lalu digoreng pipih. Rempeyek termasuk makanan yang sudah cukup populer bagi masyakarakat Indonesia sehingga tidak sulit untuk memasarkan produk ini.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 02 September 2015  |  10:30 WIB
Berawal dari Jualan di Depan Rumah, Rempeyek Ilham Kini Kuasai Pasar Modern
Rempeyek - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Selain dengan menggoreng dan membuat sambal ikan teri, ada banyak cara untuk mengolah ikan teri seperti menjadikannya rempeyek. Ikan teri dibuat menjadi penganan yang diolah dengan tepung lalu digoreng pipih.

Rempeyek termasuk makanan yang sudah cukup populer bagi masyakarakat Indonesia sehingga tidak sulit untuk memasarkan produk ini.

Ide bisnis ini sukses dilakoni Zaitun, juragan rempeyek dengan merek “Ilham’ yang berpusat di Jambi.

Perempuan kelahiran Bangka Belitung, 29 Oktober 1972 ini mengawali usahanya dengan berjualan secara kecil-kecilan di depan rumahnya pada 2004.

Zaitun membuat rempeyek dengan resep sendiri berbekal modal Rp100.000 untuk membeli tepung, telur dan bahan lainnya seperti kacang dan udang.

Mulai awal 2015, setelah dia mengantongi izin industri rumah tangga, Zaitun langsung berekspansi. Dia mulai masuk ke pasar-pasar modern seperti ke minimarket hingga ke beberapa mall yang ada di Jambi.

“Variasi produknya juga saya tambah, dulunya hanya pakai bumbu sumatera, tetapi sekarang ada rempeyek bumbu jawa dengan  bahan dari udang, kacang dan ikan teri. Bentuknya ada yang bulat ada yang keriting,” katanya.

Dia juga memproduksi varian rempeyek untuk vegetarian dari bahan sawi, kentang, tempe, dan kacang hijau.

“Yang paling banyak dicari orang rempeyek teri dan kacang tanah yang pakai bumbu sumatera,” tuturnya.

Untuk rempeyek ikan teri, Zaitun memakai ikan teri nasi dan juga teri pulau atau teri belah. Bahan bakunya dia dapatkan dengan mudah dari supplier besar yang ada di daerahnya.

Dalam sehari, Zaitun dibantu 13 orang karyawannya mampu memproduksi sekitar 800 bungkus Rempeyek Ilham dengan menghabiskan 50 kilogram tepung beras.

Harga produknya dibanderol berbeda-beda sesuai dengan bahan yang digunakan. Rempeyek kacang dan ikan teri dijual Rp7.300-Rp7.500 per kemasan 150 gram. Adapun rempeyek dari bahan tempe dibanderol Rp9.500 per kemasan.

Untuk kemasan yang lebih besar, dijual Rp35.500 per setengah kilogram. Dia kerja sama dengan lebih dari 30 toko di Jambi untuk distrisbusi rempeyek.

Selain itu, Zaitun juga membuat kemasan rempeyek lain yang ukurannya lebih kecil dan tanpa label dengan harga Rp4.000 per bungkus. Rempeyek ini dijual secara eceran ke kantor-kantor oleh pegawainya.

“Kalau membeli dalam jumlah besar, harganya bisa jauh lebih murah mejadi Rp7.000 untuk bahan tempe dan Rp6.000 untuk rempeyek biasa,” tuturnya.

Zaitun mampu mengantongi laba bersih 35% dari omzet kotor yang mencapai Rp90 juta per bulan.  

Ibu empat anak ini sejak awal membranding produknya sebagai oleh-oleh khas. Banyak konsumennya yang datang ke workshop sekaligus tokonya yang ada di Jalan Teladan nomor 58, Payolebar, Jelutung, Jambi, untuk membeli rempeyek yang akan dibawa ke luar kota.

Dia juga menerima pesanan dari dinas-dinas dan perkantoran di wilayah Jambi yang menjadikan rempeyek Ilham sebagai souvenir.

Saat ini Zaitun masih berfokus untuk menggarap pasar di kota Jambi dan kabupaten sekitarnya. Dia belum berpikir untuk memasuki pasar nasional kendati sudah beberapa kali menerima tawaran kerja sama dari peritel besar yang ada di Jakarta.

Permintaan dari konsumen di berbagai kota di pulau Jawa juga kerap datang tetapi  jarang bisa dia penuhi.

Dia beralasan pengiriman ke luar kota cukup sulit dilakukan karena rempeyek tergolong mudah remuk jika kena benturan. Sementara jika dikirim lewat ekspedisi, biayanya lumayan mahal.

Alasan lainnya enggan mengirim ke luar kota karena ia pernah tertipu ketika meladeni permintaan konsumen yang tidak membayar uangnya.

“Karena itu saya sebenarnya tidak mau lagi kirim ke luar kota, tetapi kalau ada yang ngotot ingin membeli ya harus kirim uangnya dulu baru saya kirim barang,” katanya.

Untuk ekspansi ke luar kota, menurutnya memang akan lebih baik jika dilakukan dengan skema buka cabang. Apalagi bahan baku pembuatan rempeyek juga mudah ditemukan di tiap daerah di Indonesia.

Dalam waktu dekat, Zaitun sedang merancang untuk membuka cabang Rempeyek Ilham di kota Pekanbaru. “Saya mau cover di daerah Sumatera dulu saja,” kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peluang usaha

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top