Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ayam Bikini Hadirkan Olahan Daging dengan Resep Nusantara

Pasar ayam frozen masih terbuka luas. Hal ini dibuktikan sendiri oleh pasangan suami istri Wisnu Harry Wibowo (29 tahun) dan Sufiany Nasrullah (30 tahun) yang berdomisili di Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 20 Oktober 2015  |  09:22 WIB
Ayam bikini - twitter
Ayam bikini - twitter
Bisnis.com, JAKARTA -- Pasar ayam frozen masih terbuka luas. Hal ini dibuktikan sendiri oleh pasangan suami istri Wisnu Harry Wibowo (29 tahun) dan Sufiany Nasrullah (30 tahun) yang berdomisili di Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan.
 
Pasangan ini sejak setahun terakhir memproduksi ayam frozen yang sudah diungkep dengan merek Ayam Bikini, singkatan dari bikin kita nikmat. Konsep bisnis Ayam Bikini yakni mengangkat berbagai resep olahan ayam yang ada di Tanah Air.
 
Ayam Bikini ini terbentuk dari latar belakang saya sebagai pecinta kuliner khas daerah. Saya berinisiatif membuat olahan ayam dengan dengan mengangkat kekhasan daerah, dengan tujuannya agar orang bisa mendapatkan kuliner tersebut tanpa harus ke daerah asal, tutur Sufiany yang biasa disapa Uphy.
 
Dia memiliki visi untuk mengedukasi masyarakat tentang ayam frozen. Penggunaan bahan daging ayam beku dipilih karena berbagai alasan yakni lebih murah dan lebih hiegenis dibandingkan ayam fresh.
 
Usaha awal Uphy dan suaminya memang bergerak bidang pemasaran ayam frozen yang sudah digeluti sejak 2013. Belakangan mereka terpikir untuk mengembangkan produk agar konsumen mempunyai pilihan baru.
 
Jika biasanya ayam beku dijual dalam kondisi mentah, kali ini dia menjual daging ayam beku yang sudah matang dan dalam kemasan. Bahan daging ayam beku tersebut ditambahkan racikan bumbu-bumbu segar yang diblender sendiri lalu dimasak dengan cara diungkep.
 
Setelah matang, daging ayam tersebut kembali dikemas secara vakum lalu dibekukan. Di dalam kemasan box Ayam Bikini juga dilengkapi dengan sambal siap saji. Konsumen tinggal menggoreng atau membakarnya kembali, disesuaikan dengan selera masing-masing.
 
Ini sangat praktis dan cocok bagi orang-orang yang sangat sibuk tetapi masih ingin menikmati makanan yang enak dan sehat, kata dia.
 
Dari Ayam Bugis Hot Hingga Ayam Pop
 
Hingga saat ini ada lima varian rasa yang sudah diluncurkan Ayam Bikini, yakni ayam bugis hot, ayam kalasan, ayam taliwang, ayam lengkuas, ayam pop. Dari semua jenis rasa tersebut, yang paling digemari pasar yakni ayam kalasan dan ayam taliwang.
 
Dengan menyediakan berbagai macam varian rasa, pasar Ayam Bikini semakin meluas dan telah merambah berbagai daerah seperti Padang, Medan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Blitar, Surabay, Lombok, dan Makassar.
 
Adapun segmen konsumennya mulai dari kalangan pasangan yang baru menikah, mahasiswa di kost atau asrama, pegawai kantoran, hingga karyawan pabrik.
 
Selain segmen tersebut, Wisnu juga sedang mem-branding produknya sebagai olahan praktis yang dapat dijadikan oleh-oleh ataupun dibawa jadi bekal saat bertamasya.
 
Ayam Bikini cocok juga dibawa travelling dengan memasukkannya ke dalam ice box. Ayam yang sudah setengah jadi itu divakum dalam kondisi kering sehingga bisa tahan 1-2 bulan di freezer atau seminggu jika diletakkan di suhu ruang 22-24 C, tambah Wisnu.
 
Permintaan konsumen yang terus meningkat juga membuat kapasitas produksi Ayam Bikini terus bertambah. Saat ini dapur produksinya mengolah minimal 60 kemasan Ayam Bikini dalam sehari. Jika sedang ada pameran atau event, jumlahnya bisa dua kali lipat.
 
Satu kemasan vakum ayam berisi satu ekor ayam yang dipotong enam dengan bobot 600 gram700 gram. Seluruh bagian daging ayam ikut diungkep dan divakum, kecuali kepala, ceker dan jeroan.
 
Setiap minggu, rata-rata produk yang terjual mencapai 500 pack. Penjualan tersebut belum termasuk omzet penjualan dari event atau pameran yang biasanya diikuti Ayam Bikini minimal sekali dalam seminggu.
 
Dengan membanderol harga jual eceran Rp37.500, Wisnu dan Uphy dapat mengantongi margin laba 25%--30%.
 
Bidik Pasar Domestik dan Ekspor
 
Wisnu memandang bisnis ayam frozen siap saji saat ini masih sangat prospektif. Apalagi persaingan belum terlalu ketat. Pelaku usaha yang lain masih bermain di segmen menengah atas dengan harga yang lebih tinggi dan variasi rasa tidak terlalu banyak.
 
Dari sisi konsumen, dia juga menilai pasarnya yang tergarap saat ini belum optimal. Kendati sudah mulai mengirimkan produknya ke luar kota, menurutnya sejauh ini pasar yang bisa digarap masih sebatas area Jabodetabek, padahal permintaan dari daerah lain juga tinggi. Kendalanya biaya ongkos kirim ke luar kota sangat tinggi.
 
Dari segi produk, menurut Wisnu masih banyak pengembangan yang dapat dilakukan. Ke depannya ingin meluncurkan varian baru berupa ayam saus tiram serta membuat lunch box dari bahan Ayam Bikini.
 
Dia tidak segan-segan terus menambahkan modal demi melakukan riset dan pengembangan produk. Hingga saat ini, modal yang dia tanamkan sudah mencapai Rp50 juta untuk membeli aset-aset berupa peralatan seperti mesin vakum, freezer dan alat presto.
 
Target kami berikutnya ikut pameran bersama Kemnterian Koperasi dan UKM ke Korea pada November mendatang, mudah-mudahan lewat pameran ini nantinya bisa masuk ke pasar internasional. Tapi sebelum itu, target jangka pendek kami untuk menggarap pasar di Pulau Jawa, tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ayam
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top