Mencicipi Minuman Herbal Fermentasi dari Olahan Bambu

Pengolahan bambu tidak hanya dalam bentuk kerajinan atau produk furnitur. Inovasi lain yang juga berkembang dari bambu adalah dalam bentuk kuliner. Contohnya, sejak dulu rebung atau anak buluh atau bakal batang yang masih muda sudah sering dijadikan sebagai bahan masakan sayur dan belakangan ada yang mengolahnya menjadi keripik.
Ropesta Sitorus | 10 Januari 2016 22:39 WIB
Bambu

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengolahan bambu tidak hanya dalam bentuk kerajinan atau produk furnitur. Inovasi lain yang juga berkembang dari bambu adalah dalam bentuk kuliner.

Contohnya, sejak dulu rebung atau anak buluh atau bakal batang yang masih muda sudah sering dijadikan sebagai bahan masakan sayur dan belakangan ada yang mengolahnya menjadi keripik.

Inovasi lain dari olahan bambu adalah dalam bidang kuliner adalah pembuatan minuman herbal seperti yang dilakukan oleh Luky Mardiana.

Pria 37 tahun yang tinggal di Batujajar, Bandung,  ini mengolah minuman dari bambu dengan sistem fermentasi sejak 2009. Minuman tersebut diklaimnya memiliki khasiat sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Cara pembuatan obat tersebut yakni dengan memfermentasikan bambu dengan bantuan mikroba khusus. Luky menggunakan semua bagian bambu, mulai dari akar, batak hingga daunnya. Bambu yang digunakannya pun tidak spesifik jenis tertentu saja, melainkan semua jenis bambu.

“Sebenarnya resep ini termasuk resep tradisional. Basisnya saya dapat dari kakek saya yang merupakan seorang mantri dan sering mengobati pasiennya dengan ramuan herbal. Akan tetapi sekarang saya kembangkan lagi dengan meneliti mikrobanya,” tuturnya.

Luky berharap minuman herbal tersebut dapat populer di masa depan. Hal ini menurutny tidak mustahil dan bahkan sudah dilakukan oleh Jepang yang mengembangkan memfermentasikan susu dengan mikroba khusus sehingga terciptalah minuman seperti Yakult.

Dia menggabungkan mikroba temuannya dengan berbagai jenis rempah-rempah Nusantara. Saat ini, selain bambu, ada sekitar 109 jenis dedaunan yang dimanfaatkan Luky.

Rempah-rempah tersebut ditemukannya dari kawasan Jawa Barat serta dari daerah lain di Indonesia seperti dari Kalimantan.

Kolaborasi antara mikroba dengan daun rempah tersebut menghasilkan minuman fermentasi yang memiliki kandungan CO2. Minuman ini diklaimnya memiliki khasiat menyehatkan tubuh lantaran fungsinya yang mampu melancarkan peredaran darah saat dikonsumsi.

“Dengan mengkonsumsi secara teratur tiga kali sehari selama 40 hari berturut, maka efeknya akan mampu mempermuda umur biologis seseorang hingga 20 tahun. Peredaran darah yang semakin lancar merangsang regenerasi sel sehingga otomatis segala penyakit akan hilang,” jelasnya.

Luky telah memulai penelitian pembuatan minuman dari bahan bambu ini sejak 2009. Setelah sempat vakum beberapa  waktu, dia kembali memulainya dengan skala yang lebih besar pada awal 2015.

Dari 12 jenis produk, ada 6 jenis yang rutin diproduksi setiap bulan, antara lain minuman untuk regenerasi sel, minuman untuk melangsingkan, minuman untuk penyakit kronis, minuman untuk meningkatkan stamina, dan minuman untuk meningkatkan keperkasaan.

Saat ini, dia memproduksi sekitar 5.000 botol minuman herbal setiap bulan. Kemasan botol ukuran 500 ml itu dipasarkan dengan sistem keagenan di sekitar Bandung.

Luky memiliki 14 agen atau stokist yang menjadi perpanjangan tangannya dalam melakukan pemasaran. Para agen tersebut dapat menggunakan merek mereka sendiri untuk menjual minuman tersebut. 

Satu botol minumannya herbal tersebut dijual dengan harga Rp150.000 untuk end user. Akan tetapi, jika membeli dengan sistem keagenan atau distributor, dia memberikan potongan harga yang cukup besar yakni Rp75.000 untuk distributor dan Rp100.000 untuk agen.

Jumlah pembelian untuk distributor dipatok minimal 100 botol, di mana semua biaya dibayar di muka. Sementara seorang agen wajib membeli minimal 100 botol dengan sistem pembayaran menggunakan deposit.

Adapun, pemasarannya saat ini masih mencakup Bandung dan daerah lain di Jawa Barat seperti Garut, Cirebon, dan Sumedang.

Lulusan Manajemen Komunikasi Unpad dan Sarjana Filsafat dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menuturkan dia berharap bisa terus mengembangkan produk minuman herbal dari bahan bambu tersebut.

Dia belum melakukan promosi besar-besaran karena masih menunggu perizinan dari BPOM. Dia juga mengaku masih sedang dalam proses mendapatkan perizinan lain seperti izin IRT dan Depkes.

“Di Indonesia memang proses mendapatkan izin untuk minuman fermentasi lumayan sulit. Semoga pemerintah mampu mempermudah agar minuman ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat luas. Ini adalah bentuk pengobatan back to nature di tengah kondisi global di mana kita masih bergantung pada obat-obat kimia,” tuturnya.

Tag : peluang usaha
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top