HEMANT BAKSHI: Kala Susah, Ilmu Justru Berlimpah

Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. sukses menahkodai perusahaan di tengah gelombang pelemahan ekonomi sepanjang tahun lalu.
Destyananda Helen | 02 Maret 2016 11:55 WIB
Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. sukses menahkodai perusahaan di tengah gelombang pelemahan ekonomi sepanjang tahun lalu.

Emiten berkode saham UNVR itu membuktikan kemampuan defensif sehingga terus menjadi pemimpin di industrinya. Bisnis berkesempatan mewawancarai pria asal India itu untuk menggali strateginya dan arah bisnis perseroan ke depan. Berikut petikannya.

Anda telah berkarir di Unilever India sejak 1989 hingga 2014, kemudian memimpin perusahaan ini di Indonesia. Apa tantangannya?

Indonesia merupakan negara dengan konsumen yang besar dan akan terus tumbuh. Bahkan, di tengah ekonomi yang terkoreksi, pasar ini terus berkembang.

Itu artinya negara ini diberkati dengan pasar besar yang juga memiliki potensi besar. Lihat saja, Indonesia memiliki generasi muda yang besar dan terus berkembang. Ini market yang sangat menarik. Jadi, mengapa tak mau ke Indonesia?

Sepanjang karir Anda di India, adakah persamaan antara konsumen di luar sana dan di Indonesia?

Di India dan Indonesia, konsumen utama kami yakni istri dan ibu rumah tangga. Kami membidik dua kelompok ini karena mereka ingin yang terbaik dan rela melakukan apapun untuk keluarga mereka. Baik di India maupun di Indonesia, motivasi dan keinginan dasar mereka hampir sama.

Selama lebih dari 25 tahun Anda berkarier, tentu ada masa suka dan duka. Bagaimana Anda berdamai dengan masa-masa tersebut?

Selalu ada masa susah dan senang. Namun, sepanjang karir saya, saya menemukan bahwa ada lebih banyak ilmu di masa susah dibandingkan pada masa senang.

Bahkan, menurut saya, tidak apa-apa melakukan kesalahan, karena seseorang harus mau ambil risiko dan kesempatan dalam hidupnya. Tapi, yang terpenting, tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tahun lalu menjadi masa yang menantang bagi pebisnis di Tanah Air, bagaimana Anda membawa perusahaan bisa keluar dengan baik dari masa-masa tersebut?

Kami merupakan perusahaan yang memiliki track record bagus. Beberapa tahun lalu, kami pernah mencatatkan pertumbuhan pendapatan double digit dan profit pun tetap kompetitif. Pada 2015 memang menantang, tapi saya lebih tertarik dengan masa depan perusahaan. Kami memiliki target akan membuat bisnis kami tumbuh dua kali lipat. Sembari menuju target tersebut, kami ingin dampak perusahaan ke lingkungan dan sosial pun makin besar.

Visi kami yakni untuk memiliki cinta dan respek dari setiap orang Indonesia, setiap harinya. Itu merupakan visi yang inspiratif tapi juga sangat menantang. Menantang karena untuk capai target itu, kami harus tetap tumbuh berkelanjutan dan tumbuh dekat dengan konsumer.

Bagaimana caranya agar bisa lebih dekat dengan konsumen?

Ini hanya masalah pola pikir. Jadi, setiap kali ingin mengambil keputusan, kami selalu bertanya bagaimana dampak keputusan tersebut bagi konsumen dan apa keuntungan yang bisa konsumen dapatkan.

Caranya mudah, orang di sekitar saya adalah konsumen, termasuk istri saya. Saya akan menanyakan pendapat istri saya atau memperhatikan keputusan istri saya atas produk kami. Itu salah satu cara saya tetap fokus ke konsumen.

Beberapa perusahaan ritel berskala global menginvestasikan dana yang besar agar bisa memiliki basis data konsumen. Apakah perusahaan yang Anda pimpin juga melakukan hal yang sama?

Kami memang memiliki banyak informasi tentang konsumen kami. Kami perlu mengelola database ini untuk kemajuan perusahaan. Kami tak berbicara apakah investasi tersebut besar atau tidak, tapi kami lebih melihat apa yang akan kami peroleh dari investasi tersebut. Karena kami melihat di masa sekarang ini, kalau kami lakukan pemasaran secara luas, dampaknya minim. Tapi jika pemasaran dilakukan untuk targeted segment, itu jauh lebih efektif.

Sudah satu bulan berlalu pada 2016, apakah tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu?

Terlalu dini bagi kami untuk menilai. Kami masih ingin melihat bagaimana kondisi ekonomi berlangsung pada tahun ini. Kami memang memiliki pandangan bahwa mulai ada perubahan positif pada kondisi ekonomi. Namun, kami memutuskan untuk menunggu realisasi hingga akhir kuartal pertama untuk melihat gambaran keseluruhan.

Indeks keyakinan konsumen sudah mulai naik sejak dua bulan terakhir pada tahun lalu dan berlangsung hingga awal tahun ini. Anda belum lihat dampak signifikan ke penjualan Unilever?

Konsumen Indonesia memang sangat optimis. Saya pikir memang tahun ini masyarakat Indonesia akan lebih banyak menggunakan uangnya untuk berbelanja. Sebab, tahun lalu mereka sudah jalani tahun yang berat dan tahun ini akan mulai kembali berbelanja.

Seperti apa strategi bisnis dan aksi ekspansi Unilever tahun ini?

Tahun ini kami masih menggunakan strategi yang sama dengan tahun lalu. Misalnya, inovasi yang kami lakukan tahun ini, sama dengan tahun lalu. Tahun lalu kami meluncurkan produk dan mengemas ulang sekitar 40 produk, begitupun pada 2016. Belanja modal tahun lalu senilai Rp1,2 triliun dan tahun ini akan berada di level yang sama. Tahun lalu kami pakai belanja modal itu untuk inovasi produk serta pembangunan dan peningkatan kapasitas pabrik.

Adakah rencana membangun pabrik baru?

Kami akan terus meningkatkan kapasitas kami. Apakah itu menambah kapasitas pabrik yang sudah ada atau membangun pabrik baru, nanti akan kami lihat lagi tergantung kondisi ekonomi tahun ini.

Bagaimana Anda menyeimbangkan kehidupan antara bekerja dan keluarga?

Saya termasuk orang yang cukup mudah untuk mengganti fokus. Jika di rumah, saya tak pernah membawa beban pekerjaan ke rumah.
Saya juga beruntung memiliki istri yang menyukai banyak aktivitas dan olahraga, sehingga saya ikut terbawa. Itu yang membuat saya lebih bisa membagi waktu dan energi.

Anda disebutkan akan pensiun dalam beberapa tahun lagi, bagaimana Anda menyiapkan regenerasi?

Ya, dalam hitungan beberapa tahun lagi saya akan pensiun. Saya sendiri menilai kandidat yang tepat untuk perusahaan ini yakni dari dalam negeri, bukan dari luar Indonesia. Mengapa? Karena saya melihat perusahaan ini sebagai perusahaan Indonesia, bukan perusahaan asing.

Sehingga, kandidat dari asal Indonesia merupakan sosok yang tepat. Namun, perlu diingat sosok itu mesti memiliki keterampilan memadai dengan kapasitas internasional. Sebab, Indonesia akan mengglobal sehingga kandidat ini harus memiliki kemampuan memimpin perusahaan ke level selanjutnya.

Apa yang akan Anda lakukan setelah pensiun dari Unilever?

Saya sangat menyukai bekerja, jadi saya tidak mau pensiun. Mungkin saya akan beralih ke kegiatan lain. Saya ingin melakukan sesuatu yang lain. Saya sebenarnya memiliki keinginan untuk mengajar karena ada kepuasan untuk membantu seseorang memahami sesuatu dengan lebih baik.

Selain itu, saya juga menyukai berada di kalangan anak muda. Mungkin, saya akan mengambil opsi sebagai dosen, bisa di India, bisa juga di Indonesia.

Adakah obsesi yang masih ingin Anda capai?

Saya ingin perusahaan ini menjadi entitas fantastis yang lebih baik. Saya juga ingin perusahaan ini asetnya bertumbuh dua kali lipat.

Untuk mencapai pertumbuhan tersebut, butuh pelayanan yang baik dan hubungan yang dekat dengan konsumen. Di Unilever, kami menerapkan empat prinsip bisnis yakni konsisten, kompetitif, menghasilkan profit, dan tetap tumbuh berkelanjutan. ()

Biodata

Nama : Hemant Bakshi

Riwayat Pendidikan:

  • 1986, Teknik Kimia, Indian Institute of Technology, Bombay\

Perjalanan Karier :

  • 2011, Director of Home & Personal Care Business Hindustan Unilever Limited
  • 2008, Executive Director of Sales and Customer Development Hindustan Unilever Limited
  • 2000, Business Manager Hindustan Unilever Limited

Sumber : Bisnis Indonesia, Rabu (2/3/2016)

Tag : unilever
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top