SAMUEL SEMARUN: Trust Itu Segala-galanya

Bursa berjangka bisa jadi kalah populer dibandingkan dengan pasar keuangan lainnya, karena besarnya risiko yang harus ditanggung oleh investor jika tidak menjalankannya dengan baik.
Lili Sunardi, Thomas Mola, Stefanus Arief Setiaji | 13 April 2016 11:00 WIB
Samuel Semarun, Presiden Direktur PT Monex Investindo Futures. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa berjangka bisa jadi kalah populer dibandingkan dengan pasar keuangan lainnya, karena besarnya risiko yang harus ditanggung oleh investor jika tidak menjalankannya dengan baik.

Belum lama ini, Bisnis.com berkesempatan mewawancarai Samuel Semarun, Presiden Direktur PT Monex Investindo Futures, untuk mengetahui strategi dan tantangan di industri bursa berjangka. Berikut petikannya.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga saat ini menjabat sebagai Presiden Direktur Monex?

Awalnya, saya dipercaya memegang dealing. Bagian dealing itu kalau kasarnya seperti dapurnya [pialang berjangka]. Dulu kan semua transaksi masih offline, nasabah kalau mau transaksi harus telpon kami.

Kemudian, pada 2006, saya dipercayakan menjadi direktur utama, karena saya dapat memberikan kepercayaan kepada pelanggan sebagai hal yang utama. Apalagi bisnis ini adalah bisnis kepercayaan, investasi, dan jasa, sehingga yang paling utama adalah kepercayaan.

Hingga kini, kami selalu menetapkan kepercayaan sebagai modal yang membentuk kemampuan untuk menangani serta menjalankan perusahaan ini.

Ketika awal bergabung, bagaimana kondisi perusahaan dan industri saat itu?

Saya sejak awal berada di Monex, dan kami baru benar-benar diberikan regulasi pada 2003, kemudian ada Bursa Berjangka Jakarta, Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) yang berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Bisnis ini sangat bagus dan salah satu jenis investasi yang baik jika kita benar-benar mengetahui, jika memahami arti perdagangan berjangka ini. Saya juga melihat pangsa pasarnya sangat luas, karena dana forex di seluruh dunia itu mencapai US$5,5 triliun.

Akan tetapi, bisnis ini memang high risk with high gain. Risikonya tetap ada, tetapi imbal hasil yang diperoleh juga seimbang. Memang setelah ditopang oleh Bursa Berjangka Jakarta, ICDX, dan Bappebti, pelan-pelan industri ini meningkat.

Apa tantangan yang dihadapi oleh industri berjangka saat ini?

Saya selalu berharap nasabah dan calon nasabah kami benar-benar tahu apa yang akan dilakukannya dalam bisnis ini, makanya kami selalu memberikan edukasi dan memperbaiki sistem di internal perusahaan.

Pada 2005, saya meminta 80% tim marketing di perusahaan untuk resign, karena mereka money oriented. Mereka menjanjikan keuntungan, sedangkan tidak ada yang dapat memastikan keuntungan, dan memang itu tidak boleh, karena saya lebih mementingkan nama baik perusahaan dan kepercayaan masyarakat kepada Monex.

Jadi saya buang budaya itu semuanya, dan saya mulai kembali dari awal dengan memberikan edukasi kepada para calon nasabah. Setiap dua pekan sekali kami mengadakan Monex Training Education di seluruh kantor cabang dan Monex Investor Club setiap tahun dengan mengundang pembicara.

Bisnis ini memang sangat unik, sehingga orang tidak bisa begitu saja melakukan buy and sell, tetapi harus mengetahui fundamental, berita, dan faktor lain yang mempengaruhi pergerakan harga.

Selain edukasi dan janji keuntungan dari para broker, pemain asing yang masuk tanpa izin juga menjadi salah satu tantangan. Besarnya pangsa pasar di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi broker yang tidak terdaftar masuk dan menjalankan bisnisnya di dalam negeri. Untungnya, Bappebti cukup aktif mengantisipasi hal itu.

Apakah nilai dan prinsip seperti tidak selalu berorientasi pada uang masih ditanamkan di tim internal?

Dari awal, saya berpesan kepada mereka dengan tegas, agar jangan pernah menjanjikan keuntungan. Untuk apa pusing-pusing menjanjikan keuntungan, sementara mereka hanya broker yang bertugas mencari nasabah, karena pada akhirnya itu akan merepotkan mereka sendiri.

Semakin kami berusaha menjaga nama baik, masyarakat akan semakin percaya. Kami ingin menjalankan perusahaan ini untuk jangka waktu lama, dan saya buktikan sejak dulu, saya katakan tidak untuk orang yang menjanjikan keuntungan.

Akan tetapi, memang pola pikir masyarakat saat ini masih mencari untung. Padahal, kita bekerja sebagai profesional pun, kalau tidak bekerja dengan baik, belum tentu dapat menghasilkan uang.

Bagaimana strategi Monex menyasar nasabah pemula dari kalangan anak muda?

Kami saat ini bekerja sama dengan Bursa Berjangka Jakarta dan ICDX membuat Pojok Bursa di Institut Pertanian Bogor. Selain itu, kami juga terus membangun sistem yang memungkinkan bagi para nasabah untuk bertransaksi secara online, untuk melengkapai transaksi offline yang masih kami sediakan.

Anak muda saat ini kan serba online, dan dari situ kami terus melakukan promosi dan branding dengan gencar. Belakangan memang banyak juga nasabah kami yang berasal dari kalangan anak muda atau Gen Y. Sistem online ini juga sebenarnya membuat proses transaksi lebih transparan, karena seluruh informasi yang dibutuhkan juga kami sediakan.

Selain itu, dalam setiap transaksi yang akan dilakukan nasabah, kami selalu menyediakan demo account untuk membentuk mental dalam bertransaksi. Itu dilakukan untuk melengkapi edukasi yang terus kami lakukan, agar nasabah mengetahui risiko dari futures trading.

Banyak yang mengatakan investasi itu mahal, perusahaan berjangka juga diterpa beberapa isu negatif. Apa saja upaya untuk mengembalikan keyakinan nasabah?

Kalau dibilang investasi ini mahal, itu tergantung appetize-nya nasabah. Mereka bisa bilang investasi mahal, misalnya beli rumah atau tanah juga tergantung dari apa yang kita mau, yang kita sanggupi.

Kalau punya kelebihan dana kemudian disimpan di bank hasilnya begitu-begitu saja, kami tidak bisa bilang ini pasti untung, tetapi semua ada risiko, jadi high risk and high gain. Makanya tadi saya bilang ada demo account, agar nasabah belajar bagaimana menyikapi market pada saat itu. Hal negatif yang banyak beredar memang lebih kepada ketidaktahuan masyarakat terhadap industri ini.

Edukasi menjadi hal yang utama bagi perusahaan sebelum menjaring nasabah?

Itu yang selalu saya minta, para calon nasabah harus membaca dulu yang benar bisnis ini, baru kemudian masuk ke dalamnya. Ternyata itu juga yang dianjurkan oleh Bappebti.

Beberapa tahun lalu banyak masyarakat yang tertipu karena perusahaan pialangnya tidak terdaftar atau ilegal. Hal itu yang membuat saya bingung, karena edukasi yang terus kami lakukan dengan gencar masih kalah efektif dalam menjaring nasabah dibandingkan dengan yang dilakukan perusahaan yang tidak terdaftar.

Saya juga selalu mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan betul legalitas perusahaan pialang berjangka, dan mencari tahu apakah terdaftar di Bappebti atau tidak. Kalau itu semua terpenuhi, masyarakat sebenarnya tinggal mengikuti beragam produk yang ditawarkan.

Seberapa besar serbuan pialang asing di industri bursa berjangka dalam negeri?

Sejauh ini website mereka sampai diblok oleh Bappebti yang bekerja sama dengan Kementerian Telekomunikasi dan Informatika, dan kami sampai tidak bisa membuka website asing.

Terkadang mereka mengadakan seminar tanpa izin, mereka punya izin di luar negeri, tetapi tidak punya izin di Indonesia. Besarnya potensi pasar di Indonesia, membuat mereka serius menyasar dan masuk ke dalam negeri.

Sejauh ini Monex sudah hadir di kota apa saja dan apa ada rencana untuk ekspansi?

Kami memiliki 16 kantor cabang di seluruh Indonesia. Hampir di seluruh kota besar kami memiliki kantor cabang, dan yang paling banyak memang di Jawa. Di Jakarta saja ada di Kelapa Gading, Salemba, dan Sahid, kemudian di Yogyakarta, Semarang, Solo, Denpasar, Medan, Cirebon, Tegal, dan Pontianak.

Tahun ini, kami berencana membuka kantor cabang baru di Makassar, karena memiliki potensi pasar yang bagus. Akan tetapi, kami masih menunggu perizinan dari Bappebti.

Bagaimana proyeksi perdagangan dan penambahan nasabah pada tahun ini?

Sampai Maret 2016 itu lumayan, karena kami dapat banyak nasabah dari edukasi, seminar, dan sistem trading dengan menggunakan robot seperti yang dilakukan di Surabaya. Sebentar lagi kami juga akan membuat hal yang sama di Yogyakarta, Semarang,, dan seluruh kantor cabang kami.

Penggunaan robot itu sebenarnya hanya untuk membantu, memfasilitasi, dan memudahkan dalam transaksi, karena meminimalkan risiko sebagai dampak dari emosional dalam bertransaksi.

Proyeksi ke depan, saya selalu optimis, karena pada umumnya nasabah akan bertransaksi kalau fluktuasi harganya bagus. Semakin kencang fluktuasi harganya, maka semakin aktif transaksi yang terjadi.

Berapa volume transaksi sejauh ini?

Kami terdaftar di dua bursa, average 80.000 sampai 100.000 lot transaksi. Sekarang yang lagi aktif itu emas, nasabah pun bebas memilih mana yang paling cocok, dan kemudian masuk untuk transaksi.

Meski begitu, kami baru mendapatkan 6% dari pangsa pasar yang ada di Indonesia. Ini memang menjadi alasan utama kenapa banyak pialang asing masuk ke Indonesia.

Apa saja tantangan yang dihadapi ketika mengedukasi masyarakat?

Terkadang orang sudah antipati dengan bisnis ini, dan masyarakat dengar hal negatif saja. Padahal sisi positifnya itu banyak sekali, karena ini adalah salah satu bentuk investasi yang dapat dilakukan secara online dan transparan.

Kami juga terus bekerja sama dengan bursa dan asosiasi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Bagi saya hanya ada satu kata, yaitu edukasi, karena sekali bisnis di bidang jasa itu tidak dipercaya, maka selesai semuanya. Trust itu segala-galanya karena memang sangat penting.

Selain edukasi, apakah Monex memiliki sistem untuk memberitahukan kepada nasabah kalau sudah rugi cukup banyak?

Dalam transaksi itu kita harus tahu margin, nanti pada saat menyentuh 20%, maka ada informasi ke nasabah anda sudah harus melakukan top up, dan semua itu tergantung dari fluktuasi harga juga.

Kami selalu informasikan kepada nasabah untuk tidak lupa pasang stop, untuk meminimalkan tingkat kerugian atau risiko. Akan tetapi, kami juga tidak bisa membatasi market, karena terkadang terjadi perubahan di suatu negara, lalu menarik market dan menyebabkan harga bergerak.

Pengalaman Anda berinteraksi dengan nasabah, apa yang mereka kejar hingga akhirnya berbalik rugi?

Sebenarnya mereka kebanyakan mengetahui kalau sudah salah masuk posisi. Makanya saya selalu mengatakan kalau kita salah masuk posisi ya jangan dibiarkan, harus segera disetop. Dalam bertransaksi kan kita mencoba menganalisa data, atau secara teknikal dan sebagainya, tetapi bisa juga suatu saat kita salah.

Intinya memang harus bisa menahan diri dalam transaksi, dan harus mau melakukan stop. Jadi ini persoalan mental tadi, dan jangan terlalu emosional. Dalam bursa berjangka itu kan prinsipnya beli saat murah dan jual saat tinggi, tetapi kami tidak pernah tahu pergerakan harganya apakah akan terus turun atau naik.

Apa tanggapan Anda tentang regulasi yang mengatur bursa berjangka di Indonesia saat ini?

Sejauh ini sangat positif. Kalau sudah ada undang-undang yang diterbitkan, tentu kami akan mematuhi dan menjalankan aturan itu. Regulasi itu selama ini cukup membantu kami dalam mengawasi dan membangun industri.

Sejauh ini, aturan yang diterbitkan juga sudah ditinjau berdasarkan kebutuhan market dan budaya Indonesia. Yang memang sedang diminta oleh Bappebti saat ini adalah edukasi yang merata di seluruh lapisan dan daerah.

Apa target Anda di industri pialang berjangka dan Monex khususnya?

Secara pribadi, saya menginginkan orang-orang yang memiliki kualitas lebih baik, sehingga dapat memberikan edukasi yang lebih baik dan merata. Dengan begitu, nasabah menjadi lebih tahu dan memiliki gambaran mengenai industri ini akan berkembang menjadi lebih baik.

Kalau sudah memiliki orang dengan kualitas yang lebih baik, dan tingkat kepercayaan masyarakat juga sudah bagus, kami tinggal mengerjakan dan menyiapkan produknya saja. Secara khusus, target kami di Monex memang ingin menjadi premium broker.

Bagaimana cara menyiapkan SDM untuk mendapatkan orang yang memiliki kualitas lebih baik?

Ada pendidikan internal. Saya juga mengajak mereka itu menghadiri seminar yang diadakan oleh motivator. Kami juga harus memberikan pendidikan ke internal terkait how to be profesional dan how to be quality person. Coaching dari pihak HRD kepada staf juga terus dilakukan.
Kami pasti memberikan pendidikan yang baik juga, bagaimana kami mengharapkan sesuatu kepada mereka kalau kami tidak memberikan edukasi yang baik. Jadi, memang kami juga melakukan investasi internal itu. ()

Sumber : Bisnis Indonesia, Rabu (13/4/2016)

Tag : monex investindo futures, lunch with ceo
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top