Antonius C.S. Napitupulu: Belajar dari Pahlawan hingga Penjahat Kemanusiaan

Antonius Chandra Satya Napitupulu memang dibesarkan di industri jasa keuangan. Namun, siapa sangka, Direktur Utama PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) itu justru menggilai literatur sejarah dan arkeologi. Gairah dan semangat hidupnya yang sesungguhnya.
Surya M.S. & Thomas Mola | 20 April 2016 11:55 WIB
Antonius Candra Satya Napitupulu. - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Antonius Chandra Satya Napitupulu memang dibesarkan di industri jasa keuangan. Namun, siapa sangka, Direktur Utama PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) itu justru menggilai literatur sejarah dan arkeologi. Gairah dan semangat hidupnya yang sesungguhnya.

Sedari muda, pengembangan karakter Antonius terinspirasi dari banyak tokoh dan sosok penting di literatur sejarah. Dia belajar dari semua figur, mulai dari penggondol nobel perdamaian sampai penjahat kemanusiaan.

Bahkan, perkembangan sejarah baik itu tokoh, peristiwa, atau pun warisan budaya telah memberikan banyak pelajaran bagi dirinya dalam berbisnis dan memimpin perusahaan.

Dari sejarah para tokoh dunia seperti Soekarno, Gandhi, atau pun Hitler, Antonius memetik sedikitnya dua hal yakni pentingnya determinasi dan momentum. Determinasi terkait erat dengan kekuatan hati untuk mewujudkan visi, sementara momentum lebih kepada ketepatan waktu dalam mengambil keputusan ataupun tindakan.

Sebagai anak lelaki kedua dari keluarga Batak, sejak kecil Antonius belajar bahwa hidup tidak ada yang gratis, butuh kerja keras sekuat mungkin dan belajar sebaik mungkin. Antonius kecil belajar untuk bertindak dengan mengetahui kemampuan diri dan kemampuan finansial keluarga.

''Misalnya gini-lah, waktu kuliah, abang saya naik kendaraan, sedangkan saya naik bus sajalah. Itu justru memacu saya untuk bercita-cita suatu hari saya harus punya mobil dengan uang saya sendiri,” kenangnya.

Ketika hendak mengambil jurusan yang sesuai minatnya, arkeologi, Antonius diarahkan untuk mengambil ekonomi. Keputusan untuk belajar ekonomi akuntansi pun dinilai sebagai suatu kebetulan. ''Karena saya lama antre di ekonomi manajemen, jadi pindah saja lamar ekonomi akuntansi,“ tuturnya.

Sedikitnya terdapat dua pekerjaan yang paling berkesan bagi Antonius muda yakni ketika bergabung bersama Bank Niaga dan BPPN pada masa krisis 1998. Di Bank Niaga, Antonius mendapat management training yang menurutnya sangat berkesan. Pasalnya, terdapat kesenjangan besar antara apa yang dipelajari di kampus dengan dunia kerja.

Dia mencontohkan perbedaan paling nyata ialah cara bertindak anak buah dan bos. Anak buah hanya bertindak berdasarkan prosedur karena kompetensi dan kewenangan yang diberikan ialah konsisten mengikuti SOP.

Untuk posisi yang lebih tinggi, tidak perlu wajib menjadi lebih pintar dari anak buah tetapi harus memiliki pengalaman dan wawasan. Pimpinan bukan lagi orang yang harus memegang SOP tetapi orang yang bergerak dalam koridor seperti dalam lintasan balap.

Setelah 8 tahun bekerja di Bank Niaga, bertepatan dengan krisis yang melanda industri perbankan nasional pada 1998, Antonius hengkang mencari tantangan baru di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). ''Saat itu modal nekat juga karena hampir semua kinerja bank negatif, semua debitur macet.''

Ketika bergabung dengan BPPN, terdapat banyak hal baru yang ia pelajari. Salah satunya ialah distress asset dan cash is the king. Dalam kondisi ekonomi ambruk, yang memegang aset likuid seperti mata uang asing bakal menjadi raja. Pasalnya, dalam kondisi krisis barang menjadi tidak berharga sehingga yang memegang uang menjadi sangat berkuasa.

Selama di BPPN, Antonius banyak bertemu dengan para konglomerat yang membuatnya juga sadar bahwa information is power. Pada orang kaya yang mampu bertahan saat krisis adalah mereka yang sudah mengetahui informasi perihal akan adanya krisis sehingga bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Selepas krisis, Antonius kembali berkarier di industri perbankan. Beberapa bank yang sempat menjadi tempat persinggahan Antonius ialah Bank Lippo sebagai Wakil Direktur Utama dan Bank Sinar Mas sebagai Komisaris Independen.

Setelah malang-melintang di industri perbankan, Antonius tertarik untuk mencoba peluang baru dengan bergabung dengan Askrindo yang justru pada saat itu sedang sakit.

Dia bercerita, keputusan bergabung dengan Askrindo pada 2011 bukan suatu perkara sulit, karena pada praktisnya saat itu menjabat sebagai salah satu komisaris termuda di Bank Sinar Mas. Ketetapan hati dan keinginan membawa perubahan pada Askrindo sebagai salah satu BUMN asuransi membawa Antonius akhirnya berkantor di Kemayoran.

“Saat ditawari untuk mengurus BUMN, dan saya pikir boleh juga, karena saat itu sudah tidak ngapa-ngapain [sebagai komisaris]. Saya pindah ke Askrindo, karena saya pikir bisa berkontribusi memperbaiki,” ujarnya.

Antonius datang dengan visi yang jelas. Menurutnya, kehadirannya di Askrindo bukan sebagai mandor, atau dokter ataupun auditor yang mencari-cari kesalahan. Kehadirannya ialah untuk bergerak maju bersama-sama.

Dengan segala pembenahan, determinasi dan tranformasi perusahaan, pencinta sejarah itu berambisi membuat torehan manis bersama Askrindo. Pada tahun ini, Askrindo menargetkan dapat meraup laba bersih setelah pajak senilai Rp1,3 triliun atau tumbuh 30% dibandingkan dengan perolehan laba pada 2015. ()

Biodata
Nama: Antonius Candra Satya Napitupulu
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 19 Oktober 1960

Pendidikan:
1986 S1 Akuntansi Universitas Indonesia

Riwayat Pekerjaan:
2011—sekarang, Direktur Utama PT Askrindo (Persero)
2005—2011, Ketua Komite PT Bank Sinarmas
2004—2005, Senior Advisor PT Danasari Prasetya
2003—2004, Chief Business Officer PT Bank Lippo
1999—2003, Badan Penyehatan Perbankan Nasional
1989—1999, PT Bank Niaga

Sumber : Bisnis Indonesia, Rabu (20/4/2016)

Tag : askrindo, lunch with ceo
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top