PRESDIR RAPP TONY WENAS, Piawai Memproduksi Harmoni

Tumbuh di lingkungan keluarga yang kaya tidak lantas memberikan kemudahan dalam hidup dan karier Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Clayton Allen Wenas atau lebih dikenal dengan nama Tony Wenas.
Lili Sunardi | 27 April 2016 17:04 WIB
Tony Wenas, Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Tumbuh di lingkungan keluarga yang kaya tidak lantas memberikan kemudahan dalam hidup dan karier Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Clayton Allen Wenas atau lebih dikenal dengan nama Tony Wenas.

Lingkungan elite Menteng, Jakarta Pusat, malah membuatnya merasakan disiplin ketat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Sama seperti anak kecil pada umumnya, Tony kecil gemar bermain di luar rumah. Terlebih, rumahnya yang berada di Jalan Sukabumi, Menteng, Jakarta Pusat, sangat dekat dengan taman.

Dia tak boleh absen makan siang di rumah. Waktu bermain pun tidak boleh lebih dari pukul 17.00 WIB. Tony menceritakan sikap disiplin yang ditanamkan oleh orang tua dan lingkungannya itu masih terbawa hingga saat ini.

Tony menjalani pendidikan dasar dan menengah di sekolah negeri. Dia bercerita, kebanyakan guru masih menggunakan Bahasa Belanda dalam percakapannya sehari-hari, karena memang sekolah itu berada di kawasan elite.

Keputusan untuk masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius memiliki kenangan tersendiri bagi Tony. “Sebenarnya saya ingin melanjutkan ke SMA Negeri, tetapi saya juga diterima di Kanisius. Orang tua saya kemudian mengatakan saya harus masuk ke Kanisius. Bagaimana ini, di Kanisius kan cowok semua, tidak ada ceweknya,” canda Tony kepada Bisnis belum lama ini.

Belakangan, Tony sangat bersyukur orang tua memaksanya sekolah di Kanisius. Disiplin dan kualitas belajar mengajar menjadi keunggulannya. “Saya juga tidak tahu akan seperti apa sekarang kalau saya ngotot masuk SMA Negeri,” ujarnya.

Masa SMA menjadi periode paling berharga bagi Tony, karena saat itu dirinya banyak berkomunikasi dan diajarkan bagaimana cara bekerja, hidup, berhadapan dengan orang lain, dan setara dengan orang asing, dari ayahnya yang kemudian meninggal dunia saat dirinya menginjak kelas 3 SMA.

Dirinya pun masih mengingat pesan sang ayah yang membuat dirinya berubah saat selalu membuat onar di sekolah. “Ayah saya tidak marah. Saat itu, dia hanya bilang, Tony kalau kamu ulangi perbuatan kamu, kamu punya masa depan akan suram,” ucapnya.

MUSISI DAN PROFESIONAL

Selepas lulus SMA, Tony melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dirinya sempat juga masuk Fakultas Ekonomi di universitas yang sama, tetapi harus berhenti karena muncul aturan yang tidak memperbolehkan mahasiswa mengambil dua jurusan di lembaga pendidikan yang sama.

Pada masa kuliah inilah Tony mulai serius dengan kegemarannya bermain musik. Dia bersama teman-teman seangkatannya membentuk grup musik Solid 80 yang masih exist hingga saat ini. Selain itu, dirinya juga menginisiasi band Treeb bersama Eet Syahrani, serta Symphony bersama Fariz RM.

Penghasilan dari bermain musik saat itu membuat Tony mampu membeli sebuah mobil dan membiayai kuliahnya. Kenikmatan banyak penggemar dan tur ke luar kota pun sempat dijalaninya sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi profesional di dunia usaha.

“Sejak dulu obsesi saya memang ingin menjadi pimpinan perusahaan seperti ayah saya. Sepertinya kehidupan seorang profesional itu enak,” katanya.

Ketidakpastian karier seorang musisi di dalam negeri menjadi pertimbangan utama bagi Tony untuk memutuskan banting setir dan bekerja di perusahaan.

Awal karir Tony pun dimulai saat dirinya bekerja di Atlantic Richfield Co. (ARCO) yang saat ini dioperasikan oleh BP Berau Ltd, sebagai staf legal. Sejak saat itu, Tony kerap berpindah kerja, karena mencari tantangan baru.

Tony tercatat menjadi Corporate Legal Manager di PT Bakrie Communications Corporation, Senior Manager Legal di PT Pasifik Satelit Nusantara, hingga akhirnya kariernya menanjak tajam di PT Freeport Indonesia dengan posisi terakhir sebagai Executive Vice President and Director.

Setelah itu, Tony juga sempat menjabat sebagai Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk., Presiden Komisaris di RAPP, Executive General Manager di Interpid Mines Limited, dan akhirnya menjadi Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper.

“Semua pekerjaan yang saya jalani melalui proses melamar dan dilamar,” katanya.

Bekerja di Freeport Indonesia menjadi puncak kesuksesan Tony. Di perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat itu, kariernya melesat dari yang semula mengurusi legal, menjadi Executive Vice President dalam sembilan tahun berkarir.

Dirinya berprinsip akan bekerja 150% di perusahaan yang menggajinya. Dengan begitu, dirinya akan mendapat keuntungan berupa promosi, penaikan gaji, ataupun bonus yang akan diterima. Selain itu, kerja keras juga akan membuat pekerjaannya lebih cepat selesai, sehingga dirinya dapat istirahat dengan tenang di rumah.

“Hitung-hitungannya sederhana, kalau kita bekerja 100%, perusahaan juga kan menggaji 100%. Akan tetapi, kalau kita bekerja 150%, perusahaan memiliki utang kepada kita, karena hanya membayar 100%. utang itu kemudian dibayar bisa dalam bentuk promosi atau penaikan gaji,” ujarnya.

MEMPRODUKSI HARMONI

Pengalaman bermusik sejak kuliah berkontribusi kepada gaya memimpin Tony di dalam perusahaan. Dirinya berusaha mengatur setiap anggota timnya untuk meraih tujuan bersama.

“Organisasi yang besar, tentu memiliki komitmen yang besar, sehingga memerlukan kegiatan yang ter-orkestra dengan baik. Jadi kembali lagi seperti musisi,” katanya.

Dalam setiap memimpin perusahaan, Tony memang kerap menganalogikannya dengan kegiatan bermusik layaknya sebuah band. Sebagai pemimpin, dirinya harus mampu memimpin anggota lainnya, agar tidak memunculkan egonya sendiri. Bahkan, menurutnya, mengatur lima anggota band jauh lebih sulit dibandingkan dengan mengatur lima manajer.

Dirinya pun tidak segan untuk mengakui kesulitan dalam menguasai seluruh hal dengan baik di sebuah perusahaan. Meski demikian, seorang pemimpin harus mampu mengatur ritme dari para anggotanya, kapan harus bergerak pelan atau justru bergerak sangat cepat.

“Saya mungkin tidak mahir di bidang operasi dan produksi, karena ada direktur yang lebih hebat, begitu juga dengan persoalan lingkungan hidup. Yang penting bagaimana mengatur mereka supaya tercipta sebuah harmoni yang indah,” ucapnya.

Di puncak kariernya, Tony juga tidak pernah melupakan masyarakat sekitarnya. Dirinya hingga kini memegang kutipan dari Albert Einstein yang mengatakan jangan hanya mau menjadi orang yang sukses, tetapi jadilah orang yang memberikan manfaat kepada orang lain.

Dirinya bahkan dengan tegas tidak ingin ada anak buahnya yang menghalalkan segala cara untuk meraih posisi tertentu, karena dirinya ingin keberadaan setiap orang di perusahaan memberikan manfaat bagi orang lain.

Di RAPP, Tony berusaha untuk menanamkan sifat fokus, tulus, jujur, dan disiplin. Dengan bekerja secara tulus, maka orang lain akan memberikan nilai  positif terhadap apa yang dikerjakan dalam mengembangkan perusahaan.

“Dengan empat nilai tersebut, saya percaya akan keluar hal-hal yang bernilai positif, karena saya bukan pemimpin yang menggunakan power,” katanya.

Prinsip fokus itu juga yang membuat Tony tidak pernah memiliki pekerjaan lain di luar pekerjaannya memimpin perusahaan. Dia ingin menunjukkan bahwa komitmen yang kuat sangat dibutuhkan dalam mengembangkan perusahaan, sehingga tidak mau kehilangan fokus dengan mengerjakan hal lain.

Selain itu, Tony juga menekankan pentingnya mengelola waktu agar setiap pekerjaan dapat selesai tepat waktu. Dirinya tidak pernah mau berlarut-larut dalam suatu hal yang dikerjakannya, meskipun itu merupakan hal yang disenanginya.

Kepiawaiannya mengatur waktu didapat dari praktik disiplin yang diterapkan oleh orangtuanya. Hal itu membuat dirinya masih sempat bermain music, aktif menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin), serta giat berorganisasi di berbagai asosiasi.

Tag : riau andalan pulp and paper, Tony Wenas
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top