Gina S. Noer: Skenario, Skenario, Dan Skenario

-Nama seorang penulis skenario bisa jadi tidak sepopuler nama seorang sutradara. Padahal, keberadaan penulis skenario untuk mendongkrak kesuksesan sebuah film juga tak kalah penting.
Tisyrin Naufalty Tsani | 14 Juli 2016 09:22 WIB
Gina S Noer - twitter

Bisnis.com, JAKARTA--Nama seorang penulis skenario bisa jadi tidak sepopuler nama seorang sutradara. Padahal, keberadaan penulis skenario untuk mendongkrak kesuksesan sebuah film juga tak kalah penting.

Salah satu penulis skenario handal di Indonesia adalah Gina S. Noer. Dia bersama Salman Aristo menggarap skenario film Ayat-ayat Cinta yang menjadi box office pada 2008. Kala itu, Gina masih duduk di bangku kuliah. Mengingat usianya yang terbilang muda, dia sempat merasa tak dianggap. Apalagi dalam film tersebut dia menulis skenario bersama suaminya sendiri, sehingga banyak orang menganggap dia tidak benar-benar berperan dalam penulisan skenario film tersebut.

Barulah pada 2012, Gina seakan benar-benar melakukan pembuktian terhadap industri perfilman Indonesia akan kemampuannya dalam menghasilkan skenario yang ciamik. Film Habibie & Ainun mampu mencatat hingga lebih dari 4,5 juta penonton .

Bagi perempuan bernama lengkap Retna Ginatri S. Noer ini, kesuksesan film garapannya merupakan sebuah rezeki dan keberuntungan. Dia mengakui bahwa tidak semua film yang ditulisnya terjamin akan menjadi box office.

“Film itu complicated,” ungkapnya.

Untuk menciptakan film yang sukses di pasaran, ada kerjasama tim yang solid di baliknya. Jika ada sebuah skenario yang bagus, belum tentu akan terlihat bagus di layar jika sutradaranya kurang mumpuni. Namun kadangkala ada pula skenario yang biasa saja, digarap oleh sutradara yang bagus maka hasilnya pun bisa jadi memuaskan.

Gina sendiri memandang, pengembangan skenario adalah suatu investasi awal yang paling murah bagi para produser jika ingin menghasilkan film yang berkualitas. Dia melihat masih ada saja pihak yang menganggap enteng masalah skenario.

Padahal menurut filmmaker Hollywood Alfred Hitchcocks, saat mendapatkan pertanyaan tentang tiga hal penting dalam sebuah film, Hitchcocks menjawab skenario, skenario, dan skenario.

Oleh karena itu, Gina tidak mau terburu-buru dalam bekerja. Dia membutuhkan waktu yang cukup panjang yaitu minimal enam bulan dalam menciptakan skenario yang matang. Waktu sepanjang itu dihabiskan antara lain untuk merumuskan ide cerita, melakukan riset, menyusun sinopsis, memperkuat karakter, hingga menulis skenarionya. Setelah jadi, skenario pun biasanya masih harus melalui proses perubahan berkali-kali.

Selama proses menggarap skenario, dia melibatkan sutradara, produser, dan sebuah sindikasi penulis skenario. Mereka akan membantu mengembangkan ide cerita tetapi ide dasar dan proses menulis skenario itu sendiri tetap berada di tangan Gina.

Pekerjaan menulis skenario memang berbeda dengan pekerjaan menulis buku, cerpen, atau puisi yang dapat dilakukan murni seorang diri. Pada prakteknya, seorang penulis skenario tetap harus berkolaborasi dengan pihak lain untuk melakukan pengembangan cerita.

Salah satu hal penting yang kerap dilupakan dalam proses penggarapan skenario adalah riset. Gina yang memiliki latar belakang pendidikan Komunikasi Massa pun merasa beruntung. Lewat ilmu jurnalisme investigasi yang dia pelajari saat kuliah, dia memiliki modal kuat untuk melakukan riset.

Skenario yang baik baginya adalah skenario yang memiliki cerita serta menampilkan karakter-karakter yang menarik, sehingga membuat penonton terus bertanya, “What’s next?”.  Apabila penonton telah berhenti bertanya, artinya mereka kurang menikmati. Apalagi di era sekarang ini, jika bosan dengan film maka beralih ke telepon pintar di genggaman tangan adalah langkah termudah.

Terbiasa Menonton Film

Gina merasa film sangat berperan penting bagi kehidupannya. Film baginya dapat membentuk hidup seseorang. Sejak kecil, dia gemar melahap berbagai bacaan dan film. Hal tersebut tak lepas dari pengaruh keluarganya.

Dia lahir dan sempat merasakan masa kecil di Balikpapan. Saat usianya 10 tahun, dia bersama keluarga pindah ke Jakarta. Selain membaca dan menonton, Gina kecil pun senang menulis.

“Dari kelas tiga SD, bapak saya sudah mengajak nonton bioskop midnight, ini nggak patut dicontoh ya,” tuturnya sembari tertawa.

Saat duduk di bangku SMA, sahabatnya mengenalkan kepada Angga Dwimas Sasongko yang kini menjadi sutradara. Gina dan Angga membuat bersama yaitu film pendek berjudul Maya (2003).

Film digarap dengan modal handycam pinjaman. Bahkan untuk mengedit film tersebut, mereka harus ke daerah Mangga Dua karena tidak memiliki komputer. Mereka kemudian mengikutkan filmnya ke kompetisi film pendek. Setelah film tersebut, mereka tak berhenti berkarya hingga kini.

Ada sebuah momen penting lainnya saat Gina masih duduk di bangku SMA. Dia mengikuti sebuah workshop perfilman dari kru Ada Apa Dengan Cinta? termasukMira Lesmana dan Rudy Soedjarwo. Kala itu hujan turun, tapi dia tetap bersemangat untuk ikut. Siapa sangka, saat ini dia telah menjadi rekan seprofesi Mira Lesmana dan Rudy Soedjarwo.

 

 

Sosok yang juga merupakan co-founder dan editor in chief di PlotPoint Publishing & Workshop ini merasa mantap menekuni dunia penulisan skenario karena itu artinya dia telah menggabungkan hal-hal yang dia sukai, menulis dan film.

Dia merasa ajaib ketika khayalannya menjelma menjadi adegan-adegan film. Film yang ditonton banyak orang bahkan dapat mempengaruhi kehidupan orang banyak.

Nama lengkap                       : Retna Ginatri S. Noer

Nama populer                        : Gina S. Noer

Tempat, tanggal lahir           : Balikpapan, 24 Agustus 1985

Pendidikan                             : Komunikasi Massa, Universitas Indonesia

Pekerjaan                               : Penulis Skenario, Co-founder dan Editor in Chief di PlotPoint Publishing & Workshop

Filmografi                              :

Feature Film

 

Short Movies

Tag : film
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top