Bisnis Makanan Ringan, Awalnya Tertantang Produk Impor

Latar belakang memulai suatu usaha bisa bermacam-macam. Ada yang diawali iseng, ingin mengurangi limbah dan membantu melestarikan lingkungan, dan ada pula yang didasari kecintaan terhadap Tanah Air.
Anissa Margrit | 10 Desember 2017 13:57 WIB
Produk La Mente Food. - .La Mente Food

Bisnis.com, JAKARTA- Latar belakang memulai suatu usaha bisa bermacam-macam. Ada yang diawali iseng, ingin mengurangi limbah dan membantu melestarikan lingkungan, dan ada pula yang didasari kecintaan terhadap Tanah Air.

Alasan terakhir terjadi di La Mente Food. Berawal dari kekesalan terhadap makanan ringan impor yang sangat banyak dijual di ritel modern, tiga sekawan Nur Pajriyah Ulfa, Retno, dan Kukuh memutuskan mendirikan bisnis snack kacang mede.

"Setiap ke supermarket kami selalu melihat produk luar negeri yang hampir mendominasi. Kalau ke supermarket, produk luar negeri selalu terlihat di depan, sedangkan kalau mau beli produk buatan usaha kecil dan menengah [UKM] pasti adanya di rak paling belakang," terang Nur.

Kekesalan makin memuncak ketika dia mendapat oleh-oleh dari Singapura yang berupa camilan aneka kacang-kacangan. Dengan sumber daya alam yang terbatas, negara itu dapat menghasilkan produk yang berkualitas. Ditambah lagi, bahan bakunya berasal dari Indonesia.

Ide untuk bisa mengangkat dan mengolah produk berkualitas asli dalam negeri pun muncul. Berbekal data bahwa Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara produsen kacang mede terbesar dunia serta modal awal sebesar Rp30 juta, Nur dan kawan-kawannya pun memulai La Mente Food sejak Februari 2016.

Meskipun berbasis di Bandung, Jawa Barat tapi La Mente mengambil bahan baku kacang mede dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam sehari, mereka bisa memproduksi sampai 10 kilogram kacang mede olahan. Daerah itu memang sudah dikenal sebagai sumber kacang mede berkualitas di Tanah Air.

Kacang mede diolah sedemikian rupa dengan resep buatan sendiri dan dijual dalam 6 varian rasa, yaitu cinnamon caramel, choco sea salt, honey spiced, garlic salted, whole natural, serta rendang spiced. Untuk kemasan seberat 100 gram, harganya dipatok sebesar Rp45.000. Sementara itu, untuk kemasan 20 gram hanya dibanderol senilai Rp15.000.

Untuk bisa bersaing dengan produk impor, La Mente membuat kemasan yang mampu menarik mata konsumen. Jika umumnya produk kacang mede lokal hanya dibungkus dengan plastik bening, maka tiga sekawan ini membuatnya lebih modern dan eye catching.

Tiap bulannya, La Mente dapat menjual 500-1.000 kemasan. Biasanya, pesanan datang dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok. Tetapi, produk ini juga sering dijadikan buah tangan oleh masyarakat Indonesia yang berkuliah atau bekerja di luar negeri.

La Mente bahkan termasuk dalam 10 besar finalis Food Startup Indonesia 2016 yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan pernah ikut serta dalam Thaifex World of Food Asia 2016 di Thailand.

Sayangnya, deretan prestasi itu belum cukup membuat masyarakat tertarik untuk lebih sering mengonsumsi kacang mede. Selama ini, kacang mede masih dianggap sebagai camilan khas di momen-momen tertentu saja, seperti Idulfitri dan Natal.

 "Kalau di luar negeri, kacang mede menjadi pelengkap minum kopi atau teh. Kacang mede juga enggak bikin kolesterol," ujar Nur.

Untuk memasarkan produk ini lebih luas lagi, La Mente berniat menjualnya lewat ritel modern mulai tahun depan. Apalagi, saat ini mereka sudah memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). (Annisa Margrit)

 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top