PELUANG USAHA: Raih Cuan Lewat Mengajar Bermain Ombak

"Kalau pengen (bisa) surfing itu harus berani," begitu kira-kirapenegasan Sahara Budi, Operational Officer Adventure Lombok kepada Bisnis.
Eka Chandra Septarini | 04 Februari 2018 12:55 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- "Kalau pengen (bisa) surfing itu harus berani," begitu kira-kirapenegasan Sahara Budi, Operational Officer Adventure Lombok kepada Bisnis.

Memang tidak ada batasan usia jika ingin belajar surfing. Namun, rata-rata peminat untuk belajar bermain dengan ombak ini berusia di bawah 35 tahun.

Adventure Lombok merupakan salah satu penyedia jasa layanan surfing course di Pulau Lombok sejak 2010. Pulau ini memang dikenal dengan pantainya yang indah, ombak Lombok pun sayang jika hanya dipandang.

Menyediakan layanan surfing course untuk tingkat dasar, para peminat surfing banyak datang ke Adventure Lombok banyak berasal dari Australia dan Eropa. Bahkan, dikalangan wisatawan Australia, ada satu lelucon yang mengatakan 'jika tidak bisa surfing, bukan orang Australia'.

"Kami menyediakan layanan untuk pemula. Namun belum bisa sampai mendapatkan lisensi. Jadi kami fokus pada fun surfing," ujar Budi.

Untuk bisa mengikuti paket belajar surfing, setidaknya para peserta harus merogoh kocek sekitar Rp600.000 untuk tiga jam dengan minimal peserta dua orang. Dengan harga tersebut, peserta hanya perlu menyiapkan mental dan pakaian renang saja. Segala keperluan dan peralatan untuk belajar surfing sudah disiapkan oleh Adventure Lombok.

Selama tiga jam para peserta akan mulai diajarkan untuk mengenal papan, mencoba di atas pasir, 'menangkap' ombak, dan kemudian akan dipandu oleh instruktur untuk langsung mencoba surfing di pantai. Jika sedang dalam masa regular season, kursus surfing hanya dilakukan dua hari dalam seminggu. Namun, bila sedang musim libur lebih intensitas kursus pun ditingkatkan.

Sadar pasar untuk bisnis ini banyak berasal dari luar negeri, Adventure Lombok pun menyiapkan diri dengan standard keamanan internasional. Pasalnya, bisnis yang dijalankan banyak berhubungan dengan alam yang memiliki risiko yang cukup besar.

Budi menyadari, berbisnis yang erat kaitannya dengan alam tidak bisa dipaksakan untuk mengikuti kehendak manusia. Latihan surfing hanya dilakukan jika kondisi cuaca dan laut mendukung.

Beberapa hal yang mempengaruhi antara lain, lokasi yang dipilih harus memiliki ombak yang ‘melo’ atau cukup kuat tetapi tidak berbahaya. Untuk pemula, Adventure Lombok memilih lokasi pantai Senggigi dan Mangsit yang dianggap cocok bagi mereka yang ingin berlatih surfing.

Selain faktor alam, tantangan yang dihadapi dalam menjalankan bisnis ini adalah belum adanya provider lokal yang mampu menyediakan kebutuhan peralatan surfing yang menunjang. Adventure Lombok harus memesan peralatan surfing yang memadai ke Pulau Bali. Selain itu, kondisi pariwisata Lombok yang masih belum stabil juga menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi.

Tergabung menjadi bagian dari Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) membuat promosi yang dilakukan Adventure Lombok bisa lebih luas. Pada beberapa kesempatan, Asita memberi ruang untuk melakukan promosi di berbagai kota di Indonesia hingga ke luar negeri.

 “Cukup membantu karena ada dorongan juga dari Asita. Sejauh ini kerja sama dengan agen luar negeri masih belum efektif karena banyak hal detail yang kadang ditanyakan konsumen tidak bisa djelaskan dengan baik oleh agen luar. Kami cukup memahami, karena mereka bukan orang lapangan,” ujar Budi.

Ke depan, Budi menyebut pihaknya menargetkan untuk bisa menambah layanan aktivitas wisata yang bisa dilakukan agar bisa memberikan pengalaman liburan yang lebih lengkap kepada wisatawan. (k16)

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top