INFLUENCER MEDSOS: Ayla Dimitri, Dari Fesyen Jadi Content Creator

Nama Ayla Dimitri di kalangan pencinta fesyen tentu sudah familiar, pernah bekerja di majalah fesyen ternama sebagai fashion editor. Kini, Ayla dikenal sebagai content creator yang mengulas fesyen, travel dan lifestyle.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 26 Februari 2018  |  09:29 WIB
INFLUENCER MEDSOS: Ayla Dimitri, Dari Fesyen Jadi Content Creator
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Nama Ayla Dimitri di kalangan pencinta fesyen tentu sudah familiar, pernah bekerja di majalah fesyen ternama sebagai fashion editor. Kini, Ayla dikenal sebagai content creator yang mengulas fesyen, travel dan lifestyle.

Ayla memang akrab dengan dunia fesyen sejak kecil karena sang ibu yang memang menekuni dunia fesyen sebagai model.

Booming sosial media Instagram dan latar belakang bekerja di dunia fesyen, menjadi momentum Ayla untuk membagikan konten menarik seputar fesyen yang ternyata mendapatkan respons positif.

“Sambutannya oke, dan I gain followers lumayan cepat,” katanya kepada Bisnis.

Mulai dari saat itu, tawaran kerja sama di sosial media datang menghampiri Ayla, ketika itu merasa industri digital sangat berkembang dan menarik untuk dieksplorasi.

Sekitar pada 2015, Ayla memberanikan diri berhenti dari pekerjaannya dan memilih untuk menekuni profesi content creator secara serius.

“Influencer itu label yang diberikan orang, itu tidak bisa datang dari diriku, karena being influencer, it’s thing you can’t label for yourself,” katanya.

Keputusan ini ternyata berbuah manis, kini Ayla dikenal sebagai influencer yang dipercaya brand-brand ternama, mulai dari Nike, TRESemmé, Tokopedia dan lainnya.

Beragam produk lainnya seperti merek fesyen, produk kecantikan, gawai, minuman, hotel, resort, maskapai penerbangan, restoran pernah bekerja sama dengan Ayla.

Menjadi content creator justru Ayla terus berupaya mendisiplinkan dirinya untuk bisa membuat konten yang menarik bukan hanya sekadar senang-senang saja.

“Jadi aku expand my platform ke Youtube, dulu ada blog tapi isinya lebih ke portfolio kerja karena dulu aku basisnya fashion stylist kan,” katanya.

Saat ini, di platform Instagram dengan akun ayladimitri telah memiliki 218.000 pengikut, di Youtube Ayla Dimitri memiliki sekitar 12.000 subscribers dengan konten fesyen, gaya hidup sehat, dan beauty. Kemudian, untuk website masih terus dikembangkan kontennya, dengan mayoritas konten tentang fesyen.

“For now Instagram [lebih banyak buat konten], hopefully mid year aku sudah bisa seimbangin konten semuanya. Audiens ku mungkin lebih banyak di Instagram, hopefully kontennya bisa seimbang semua platform,” jelasnya.

Menurutnya dengan menjadi content creator memiliki banyak peluang selama tahu bagaimana agar selalu kreatif dan mengembangkan konten dengan cara pandang masing-masing.

Dia tidak menampik jika banyak yang ingin menjadi content creator dengan berkembangnya sosial media. Namun, kembali angle dan cara menyampaikan pesan dari content creator tersebut menjadi keunikannya.

Ayla mengatakan content creator yang menjadi influencer juga dapat disebut entrepreneur karena ibaratnya ada investasi modal yang dilakukan, ada porses kreatif, nilai tambah. Adapun modalnya dalam bentuk gawai, waktu, riset, dan lainnya.

“Sebenarnya proses kreatif yang dibutuhkan di balik itu semua ada asas dasar wirausaha, kreatif untuk ada added value, jadi bisa disebut wirausaha,” jelasnya.

Ayla mengungkapkan ketika mulai serius menjadi content writer, ada bujet khusus dan modal tersendiri yang dikeluarkan, seperti membeli kamera, laptop, merancang kantor sendiri di rumah dengan segala peralatan seperti printer dan lainnya. Belum lagi jika dibutuhkan tim tambahan dalam proses membuat konten.

“Setiap orang beda-beda [modalnya] karena ada yang set up studio sendiri, atau backdrop, properti foto, itu tergantung kebutuhan karena harga kamera juga beda-beda,” jelasnya.

Adapun ketika awal memulai, Ayla telah dipercaya Nike sejak sekitar 2012 akhir hingga saat ini sebagai salah satu influencer. Mulai dari menggunakan produk, datang ke event, mencoba produk dan memberikan pendapat, serta membuat video untuk kampanye digital.

“Itu salah satu achievment terbesar aku, kami kekeluargaan kalau sama Nike, karena aku juga ketagihan olahraga. Nike percaya saya dan saya percaya dengan produknya jadi kami berkolaborasi, mereka pasti ada point tertentu mengapa kerja sama dengan aku. So far brand yang kerja sama tidak maksain personality yang bukan aku,” katanya.

Selain itu, saat ini Ayla juga memiliki kerja sama dengan Tokopedia sebagai kurator untuk produk-produk fesyen yang ada di platform ini. Kemudian, Ayla juga menjadi fashion expert dari TRESemmé.

“Alhamdulillah sampai sekarang, aku selalu kerja sama dengan brand yang aku percaya, aku juga pakai produknya dan produknya mau share hal yang positif. Alhamdulillah selama ini kerja samanya selalu positif sama brand-brand,” jelasnya.

Ayla mengatakan antara kerja sama brand dan influencer biasanya ada kesepakatan termasuk soal tarif. Namun, dia tidak berkenan untuk menyebutkan nilainya secara lebih jelas.

“Intinya sebagai content creator semakin rajin bekerja pasti hasilnya makin baik. Semakin malas, semakin tidak ada hasilnya,” ujarnya.

Ayla mengatakan menjadi content creator memikul beban kerja yang sama dengan ketika dia bekerja di perusahaan. Justru, sebagai individu yang menjadi content creator, tanggung jawab yang dipikul sendiri.

Memiliki bekal dan latar belakang bekerja di perkantoran juga menjadi bekal Ayla untuk etika bekerja secara profesional dalam pekerjaan yang sekarang.

Selain itu, dengan basis pendidikan desain komunikasi visual ketika berkuliah di Universitas Pelita Harapan juga memberikan bekal ketika Ayla akan membuat konten, seperti komposisi, dan lainnya.

Saat ini, sebagai content creator, Ayla biasanya menyajikan empat konten video dalam waktu satu bulan di platform Youtube. Untuk Instagram setidaknya ada tiga posting dalam satu hari.

“Dalam sebulan ada berapa depends on client juga, biasanya selaraskan dengan klien, tapi personal, at least tiap hari kalau sosial media ada yang naik, kalau Youtube seminggu sekali,” katanya.

Ayla mengatakan sebagai content creator juga memiliki tantangannya tersendiri, seperti kreativitas karena konten yang dihadirkan harus memiliki visibilitas yang tinggi diantara konten yang lain.

“Kadang orang masih menandang sebelah mata influencer atau content creator, karena ini baru ada. Menurutku, itu sih, mengubah perspektif orang bahwa content creator juga kerja keras dan naro semua energi untuk menjadikan ini sebuah pekerjaan. Jangan sampai yang mandang sebelah mata ini, menghentikan kita,” jelasnya.

Menurutnya, bagi yang ingin menjadi content creator, seseorang harus memastikan memiliki modal untuk gawai seperti kamera, smartphone, dan laptop. Kemudian, kreativitas untuk membuat konten menarik serta yang paling penting yaitu mengetahui minat personal.

“Karena dengan tahu personal interest kita, akan lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk share apapun itu, konten, dan lainnya,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
instagram

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top