Angel Rich, 'The Next Steve Jobs'

Hanya terhitung dua pekan sejak peluncurannya, popularitas aplikasi Credit Stacker melejit dan diunduh sekitar 200.000 orang ke dalam ponsel ataupun tablet mereka. Oleh Forbes, penemunya yang bernama Angel Rich, disebut sebagai \'The Next Steve Jobs\'.
Renat Sofie Andriani | 26 Februari 2018 07:34 WIB
Angel Rich - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Hanya terhitung dua pekan sejak peluncurannya, popularitas aplikasi Credit Stacker melejit dan diunduh sekitar 200.000 orang ke dalam ponsel ataupun tablet mereka. Oleh Forbes, penemunya yang bernama Angel Rich, disebut sebagai 'The Next Steve Jobs'.

Melalui perusahaan yang didirikannya bernama The Wealth Factory, Angel menelurkan Credit Stacker. Aplikasi ini mengajarkan para pelajar tentang keuangan pribadi, manajemen kredit, dan kewirausahaan dengan cara yang menarik, mudah, dan menyenangkan.

Dinilai sangat inovatif dan catchy, Credit Stacker dinobatkan sebagai produk literasi finansial terbaik di Amerika Serikat (AS) oleh Office of Michelle Obama, game pembelajaran terbaik di AS oleh Departemen Pendidikan AS, dan solusi terbaik di dunia untuk mengurangi kemiskinan oleh JP Morgan Chase.

Dilansir Business Women, Credit Stacker juga memenangkan tempat teratas di beberapa kompetisi bisnis, termasuk Industrial Bank Small Business Regional Competition dan Black Enterprise Elevator Pitch Competition.

Tak main-main, Angel pun dipandang sebagai seorang pelopor teknologi, dengan Forbes menyebutnya penerus almarhum Steve Jobs, inovator legendaris AS yang terkenal sebagai otak di balik Apple. Siapakah sebenarnya 'malaikat' ini?

Melek Finansial Sejak Kecil

Angel terlahir sebagai generasi keempat sebuah keluarga yang telah lama menetap di Washington D.C. Tumbuh di dalam keluarga yang biasa bergulat dengan jualan produk asuransi, Angel mengerti benar pentingnya pengetahuan tentang uang dan finansial sejak usia dini.

Ia adalah lulusan Hampton University dan pernah mengenyam pendidikan di University of International Business and Economics di Beijing, China. Angel diketahui telah memperlihatkan otak cemerlangnya sejak di bangku sekolah.

Saat berkuliah, ia memenangkan Goldman Sachs Portfolio Challenge karena algoritma yang dikembangkannya menghasilkan keuntungan portofolio bersih sebesar 2% justru saat kondisi pasar menurun pada 2008.

Pada 2009, ia memenangkan National Case competition yang digelar tahunan oleh Prudential, melalui rencana pemasarannya untuk mencapai kaum milenial. Ia lalu berkesempatan menjadi analis riset pasar global untuk Prudential dan melakukan lebih dari 70 studi modifikasi perilaku keuangan.

Angel telah mulai mengonsepkan ide aplikasi Credit Stacker pada 2009 namun tidak meninggalkan pekerjaannya sampai tahun 2012. Dilansir Forbes, ia membantu perusahaan menghasilkan pendapatan senilai lebih dari US$6 miliar selama bekerja untuk Prudential dan menerima bonus sebesar US$30.000.

Terlepas dari segala prestasinya di Prudential, ia terus merencanakan dan mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih besar. Sebuah perjalanan misi ke Salawa, Kenya, akhirnya menginspirasinya mengambil lompatan tersebut.

“Dalam perjalanan itu, saya bertemu dengan seorang anak laki-laki yang hanya mengenakan sebuah t-shirt dari University of Pennsylvania Wharton Business School dan sedang minum dari aliran air yang kotor,” kenangnya.

“Pengalaman itu mengguncang saya. Aku sadar betapapun pintarnya anak itu, dia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menghadiri sekolah itu. Masa depan keuangan seseorang tidak bisa dibatasi hanya karena di mana mereka dilahirkan.”

The Wealth Factory

Dalam sebuah wawancara dengan business website 1776, Angel berkata sejak masih berusia 6 tahun dia telah tahu ingin mendirikan sebuah perusahaan yang terkait dengan pengetahuan finansial untuk membantu para pemuda.

Pada 2013, bersama rekannya bernama Courtney Keen, Angel mendirikan The Wealth Factory dengan misi menyediakan akses yang sama rata terhadap pendidikan finansial berkualitas di seluruh dunia.

The Wealth Factory adalah sebuah startup yang merancang dan membuat games pengembangan literasi finansial baik untuk pelajar maupun orang dewasa. Proyek perusahaan ini, sebuah aplikasi bernama Credit Stacker, diunduh 200.000 kali dalam waktu hanya dua pekan sejak peluncuran awalnya.

“Kami membuat rangkaian games yang mencakup spektrum penuh tentang topik-topik keuangan dan keterampilan hidup yang mungkin mempengaruhi keuangan, hal-hal seperti bagaimana merencanakan perguruan tinggi, kesiapan karir, serta bagaimana menjalankan usaha kecil,” tutur Angel kepada The Washington Post.

“Game pertama kami disebut Credit Stacker. Game ini mensimulasikan laporan kredit. Ada pula berkas-berkas berbeda yang Anda pindahkan dalam game itu. Ini berkorelasi dengan pembayaran premi dan keseluruhan utang yang harus Anda bayar, serta berkorelasi dengan nilai kredit Anda,” jelasnya.

Ia mengakui menggunakan pengalamannya bekerja di Prudential untuk menjadikan The Wealth Factory perusahaan seperti sekarang ini.

Credit Stacker

Melalui Credit Stacker, ia berharap pengguna akan belajar lebih banyak tentang keuangan pribadi dan hal itu akan terbawa ke bagian lain kehidupan mereka. “Ini tidak hanya tentang games,” kata Angel.

“Secara sistematis kami mengubah perilaku, dan karena itulah kami melacak keputusan yang dibuat konsumen. Kami benar-benar memiliki algoritma back-end yang dibuat di setiap modul untuk mensimulasikan fungsi produk finansial yang sesungguhnya.”

Dengan menggunakan teknik gamification, modul Stacker Kredit mengajarkan penganggaran, penghematan, investasi, manajemen kredit, perbankan, pembiayaan mobil, bantuan keuangan, pajak, real estat, kewirausahaan, perencanaan akademik, dan kesiapan karir. Sangat berguna bagi masa depan anak ataupun persiapan masa pensiun.

Tak heran jika Credit Stacker menerima banyak penghargaan karena pendekatannya yang dinilai unik terhadap literasi finansial. The Wealth Factory pun dinobatkan sebagai salah satu perusahaan pendidikan teknologi terbaik tahun 2015 oleh National Alliance of Public Charter Schools.

Seiring berjalannya waktu, aplikasi Credit Stacker telah tersedia dalam empat bahasa, tersebar di 40 negara, dan dengan cepat mencapai angka 1 juta unduhan.

“Siapapun bisa memainkannya. Aplikasi ini telah diuji coba dengan orang-orang berusia antara 4 sampai 80 tahun. Pakar game telah mengevaluasinya dan berpikir bahwa, seperti halnya catur, ini akan dimainkan beberapa generasi ke depan,” jelasnya bangga.

Dengan segala pengakuan yang didapatkan Credit Stacker, akan mudah memonetisasi aplikasi ini dan berfokus pada keuntungan saja. Namun sebaliknya, Angel terus fokus pada dampaknya bagi para pengguna.

Aplikasi ini gratis diunduh dan model pendapatannya adalah menghasilkan uang dari sisi back-end dari para pengiklan selain kontrak-kontrak, termasuk yang Angel raih dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS. Ia juga berhasil mendapatkan kemitraan dengan Departemen Asuransi, Sekuritas, dan Perbankan Washington D.C.

Pada waktunya, langkah ini kemungkinan akan diikuti perusahaan-perusahaan finansial besar lainnya seperti NASDAQ, J.P. Morgan & Chase, dan Wells Fargo.

“Pelanggan kami adalah sekolah, keluarga, pemerintah, lembaga keuangan, kami belum pernah bertemu dengan calon pelanggan yang tidak menginginkan produk kami,” katanya optimistis.

Melawan Ketidaksetaraan

Meski kehidupan dan karirnya terdengar mulus, tidak berarti tak ada tantangan yang dihadapinya. Terlahir sebagai wanita Afro-Amerika, Angel masih mengalami perjuangan menjadi pendiri wanita kulit hitam sebuah startup dan semua yang menyertainya.

“Seorang pendiri wanita kulit hitam memiliki cukup banyak kesulitan, tidak diperhatikan, kurang terwakili, dan diremehkan. Bagaimana cara meningkatkan modal, pada umumnya, adalah hal yang cukup menantang. Dan sebagai wanita Afrika Amerika, itu bisa menjadi lebih berat,” ujarnya berbagi, seperti dikutip Essence.

Tantangan utama bagi Angel adalah wanita masih sangat mengalami diskriminasi di bidang bisnis dan teknologi, dan perusahaan mereka tidak didanai secara adil. Kurang dari 20% modal usaha masuk ke perusahaan yang didirikan wanita. Bagi wanita kulit hitam, jumlahnya malah lebih rendah.

“Pesaing saya dapat menghimpun US$75 juta. Saya memenangkan produk finansial terbaik dan game pembelajaran terbaik. [Namun] perusahaan saya hanya menghimpun US$200.000,” tuturnya.

Salah satu dari banyak caranya melawan ketidaksetaraan ini adalah dengan menerbitkan sebuah buku tentang sejarah momen finansial penting yang telah membentuk pengalaman warga kulit hitam.

Buku bertajuk 'History of the Black Dollar' yang dirilis pada 2017 ini dimaksudkan untuk menginspirasi generasi muda untuk terus berjuang demi keadilan sosial ekonomi.

Seberat apapun tantangannya tak akan menghentikan Angel. Ia telah merancang banyak rencana mendorong perusahaannya, The Wealth Factory, untuk terus maju. Dia bertekad membuat tujuannya tercapai dan sejauh ini banyak yang telah dicapainya.

Kekuatan Wanita Kulit Hitam

Angel tidak hanya menciptakan akses yang lebih besar terhadap literasi finansial bagi komunitas kulit hitam dengan games-nya. Dia juga menggunakan perusahaannya untuk mempekerjakan wanita kulit hitam.

Popularitasnya dimanfaatkan menciptakan program-program komunitas dan industri bagi wanita kulit hitam di industri teknologi. The Wealth Factory memberdayakan kekuatan wanita kulit hitam. Ia menarik sejumlah lulusan dari universitas-universitas untuk kulit hitam dan wanita-wanita kulit hitam lainnya untuk membantu menumbuhkan perusahaan.

“Sungguh menakjubkan bisa dikelilingi wanita-wanita berbakat dan cerdas. Kami ramping, rapi, dan efisien - begitulah cara saya ingin beroperasi,” katanya.

Di luar kantor, Angel sangat aktif dalam industrinya dan telah membantu memulai komunitas seperti 'Chocolate Innovators', yang bertujuan membantu pengusaha kulit hitam menanjaki jalur startup, juga Black Female Founders (#BFF), yang berisikan pengusaha-pengusaha wanita kulit hitam serta menawarkan dukungan dan peningkatan saat memulai sebuah perusahaan.

Jadwal sibuk Angel dimulai pukul 8 pagi dan terkadang berakhir pada pukul 2 pagi, namun hasratnya untuk menciptakan akses dan membantu orang mendapatkan literasi finansial untuk membangun kekayaan generasi membuat semuanya layak dilakukan.

“Banyak pekerjaan yang dilakukan. Saya telah belajar dari waktu ke waktu betapa tangguh saya sebenarnya. Saya juga belajar pentingnya kerendahan hati, bagaimana menjadi rentan dengan orang-orang yang dapat Anda andalkan, bagaimana menjadi agresif bila perlu. dan yang terpenting, bagaimana hanya 'diam dan mendengarkan'.”

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top