WISATA ALAM: Melihat Eksotisme Bekantan Langsung dari Habitatnya

Bisnis.com, JAKARTA- Gaya hidup masyarakat milenial yang gemar jalan-jalan telah membuat bisnis online travel agent (OTA) tumbuh subur bak jamur di musim hujan.
Deandra Syarizka | 05 Maret 2018 09:56 WIB
Melakukan perjalanan wisata alam kian digemari, terutama kalangan milenial. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Gaya hidup masyarakat milenial yang gemar jalan-jalan telah membuat bisnis online travel agent (OTA) tumbuh subur bak jamur di musim hujan.

Meski demikian, nampaknya belum banyak OTA yang menawarkan paket ekowisata, alias wisata yang berwawasan lingkungan dengan mengedepankan aspek konservasi alam.

Hal itulah yang dilakukan oleh Maulana Kidangjati, pendiri Orangutan Kingdom, sebuah OTA yang menawarkan paket ekowisata ke daerah konservasi, tepatnya ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.

Berawal dari pengalamannya mengunjungi daerah tersebut bersama teman-temannya pada tiga tahun lalu, dia melihat fakta bahwa lebih banyak turis mancanegara yang tertarik oleh konsep ekowisata. Sementara tak banyak wisatawan nusantara yang tertarik dengan konsep tersebut, mengingat harga tiket pesawat yang hampir sama dengan harga paket wisata yang ditawarkan.

Padahal, dia melihat bahwa ekowisata dapat menjadi wadah edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi dan melestarikan alam. Selain itu, juga dapat membuka cakrawala pengunjung tentang konflik yang kerap terjadi antara para ranger [sebutan untuk penjaga hutan konservasi], dengan para pengusaha kelapa sawit di sana sehingga diharapkan pengunjung menjadi lebih peka terhap situasi sosial yang terjadi di sekelilingnya.

“Kalau dari sisi turis lokal, mungkin karena kurang marketing juga, dan orang lokal pun kurang peka dengan masalah lingkungan seperti itu, makanya saya kerja sama dengan salah satu teman warga sana untuk bikin Orangutan Kingdom,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat ini usaha yang dirintisnya itu telah berjalan sekitar dua tahun. Meskipun Maulana sendiri tinggal di Jakarta, namun kecanggihan teknologi cukup membantunya menjalani bisnisnya dari jauh sebagai koordinator, sedangkan urusan operasional di Tanjung Puting diserahkan kepada teman-teman ranger yang berjumlah hampir 20 orang.

Sebagaimana OTA lain pada umumnya, dia pun mengandalkan pemasaran melalui aktivasi media sosial dan situs online lainnya. Meski demikian, dia menilai pemasaran dari mulut ke mulut juga cukup membantunya membuka pasar bagi wisatawan mancanegara.

“Yang saya lihat kalau marketing turis lain datang bukan dari internet, tapi dari mulut ke mulut. Karena kalau di luar negeri ada komunitas sendiri terkait ecotourism,”

Sejauh ini, Orangutan Kingdom menawarkan dua jenis paket, yaitu paket backpacker dan koper. Untuk paket backpacker selama tiga hari dua malam, harganya dibanderol mulai dari Rp1,85 juta per orang. Sementara harga paket koper dengan durasi yang sama harganya mencapai Rp 4,6 juta per orang.

Yang membedakan keduanya adalah fasilitas menginap, bila pengunjung dengan paket backpacker menginap di kapal, maka paket koper menyediakan fasilitas menginap berupa hotel di tengah hutan. Namun selebihnya kedua paket tersebut menyediakan destinasi yang sama yaitu Sungai Sekonyer, Camp Tanjung Harapan, Camp Leakey, Pelabuhan Kumai. Di kedua camp tersebut, pengunjung dijanjikan dapat melihat langsung satwa liar seperti orang utan, bekantan, owa-owa berinteraksi satu sama lain di habitatnya langsung.

Maulana menjelaskan, untuk setiap perjalanan pihaknya mengeluarkan modal terlebih dahulu untuk sewa perahu, tiket masuk, dan penginapan. Namun nantinya semua itu akan tergantikan dengan keuntungan yang diperoleh dari setiap wisatawan.

Dia menggambarkan, rata-rata profit yang diraih dari setiap wisatawan lokal mencapai sekitar Rp300.000 hingga Rp400.000 per orang, sedangkan untuk wisatawan mancanegara mencapai hampir Rp1 juta.

“Karena saya kebetulan dari jauh dan kerja sama dengan masyarakat di sana, maka sistemnya bagi hasil. Misalkan dalam satu trip kita dapat keuntungan berapa, kita bagi rata saja,” ujarnya.

Dalam rentang waktu setahun, dia menilai triwulan pertama sejak Desember hingga Februari, OTA cenderung sepi peminat. Namun dia mengaku kebanjiran order saat memasuki musim libur kerja dan sekolah sejak Juli sampai Oktober, di mana jumlah pesanan dapat mencapai 20 perjalanan dalam periode tersebut.

Maulana pun mengaku tengah memikirkan cara untuk mengembangkan bisnisnya. Dia menjelaskan saat ini tengah berupaya mendapatkan perizinan dari Tetua Adat Dayak agar dapat mengunjungi Kampung Dayak pedalaman sebagai bagian dari paket wisatanya.

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top