Kisah Sri Tahir Ikhlas 'Buang' Harta untuk Kedermawanan

"Habitat saya adalah orang kecil, orang tidak beruntung. Tidak masalah harta saya dibagikan untuk masyarakat karena saya berhutang kepada negeri ini."
Rivki Maulana | 09 Maret 2018 08:05 WIB
Rektor Universitas Airlangga (Unair) Profesor Dr Moh. Nasih (kiri) dan Profesor Dr. Dato Sri Thahir (HC) menunjukkan disertasi dalam konferensi pers pada Rabu (7/3). - www.unair.ac.id

Bisnis.com, SURABAYA - "Habitat saya adalah orang kecil, orang tidak beruntung. Tidak masalah harta saya dibagikan untuk masyarakat karena saya berhutang kepada negeri ini."

Kalimat itu meluncur dengan nada haru dari mulut Dato' Sri Tahir, pendiri Grup Mayapada di hadapan guru besar dan handai tolan yang hadir di acara istimewa  pengukuhan gelar doktor kehormatan atau honoris causa dari Universitas Airlangga.

Tahir memang tajir. Dia dinobatkan majalah 'Forbes' pada 2017 sebagai orang terkaya ke-8 di Indonesia dengan kekayaan ditaksir mencapai US$3,5 miliar, setara Rp48 triliun.

Meski punya harta melimpah, Tahir selalu ingat masa kecilnya yang susah. Dia berkisah, cita-citanya menjadi dokter kandas karena tak punya uang untuk biaya kuliah. Tak dinyana, sekarang Tahir menjadi salah satu dermawan atau filantropis terpandang di Indonesia yang menggelontorkan banyak derma di bidang kesehatan.

Salah satu aksi filantropis terbesar Tahir adalah ketika dia menyumbang US$75juta untuk The Global Fund dalam rangka melawan TBC, HIV, dan Malaria di Indonesia. Dalam sumbangan itu, Tahir bermitra dengan Bill & Melinda Gates Foundation, yayasan sosial milik taipan Bill Gates.

Kemitraan filantropi itu menghasilkan total sumbangan US$150 juta karena Bill & Melinda Gates Foundation turut menyumbang dana setara dengan yang disumbangkan oleh Tahir.

Bagi Tahir, filantropi bukan sekadar sedekah dan bukan pula perpuluhan. Dia menegaskan, kedermawanan merupakan komitmen terhadap nurani yang tidak boleh dipengaruhi pasang surut renjana. Tahir mengungkapkan, dia ikhlas hartanya "dibuang" untuk aksi kedermawanan.

Pengungsi Suriah

Menurut Tahir, setiap bangsa memang memiliki pemahaman yang beragam soal kekayaan. Dia menggambarkan, bagi orang Barat, kekayaan bukanlah apa yang disimpan, tapi apa yang dikeluarkan. Sementara itu, orang Indonesia berpikir apa yang disimpan adalah kekayaan. Adapun orang China percaya bahwa kekayaan merupakan warisan yang cukup untuk anak-cucu.

Selain berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan, Tahir juga beberapa kali pergi ke kamp pengungsian warga Suriah. Pada tahun 2016, Tahir berkomitmen memberi donasi US$10 juta dan sebanyak US$2 juta telah disalurkan untuk kampanye global Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa (UNHCR), Nobody Left Outside.

Tahir berkisah, dia pernah ditanya koleganya soal risiko mengunjungi tempat pengungsian warga Suriah. Dia menyebut, dirinya tak takut mati dan siap menghadapi risiko terburuk.

"Kalau saya meninggal di sana [kamp pengungsian Suriah] karena dibom, saya gak takut. Tapi, kalau mati di Alexis, malu lah saya. Seumur hidup anak dan istri saya menanggung malu," katanya yang sontak membuat hadirin tertawa.

Kunci Sukses

Sejatinya cerita soal kedermawanan Tahir adalah selingan orasi ilmiahnya di Sidang Universitas Airlangga, Kamis (8/3/2018). Tahir berpidato soal potensi ekonomi Indonesia yang belum dikelola secara optimal. Gelar doktor honoris causa untuk Tahir memang diberikan dalam bidang ekonomi dan kebijakan publik.

Aksi filantropi Tahir tentu didukung jumlah hartanya yang banyak. Jalan untuk meraih itu, menurut Tahir, bukan perkara mudah. Baginya, selain kerja keras, kaya akan pengetahuan dan informasi menjadi kunci sukses bisnisnya.

Saban hari, dia mengaku bangun subuh dan membaca tujuh koran. Tahir juga mengaku tak suka keluyuran malam. Saat malam, dia hanya hobi menonton televisi, mengikuti perkembangan dunia.

"Saya gak suka nonton roman picisan. Saya lihat [tayangan] international news, hal-hal demikian harus saya kuasai," ujarnya.

Dalam catatan Bisnis.com, Grup Mayapada saat ini merambah ke berbagai sektor, mulai dari jasa keuangan hingga media. Di bisnis media, Mayapada memegang lisensi Forbes Indonesia dan juga berinvestasi di harian domestik terbesar di China Guo Ji Ri Bao.

Di bidang jasa keuangan, Mayapada memiliki Bank Mayapada, Asuransi Zurich Topas Life, dan Asuransi Sompo Japan Nipponkoa Indonesia. Dalam bisnis kesehatan, bisnis Mayapada mencakup memiliki jaringan RS Mayapada dan klinik Your Clinic lewat entitas PT Prima Healthcare Solutions.

Di sektor properti, Grup Mayapada memiliki empat gedung di CBD Jakarta dengan luas lebih dari 100.000 m2. Tahir juga memecahkan rekor dengan membeli Strait Trading Building seharga US$560 juta di 2016. Pada Januari 2018, Tahir membeli 6,1% saham PT Sentul City TBK senilai Rp1,17 triliun.

Tag : dato sri tahir
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top