Randi Zuckerberg, Bukan Sekadar Kakak Perempuan Bos Facebook

Tak hanya oleh Mark Zuckerberg, perkembangan Facebook ternyata tak lepas dari anggota klan Zuckerberg lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, Randi Zuckerberg mampu membuktikan ia tak sekadar kakak yang mendompleng nama besar perusahaan adiknya itu.
Renat Sofie Andriani | 12 Maret 2018 10:16 WIB
Randi Zuckerberg - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Tak hanya oleh Mark Zuckerberg, perkembangan Facebook ternyata tak lepas dari anggota klan Zuckerberg lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, Randi Zuckerberg mampu membuktikan ia tak sekadar kakak yang mendompleng nama besar perusahaan adiknya itu.

Wanita berusia 36 tahun tersebut baru beberapa tahun menggeluti pekerjaan idamannya di raksasa periklanan Ogilvy & Mather, saat menerima ajakan untuk bergabung dalam sebuah perusahaan kecil yang didirikan adiknya di Silicon Valley.

Di kemudian hari, perusahaan kecil ini melejit dan populer dengan nama Facebook.

Randi menghabiskan sekitar tujuh tahun di Facebook, ikut membangun citra internasional Facebook serta mengembangkannya menjadi raksasa seperti saat ini. Pada 2011, ia memutuskan hengkang untuk meluncurkan perusahaannya sendiri bernama Zuckerberg Media.

Sukses membuktikan kecakapannya berwirausaha, beberapa tahun berikutnya, Randi telah menyeimbangkan hidupnya dengan menulis dua buku, berkeluarga, dan bahkan tampil di Broadway.

Siapa dan bagaimana sebenarnya cerita wanita cantik yang pernah didaulat masuk dalam daftar “50 Digital Power Players” versi The Hollywood Reporter ini?

Sulung Empat Bersaudara

Randi Jayne Zuckerberg lahir di Westchester County, New York pada 28 Februari 1982. Ia adalah anak pertama buah cinta pasangan Karen Kempner dan Edward Zuckerberg, yang menjalankan bisnis perawatan gigi.

Berturut-turut setelah Randi adalah kelahiran Mark, Arielle, dan Donna Zuckerberg. Bagi sang Ayah, membesarkan anak-anaknya adalah proyek terpentingnya.

“Kami tidak berlagak memiliki keterampilan khusus dalam hal membesarkan anak. Yang terbaik yang dapat saya katakan adalah bahwa, sebagai orang tua, Anda dapat merancang kehidupan yang Anda inginkan untuk anak-anak Anda, tapi mungkin itu bukan hidup yang mereka inginkan,” ujar Ed.

“Anda harus mendorong mereka untuk mengejar hasrat mereka. Dan Anda harus meluangkan lebih banyak waktu untuk mereka daripada yang Anda habiskan untuk hal lain,” lanjutnya suatu ketika.

Dilansir The Famous People, atas desakan ibunya yang merupakan psikiater, Randi memilih psikologi untuk jurusan kuliahnya. Dia juga belajar bahasa Ibrani dan musik di perguruan tinggi.

Terpesona oleh musik dan teater, Randi pun bermimpi untuk menjadi aktris Broadway suatu hari nanti. Pada 2003, ia akhirnya berhasil meraih gelar sarjananya dari jurusan psikologi Harvard University.

Terbujuk Rayuan Bos Facebook

Selepas lulus dari Harvard, Randi sempat bekerja selama dua tahun di bidang marketing untuk Ogilvy & Mather. Dalam beberapa artikel dan wawancara, ia mengaku sangat menikmati bekerja dalam biro iklan ternama tersebut dan memiliki prospek karir yang cerah.

Kemudian pada 2005, sang adik yang drop out dari kampusnya, yakni Mark, membujuk Randi agar mau bekerja untuknya dalam sebuah startup rintisan kecil yang dinamai Facebook.

Dilansir Daily Telegraph, pada suatu malam, dia dan Mark, yang saat itu baru berusia 21 tahun duduk dalam kantor Facebook, di atas sebuah restoran China. Mark kemudian memberi tawaran gaji beserta jumlah opsi saham yang akan diterima jika Randi bersedia bergabung.

“Saya mencoret opsi saham, menaikkan angka gaji, dan menyodorkannya kembali. Lalu Mark mengambil pena dan menuliskan ulang tawaran aslinya. Dia seolah berkata 'Percayalah, kamu tidak menginginkan apa yang kamu pikir kamu inginkan',” ungkap Randi di kemudian hari.

Randi pun bergabung dengan Facebook serta didaulat menjadi juru bicara dan Direktur Pengembangan Pasar. Salah satu karyanya selama bekerja di Facebook adalah menciptakan Facebook Live yang telah tersedia untuk dua miliar orang di seluruh dunia.

Ada taksiran yang menyebutkan bahwa nilai kekayaan Randi mencapai sekitar US$100 juta pada April 2017. “Saya senang dia [Mark] berhasil membujuk saya [waktu itu],” kata Randi. Hanya itu yang bisa dia katakan.

Zuckerberg Media

Dilansir CAA Speakers, beberapa lamanya setelah menggeluti bidang teknologi, Randi menghadapi dilema dengan bekerja di Silicon Valley.

Di satu sisi, ia merayakan semangat inovatif, kewirausahaan, dan disrupsi berpikir masa depan. Tapi di sisi lain, ia bertanya-tanya tentang keberadaan kaum wanita dan kaum kulit berwarna lain.

Setelah menghabiskan bertahun-tahun menjadi salah satu dari segelintir wanita yang terjun di bidang itu pada masanya, Randi mendedikasikan bab karir profesional berikutnya untuk memajukan, memperjuangkan, dan berinvestasi pada wanita melalui perusahaannya.

Pada 2011, ia memutuskan mengundurkan diri dari Facebook untuk mendirikan Zuckerberg Media, sebuah perusahaan marketing dan media yang didirikannya sendiri.

Sejak memulai perusahaan ini, Randi telah memproduksi berbagai acara dan konten digital di antaranya untuk The Clinton Global Initiative, Cirque du Soleil, Conde Nast, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Resep Sukses Berwirausaha

Baginya, wirausaha bermuara pada sejumlah faktor utama. “Pertama-tama, Anda harus melihat kewirausahaan seperti halnya otot. Sama seperti ketika Anda pergi ke gym untuk memastikan kondisi tetap fit, Anda harus menjaga agar otak wirausaha Anda tetap sehat,” ujar Randi.

Ia merekomendasikan pemecahan masalah dan berpikir dengan cara-cara disruptif agar otak tetap aktif dan tajam terhadap gagasan-gagasan baru.

“Kedua, Anda harus mengikuti tren-tren terbaru,” lanjutnya, seperti dikutip CNBC. “Saat iPhone keluar, hal itu mengubah setiap bisnis di bidang teknologi. Jika Anda tidak selangkah lebih maju dari tren, Anda tertinggal.

Hal ini, tambahnya, menjadi semakin penting dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan laju perkembangan teknologi yang meningkat.

Yang terakhir, ia menegaskan bahwa Anda harus fokus menjual versi terbaik dari diri Anda sendiri. “Bagaimana Anda menampilkan diri Anda sangat penting,” kata Randi.

“Kita semua melakukan penjualan, sepanjang waktu, setuju atau tidak. Setiap saat Anda mengajukan kemitraan, untuk investasi ataupun mencoba merekrut orang-orang hebat untuk bekerja sama dengan Anda, Anda melakukan penjualan,” tambahnya.

Panggilan Hati Wanita

Di kemudian hari ia pernah mencetuskan gagasannya tentang bagaimana semua pihak dapat bekerja sama menuju masa depan, dengan perusahaan bernilai miliaran dolar berikutnya yang didirikan oleh para wanita.

Ia telah memiliki pengalaman panjang menjadi salah satu dari sedikit wanita di lini depan industri teknologi selama bekerja untuk Facebook. Kadang-kadang dia bahkan akan menyarankan wanita yang ingin terjun di bidang itu agar memiliki nama kelaki-lakian seperti 'Randi'.

“Karena saya tidak bisa sebutkan berapa banyak pertemuan yang saya dapatkan setelah mengirimkan email kepada seseorang [dengan nama saya] namun kemudian ternyata yang muncul adalah saya [seorang wanita],” sindirnya.

Kondisi dewasa ini menurutnya telah lebih baik bagi para wanita.”Saya pikir ini adalah saat yang tepat untuk menjadi wanita untuk berbisnis. Saya pikir ada banyak peluang pembiayaan, banyak wanita sekarang yang menjadi investor sendiri,” katanya.

Namun ia juga menyebutkan bahwa wanita masih menghadapi perjalanan panjang dan menanjak di masa mendatang sehubungan dengan menyeimbangkan tanggung jawab keseimbangan di rumah dan di tempat kerja.

Randi sendiri diketahui telah menikah dengan Brent Tworetzky pada 2008 dan memiliki dua putra. Putra pertama mereka bernama Asher lahir pada 1 Mei 2011, sedangkan putra keduanya yakni Simcha lahir pada 10 Oktober 2014.

Di luar kesibukannya berkarir, Randi telah merilis dua buku berjudul “Dot Complicated” sebuah buku non-fiksi dewasa, dan “Dot” sebuah buku bergambar anak-anak yang diterbitkan dengan HarperCollins.

Karyanya tersebut menjadikan Randi masuk dalam jajaran penulis buku laris versi New York Times untuk buku-buku non-fiksi dan anak-anak. Ia juga menyumbangkan suaranya sendiri untuk karakter dalam adaptasi kartun “Dot”.

Batasi Penggunaan Media Sosial

Dalam buku “Dot Complicated” yang dipublikasikan pada November 2013, Randi memaparkan beberapa fakta menarik. Suatu jajak pendapat menemukan bahwa seperempat responden wanita rela tidak berhubungan intim dengan pasangannya selama setahun asal bisa tetap terhubung dengan tablet mereka.

Sekitar 15% bahkan bersedia tidak melakukannya sama sekali daripada harus pergi tanpa smartphone pada akhir pekan. Sementara itu, sekitar 40% lebih suka dipenjara semalaman daripada melepaskan akun Facebook.

Randi ingin menekankan bahwa ia tidak antiFacebook, tapi tampaknya ia telah mencapai ambang batas toleransi bermedia sosial. Ia menyerukan agar kita tidak lagi melihat dunia melalui kamera smartphone saja.

Dia mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa kita cenderung merasakan tekanan paling besar untuk membayar utang kepada orang asing dibandingkan dengan orang terdekat kita.

“Mungkin ini menjelaskan mengapa kita merasakan tekanan untuk segera merespons e-mail dari orang yang sebenarnya tidak kita ketahui, dan mengabaikan e-mail kerabat dalam inbox kita,” jelas Randi.

“Saya telah sampai pada suatu titik dimana alih-alih membutuhkan komputer, telepon, dan tablet, perangkat-perangkat itulah yang membutuhkan saya,” katanya.

Tag : facebook
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top