Bangun Usaha Co-working Space Murah Meriah

Geliat ekonomi di Bali memang dipacu oleh sektor pariwisata, ditopang dengan pesona alam serta atraksi budayanya.
Ni Putu Eka Wiratmini | 13 Maret 2018 13:12 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Geliat ekonomi di Bali memang dipacu oleh sektor pariwisata, ditopang dengan pesona alam serta atraksi budayanya.

Seiring dengan terpacunya pertumbuhan ekonomi Bali yang ditopang sektor pariwisata, sekaligus menciptakan pasar yang memikat bagi sejumlah pebisnis. Tidak heran, jika saat ini bermunculan usaha rintisan (startup) di Pulau Dewata.

"Orang berpikir Bali hanya tempat buat main-main [wisata}, itu yang juga ingin kami ubah. Bali juga bisa memberi hal lain selain sunset dan pantai," kata Faye Alund pemilik Kumpul Co-working Space dan KE{M}BALI Inovation Hub.

Kumpul berlokasi di Plaza Renon, salah satu pusat perbelanjaan di Bali yang berada di Denpasar. KE{M}BALI berada di Sunset Road yang berada di kawasan Seminyak.

Faye menilai, dengan adanya pembangunan infrastruktur serta sejumlah fasilitas lainnya yang menyokong aktivitas wisata di Bali, akan makin mendukung iklim usaha.

Namun, pola pikir masyarakat lokal lebih memilih menjadi pekerja. Faye mengungkapkan data, dari 10.000 lulusan technopreneur di Bali, hanya 10% yang membuka usaha.

Menurut dia, saat ini pertumbuhan wirausaha di Indonesia masih kecil yakni sekitar 0,8%. Padahal jika dilihat dari segi luas wilayah, Indonesia seharusnya bisa menyamai pertumbuhan pebisnis seperti di Singapura yang mencapai 5%-10% per tahun.

Lantaran itu pula, Faye meyakini Bali perlu memiliki co-working space.

Hal menarik yang ditawarkan Faye adalah dia menyewakan tempat bekerja dengan harga terjangkau. Bisa dikatakan biaya yang dikeluarkan dengan bekerja di co-working space-nya bersaing dengan uang yang dibelanjakan jika memilih menyelesaikan tugas di kedai kopi, misalnya.

Faye mengenakan tarif sewa tempat bekerja mulai dari Rp30.000 per jam atau Rp2,5 juta per bulan. Dia menututurkan, karena lebih membidik komunitas lokal, maka biaya sewa ruang atau menjadi member tergolong murah. Biaya sewa yang diterapkannya diklaim lebih rendah dibandingkan pesaing.

Penyewa co-working-nya tidak sebatas orang lokal, asing pun juga menggunakan jasa sewa tempat bekerja tersebut.

Faye mengatakan makin digemarinya bekerja di co-working space, dipicu kesempatan untuk bertemu dengan pekerja atau sejumlah pebisnis lainnya saat berada di ruang sewa bekerja tersebut.

"Selama ini dari co-working space yang kami kelola, ada sesama member yang tahu-tahu menulis buku bersama, ada juga yang membuka bisnis bareng," katanya.

Perempuan yang giat bekerja tersebut, membangun Kumpul Co-working Space pada 2014. Sementara KE{M}BALI muncul pada awal Maret 2018.

Awalnya, Faye menyewa satu lantai di Rumah Sanur Creative Hub yang berkapasitas 50 orang. Di sana, dia tidak hanya menyediakan meja, kursi, maupun fasilitas Internet ke pengunjung. Berbagai kegiatan penunjang bisnis juga diadakan, misalnya seminar.

Bisnis sewa tempat bekerjanya berkembang pesat, untuk itu Faye membutuhan kapasitas ruang yang lebih besar lagi. Dia memilih satu pusat perbelanjangan untuk Kumpul, dan membangun gedung dua lantai untuk KE{M}BALI yang ditarget mampu menampung hingga 100 orang.

Dia mengharapkan dengan dengan adanya peluang bertemu sejumlah pihak di co-working space, akan makin meningkatkan jumlah usaha rintisan di Bali.

"Penting untuk Bali memiliki ekosistem usaha yang bagus, [demikian juga untuk] daerah [wisata] lain seperti Lombok dan Labuan Bajo.

 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top