PELUANG BISNIS: Dekorasi Bunga Kertas Bawa Berkah

Niat untuk fokus mengurus keluarga membuat Septi Dwi Mirantika pun mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai staf di salah satu media televisi nasional pada dua tahun lalu.
Deandra Syarizka | 01 April 2018 09:34 WIB
Bunga kertas percantik tampilan dinding. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Niat untuk fokus mengurus keluarga membuat Septi Dwi Mirantika pun mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai staf di salah satu media televisi nasional pada dua tahun lalu.

Kondisi itu pula yang mendorongnya untuk memberanikan diri merintis usaha baru di bidang dekorasi, yaitu bunga kertas atau yang populer disebut paperflower.

Ketertarikan Septi terhadap paperflower bermula ketika dia menghadiri pesta pernikahan temannya yang menggunakan dekorasi bunga kertas tersebut. Penampilan dekorasi yang cantik membuatnya lebih serius mempelajari secara otodidak pembuatan paperflower melalui kanal video Youtube.

“Modal awalnya hanya Rp300.000-an, belajar sendiri dari Youtube, lalu iseng posting [hasilnya] di Instagram,” ujarnya.

Tak disangka, dalam bulan pertama dia pun langsung mendapatkan dua pesananan untuk paperflower melalui media sosial tersebut. Meskipun terbilang baru, namun mayoritas konsumennya tak kesulitan menemukan produk jualannya melalui tagar di Instagram.

Melihat potensi tersebut, Septi pun mulai menenekuni bisnis Queenapaper, yang diambil dari nama anaknya, secara lebih serius.

Kini, Septi tak hanya mengandalkan Instagram sebagai alat pemasaran. Dia pun mulai merambah situs penjualan online lainnya seperti Bukalapak, Shopee, dan Tokopedia. Alhasil, bisnisnya yang dikerjakan dari rumahnya di Bekasi ini mulai dipesan oleh konsumen luar kota, sebut saja Jepara, hingga Jambi.

Untuk membuat paperflower yang awet dan berkualitas, dia menggunakan kertas berbahan jasmine yang cukup tebal dan memiliki kilau yang menarik. Paket yang ditawarkan pun beragam, mulai dari paket termurah Rp100.000 yang berisi enam paperflower beragam ukuran, hingga paket paling mahal seharga Rp350.000 yang menawarkan 25 paperflower beraneka macam warna dan ukuran.

“Kami gunakan kertas jasmine yang biasa buat undangan pernikahan. Lalu ukiran daunnya kita bedakan bentuknya dengan toko semacam biar dikenal dan menjadi ciri khas Queenapaper,” jelasnya.

Belum genap setahun dirintis sejak Oktober 2017, bisnis Queenapaper mulai menunjukkan peningkatan. Modal awal Rp300.000 pun hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk kembali dan berputar. Hingga kini, setiap bulan Septi mengaku dapat menerima 30 hingga 40 pesanan paket paperflower. Dari setiap paket yang terjual, dia mengaku dapat memetik untung hingga 40%.

“Biasanya dipesan mayoritas untuk [dekorasi] tunangan, wedding, buat aqiah, tujuh bulanan dan acara ulang tahun juga bisa,” jelasnya.

Hingga saat ini, dia masih mengelola bisnisnya seorang diri. Septi biasanya meluangkan waktu di malam hari setelah anaknya tertidur untuk membuat paperflower pesanan pelanggannya.

Untuk membuat satu paket paperflower, dia membutuhkan waktu rata-rata dua hingga tiga jam dalam sehari. Guna menjaga kualitas bunga kertasnya agar tidak penyok, dia pun menggunakan kardus yang dibungkus plastik untuk mengantisipasi sewaktu-waktu terjadi hujan saat pengiriman.

Dia menjelaskan, salah satu tantangan menjalankan bisnis tersebut adalah memastikan ketersediaan stok bahan baku kertas jasmine yang warnanya sesuai pesanan pelanggan. Sejumlah warna seperti merah jambu, marun dan emas merupakan warna yang paling laris dipesan.

“Pernah sih [kesulitan menemukan bahan baku], kayak sekarang ini sudah hampir dua bulan warna pink agak susah. Jadinya kita tawarin warna lain,” ujarnya.

Saat ini dia mengatakan fokus untuk menjalankan bisnisnya. Dalam jangka panjang, Septi tak memungkiri niat untuk mengembangkan bisnis dekorasinya ke ranah lain seperti penyewaan backdrop, mengingat orang tuanya juga memiliki bisnis penyewaan alat pesta.

Namun sejauh ini, dia mengaku cukup senang bahwa bisnis paperflower-nya berhasil membawa rezeki untuknya, sekaligus membuatnya tetap dekat dengan keluarga. 

 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top