BISNIS MILENIAL: Paprici, Petani Muda Masa Kini

Profesi petani mungkin masih dipandang tidak menarik bagi kalangan generasi muda. Namun, lain dengan Rici Solihin, Owner Paprici Segar Barokah.
Agne Yasa | 01 April 2018 10:02 WIB
Kalangan usia muda juga tertarik usaha bertani. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Profesi petani mungkin masih dipandang tidak menarik bagi kalangan generasi muda. Namun, lain dengan Rici Solihin, Owner Paprici Segar Barokah.

Pemuda kelahiran Bandung 20 Agustus 1990 ini merintis usaha sejak masih mahasiswa. Rici memulainya dengan membangun bisnis perdagangan dan supplier sayuran yang diberi nama Segar Barokah dengan komoditas utama paprika.

Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk komoditas paprika tetapi tidak diiringi oleh pasokan yang stabil dari petani, akhirnya Rici memutuskan untuk membuka usaha pertanian paprika pada awal 2012 yang diberi nama Paprici Segar Barokah.

Paprici Segar Barokah merupakan usaha pertanian sayuran antik seperti tomat cherry, timun kiury, daun mint, serta paprika sebagai komoditas utama. Namun, dia tidak menutup kemungkinan untuk komoditas lainnya.

Pada 2012 Rici memulai usaha pertanian paprika dengan menggunakan modal sekitar Rp50 juta yang digunakan untuk membuat green house paprika dengan luas lahan 600 m2 dan pengadaan sistem hidroponik beserta modal kerja selama 3 bulan pertama.

Rici mengungkapkan modal tersebut memang cukup besar mengingat sebagian besar digunakan untuk pembangunan aset. Untuk mendapatkan modal terebut, dia menjalin kerja sama dengan investor.

“Hanya bermodalkan rencana bisnis, saya mampu menghimpun modal dari perlombaan bisnis, beasiswa hingga suntikan dana dari angle investor sehingga sangat membantu saya dalam membangun bisnis pertanian paprika,” jelasnya.

Rici memiliki bekal, dengan latar belakang pendidikan yang menunjang yaitu pendidikan S-1 studi Manajemen dan Bisnis di Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi kewirausahaan. Kemudian, jenjang S-2 di program studi Magister Ilmu Manajemen Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi Manajemen Operasional yang berfokus pada Manajemen Rantai Pasok.

“Berbekal ilmu pengetahuan tersebut, akhirnya saya gunakan untuk membuat sistem Papri-GO atau Paprici Grocery Online yakni sistem penjualan secara Business to Consumer atau B2C guna menghubungkan langsung petani dengan konsumen yang saat ini telah dilakukan sebagian besar di area Bandung dan beberapa tempat di Jakarta,” jelasnya.

Paprici memiliki basis kebun di Desa Pasirlangu, Kab. Bandung Barat yang dikenal sebagai sentra pertanian paprika di Indonesia karena mampu memenuhi ±70% jumlah permintaan nasional. Saat ini pihaknya telah mendistribusikannya di area Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan bahkan pernah melakukan ekspor ke Singapura.

Adapun target market paling besar bagi Paprici saat ini adalah menjadi supplier bagi pasar tradisional secara B2B (business to business) dalam partai besar.

Untuk cara sosialisasi dalam menjangkau target market B2B dilakukan melalui direct selling dengan penawaran secara langsung serta menerima permintaan secara online pada website resmi http://paprici.com.

Kemudian, target market tambahan melalui layanan Papri-GO di area terbatas di Bandung dan Jakarta dengan melakukan pemasaran melalui agen atau reseller yang telah mendaftar sebelumnya, untuk memudahkan distribusi barang. Selain itu, melalui event bazar yang diselenggarakan oleh instansi.

Untuk sosialisasi dengan para petani binaan yang dilakukan yaitu membentuk kelompok tani dan memberikan penyuluhan. Saat ini Paprici telah memiliki 30 petani binaan yang tergabung dalam kelompok tani Kharisma yang ada di sekitar Kab. Bandung Barat serta jumlah pasar yang mampu kami penuhi permintaannya mencapai 10%.

“Akan terus meningkat seiring dengan perluasan lahan yang akan kami lakukan,” ujarnya.

Rici mengungkapkan model bisnis yang saat ini diterapkan untuk pendapatan masih mengandalkan keuntungan dari penjualan komoditas sayuran segar secara langsung. Namun, dia juga mulai mengembangkannya dengan pendapatan dari pelatihan pertanian, penjualan media dan saprotan serta produk olahan.

Adapun jumlah produk yang mampu distribusikan per bulannya lebih dari 1 ton khusus untuk jenis paprika hijau, merah dan kuning.

Rici mengungkapkan Paprici menargetkan rata-rata produksi 1,5 ton per bulan untuk produksi tahun ini seiring dengan perluasan lahan yang telah dilakukan akhir tahun lalu.

Terkait persaingan, menurutnya kompetitor di segmen B2B cukup banyak apalagi banyak bandar atau tengkulak yang bermain.

Akan tetapi untuk menghadapi pemain besar yang sebelumnya telah ada, Paprici mulai menyasar juga retail kecil dan horeka yang mampu menyerap hasil panen secara stabil melalui pemasaran secara online. Selain itu, dengan mengandalkan reseller yang lebih ringkas guna menekan jumlah perantara.

Adapun saat ini Paprici masih dalam tahap pengembangan produk dan uji pasar domestic untuk produk makanan olahan.

“Ini karena target usaha saya dalam satu tahun ke depan adalah pada tahun 2018-2019 adalah menjadikan usaha Paprici sebagai integrated value chain in agribusiness,” katanya.

Dia menjelaskan Paprici targetnya mampu mengintegrasikan usaha pertanian dari hulu ke hilir khususnya pada penciptaan produk olahan yang mampu mengolah sayuran pilihan menjadi produk yang bernilai jual tinggi di pasaran.

Menurutnya, yang membedakan usaha pertanian Paprici dengan usaha sejenis lainnya adalah pihaknya menekankan bahwa usaha pertaniannya harus mempunyai tujuan yang jelas (business with purpose) supaya dapat berkelanjutan.

“Tujuannya supaya mampu meningkatkan kesejahteraan petani lokal baik dari tingkat pendapatan hingga tingkat pendidikan karena mayoritas petani di pedesaan memiliki pendapatan dan tingkat pendidikan yang rendah,” katanya.

Salah satu unit bisnis yang mulai dikembangkannya itu membuat komunitas petani muda dan komunitas reseller supaya memotong rantai pasok guna mendapatkan margin pendapatan yang lebih tinggi, menawarkan harga yang kompetitif serta barang yang lebih segar karena segar itu tidak perlu mahal.

Rici mengatakan tidak adanya tenaga kerja yang berminat bekerja di bidang pertanian karena menjadi petani dianggap tidak menguntungkan.

Rata-rata pendapatan petani lokal saat ini mencapai Rp1 juta per bulannya atau di bawah UMK. Maka dari itu untuk meningkatkan minat untuk tertarik di bidang pertanian Rici membentuk komunitas petani muda yang tergabung dalam gofarmtastic.com.

Menurutnya, untuk melakukan usaha di bidang pertanian yang pertama kali perlu dipahami dalam melakukan bisnis adalah untuk mengetahui pasar dan sumber daya yang dimiliki.

Dia menambahkan untuk sukses itu tidak harus selalu merantau ke ibukota untuk bekerja di perusahaan internasional akan tetapi pemuda yang sukses itu adalah pemuda yang mau kembali ke desa dan mengembangkan daerahnya agar dikenal secara internasional.

“Harapan saya bagi para petani terus berjuang memperlihatkan bahwa petani itu tidak harus selalu identik dengan imej tua, kotor dan ketinggalan zaman melainkan petani masa kini itu adalah petani muda, bersih, modern dan tentunya sangat menguntungkan,” jelas Rici yang merupakan Juara 1 Duta Petani Muda Indonesia periode 2016.

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top