Brit Morin, The Next Martha Stewart

Brit Morin berhasil melesat dari 'cuma' seorang karyawan Google menjadi pemilik perusahaan media ternama di Amerika Serikat (AS), yang menginspirasi dan mendidik kaum hawa untuk menjadi lebih kreatif melalui konten DIY (Do-It-Yourself).
Renat Sofie Andriani | 02 April 2018 09:50 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Brit Morin berhasil melesat dari 'cuma' seorang karyawan Google menjadi pemilik perusahaan media ternama di Amerika Serikat (AS), yang menginspirasi dan mendidik kaum hawa untuk menjadi lebih kreatif melalui konten DIY (Do-It-Yourself).

Hanya sekitar enam tahun sejak pendirian Brit + Co., wanita cantik berusia 32 tahun ini telah berhasil menghimpun dana lebih dari US$42 juta. Komunitas yang dibangunnya terdiri dari ratusan juta orang. Sementara itu, lebih dari 70% tenaga kerjanya adalah wanita.

“Wanita ingin melihat bahwa mereka tidak sendirian dan bahwa orang lain juga memiliki peluang. Mereka mungkin gagal, mungkin juga berhasil, kemudian mereka bangkit dan mencoba lagi,” ujar Brit dalam konferensi Recode Code Media, seperti dikutip CNBC.

Semua ini dimulai dari kecintaannya sejak kecil dalam berkreasi menciptakan barang-barang. Menginjak dewasa, minatnya beralih pada teknologi dengan menggaet peluang di sejumlah perusahaan ternam.

Pada usia yang masih terbilang muda pula, ia mengambil langkah berani berwirausaha dengan mengombinasikan dua hal yang dicintainya tersebut untuk melahirkan Brit + Co. Berikut cerita tentang 'Martha Stewart' dari Silicon Valley ini.

Apple & Google

Lahir pada tanggal 6 Desember 1985 di San Antonio, Texas, Brittany “Brit” Morin sangat menyukai hal-hal kreatif seperti memasak. Setelah lulus dari University of Texas jurusan bisnis dan komunikasi, ia pindah ke Silicon Valley dan bekerja untuk Apple.

“Saya memulai di Apple melalui kesempatan magang yang diiklankan dalam Craigslist [situs iklan di AS]. Sepertinya aneh jika Apple beriklan, jadi saya tidak berpikir iklan itu nyata,” ujarnya, dikutip Business Insider.

Namun iklan itu memang nyata. Brit berhasil mendapatkan kesempatan magang di raksasa teknologi tersebut dan mulai bekerja untuk unit iTunes pada tahun 2006.

Tak sampai setahun, ia digaet oleh Google untuk bekerja dalam unit Google Maps dan Google Search. Di situlah ia bertemu dan bekerja dengan bakal mentornya, Marissa Mayer, salah satu pejabat eksekutif Google saat itu.

Brit kemudian direkrut secara internal untuk bergabung dengan unit YouTube dan lalu bekerja untuk unit Google TV.

Terobsesi Pada TechShop

Selama hampir empat tahun bekerja di Google, beberapa hal terjadi dan akan mengubah jalan hidupnya. Ini dimulai saat ia mengambil cuti beberapa bulan dari Google untuk merencanakan pernikahannya hingga pergi berbulan madu.

Sebelum mempersiapkan pernikahannya, sebenarnya ia sedang merencanakan membangun sebuah perusahaan sendiri di bidang kesehatan dan kebugaran bersama seorang mitra kerja.

Pada saat yang sama, workshop TechShop pertama dibuka di San Francisco. Tempat ini seperti pusat untuk membuat segalanya. Cukup dengan membayar US$100 sebulan, setiap anggota memiliki akses ke semua jenis peralatan dan bebas berkreasi.

“Workshop ini dibuka pada 2011 dan saya adalah salah satu anggota pertamanya. Saya berpikir benar-benar bisa menghabiskan hari-hari di sana. Bagi saya ini seperti sebuah hobi. Saya bisa membuat apapun dan kemudian menjadi terobsesi padanya,” jelas Brit.

Latar belakang Brit di bidang teknologi membuatnya cukup mudah untuk mengenali dan menggunakan berbagai peralatan dalam TechShop. Ia membuat dekorasi untuk pernikahannya, serta banyak barang lainnya.

“Pada pernikahan saya, teman-teman wanita saya menghampiri dan memuji dekorasi yang saya buat. Mereka terus berkata jika mereka tidak kreatif dan berharap bisa kreatif. Saya menerima lebih banyak pujian dari banyak orang ketika menunjukkan barang lain yang saya buat,” terangnya.

Tanggalkan Rencana Lalu

Nuraninya pun menggeliat. Kata hatinya berkata bahwa perusahaan yang benar-benar ingin dia bangun sepatutnya membantu setiap orang menemukan kembali sisi kreativitas mereka.

“Saya akhirnya berpisah dengan mitra perusahaan kesehatan saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa permasalahannya ada pada saya, bukan padanya,” ujar Brit. Keputusan itu disebutnya sebagai saat yang menyedihkan.

“Kami berteman. Itu sulit. Kami bisa saja mendirikan sesuatu hal yang baik dan saya bisa menjadi CEO sebuah perusahaan kesehatan pada saat ini. Tapi saya belajar untuk mengikuti intuisi saya dan berani,” lanjutnya.

Sementara itu, Brit harus memulai segalanya dari awal. Dia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan kemudian.

Brit + Co.

Setelah hengkang dari Google, ia mendirikan 'toko' di ruang makannya serta meluncurkan sebuah situs dengan namanya sendiri yang membantu para wanita dengan proyek-proyek DIY pada akhir 2011.

“Saya melakukan segala sesuatu sendiri selama satu atau dua bulan, berpura-pura memiliki perusahaan media yang besar dan mencoba menciptakan banyak konten. Lalu saya dapat merekrut seorang insinyur, editor, dan seniman untuk membantu membuat konten,” kenangnya.

Tahun pertama diakuinya sebagai masa-masa perjuangan. Seperti layaknya startup baru, Brit + Co. harus berjuang melalui tahun pertama untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan dan bagaimana merekrut karyawan yang bersedia mengambil risiko.

Pada usia 25 tahun, Brit mencoba mengangkat perusahaannya serta menggaet investor-investor potensial. Tak jarang ia menerima pandangan meremehkan serta menghadapi berbagai jenis diskriminasi.

Beberapa investor tidak dapat memahami tujuan maupun target perusahaan yang menyasar wanita muda. Tetap saja, ia yakin kemampuan dan kreativitasnya akan dapat menggaet investor sekaligus menggiring perusahaan tumbuh.

Ia berusaha persuasif dengan menjelaskan bahwa Brit + Co. adalah perusahaan teknologi yang akan berdiri di antara perusahaan media dengan dukungan iklan dan pasar kerajinan senilai US$34 miliar yang didominasi oleh toko-toko besar seperti Michael's, Joanne's, dan Hobby Lobby.

Hal unik lain yang ia kemukakan tentang Brit + Co. adalah pendidikan online untuk mendidik pemula cara membuat barang, lengkap dengan 'kotak peralatan' yang berisikan segala yang dibutuhkan. Tak hanya membantu membuat, perusahaan juga bertujuan membantu menjual barang-barang yang dibuat.

“Saya meyakinkan para pemodal dan karyawan bahwa ini adalah hal nyata yang terjadi. Yakinlah kepada saya. Berpartisipasilah dan saya berjanji ini akan berhasil,” katanya.

Sukses Besar

Jerih payahnya terbayar. Brit saat ini dinilai sebagai salah satu pemimpin wanita media digital. Adapun Brit + Co. menjadi salah satu perusahaan media digital terbesar untuk wanita serta menjangkau komunitas yang terdiri lebih dari 175 juta pengguna secara online dan di seluruh platform.

Puluhan juta tayangan video telah dihimpun, dengan ratusan buah konten yang dihasilkan setiap bulan. Tak hanya secara online, Brit + Co. memahami pentingnya menjalin koneksi secara offline.

Baik melalui festival Re:Make yang digelar tahunan atau produk-produknya, perusahaan menciptakan pengalaman tanpa batas yang memungkinkan para pengguna membentuk hubungan yang mendalam dengan komunitas.

Awal tahun ini, Brit + Co. menjadi tuan rumah konferensi cryptocurrency yang menarik minat sekitar 15.000 wanita penuh antusiasme untuk belajar tentang topik tersebut.

“Brit & Co. benar-benar menjadi platform yang berbicara tentang pemberdayaan perempuan, bagaimana mengemukakan pendapat sendiri di tempat kerja, memperjuangkan pekerjaan yang Anda inginkan, atau memberi tahu seseorang jika Anda didiskriminasi,” ujar Brit.

The Next Martha Stewart

Brit sering disebut sebagai “The Next Martha Stewart” atau “Martha Stewart 2.0,”. Martha Stewart adalah seorang pebisnis sekaligus pakar DIY dan perencana ternama di AS. Perusahaan mereka pada dasarnya berjalan di lingkaran yang sama.

“Saya memetakan rencana pertumbuhan dan ekspansi sebelum kami memulai. Saya tahu pertama-tama kami harus fokus pada konten dan membangun komunitas, lalu kami dapat berekspansi ke dalam perdagangan, dll,” ujar Brit.

“Sebagian besar kami telah berada di jalur yang benar. Saya berharap untuk terus tumbuh dan akhirnya [membangun] merek seperti Martha Stewart atau Disney,” tambahnya.

Dengan investasi baru senilai US$20 juta, Brit juga melakukan akuisisi pertamanya untuk SnapGuide, aplikasi iOS gratis dan layanan web yang memungkinkan pengguna membuat dan berbagi panduan langkah demi langkah.

Selain Marissa Meyer, investor Brit + Co. di antaranya adalah Jim Fielding, kepala Produk Konsumen dan Ritel di DreamWorks Animation, Intel Capital, DMGT (bagian perusahaan media Daily Mail), dan VC Fred Harman di Oak Investment Partners (Demand Media, Huffington Post, aQuantive).

Bukan Aji Mumpung

Brit menikah dengan Dave Morin, pendiri Path dan investor puluhan startup. Sebelum mendirikan layanan media sosial tersebut, Dave telah lama dikenal sebagai mantan pegawai Facebook.

Banyak yang menganggap keberhasilan Brit adalah karena nama suaminya. Dalam suatu wawancara dengan Wired, Brit berbagi cara menghadapi asumsi negatif ini.

“Saya tidak merasa seperti korban, dan saya mencoba untuk tidak menganggap diri saya sebagai seorang korban. Saya bisa katakan tidak ada pemodal yang akan berinvestasi dalam perusahaan yang tidak memiliki metrik pertumbuhan yang sukses dan rencana pendapatan yang solid,” tandas Brit.

“Saya memulai perusahaan ini ketika berusia 25 tahun dan tidak memiliki pengalaman kewirausahaan sebelumnya. Saya begitu tidak percaya diri dengan kurangnya pengalaman," ungkapnya, dikutip Forbes.

"Tetapi saya terus berusaha meyakinkan diri bahwa saya cukup pintar untuk mencari tahu seperti apa yang terjadi,” katanya.

Dengan kerja keras serta keinginan belajar, ia percaya siapapun dapat membangun dan membuat apapun yang diinginkan, tidak peduli usia ataupun kurangnya pengalaman yang dimiliki.

“Lakukan apa yang Anda cintai. Jangan biarkan takut akan kegagalan menghambat keinginan untuk berusaha. Setiap kegagalan akan mengajarkan kita hal lainnya tentang bagaimana menjadi berhasil.”

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top