Louis Vuitton, Pemuda Miskin Pendiri Brand Fesyen Ternama Dunia

Siapa tidak tahu brand Louis Vuitton? Merek fesyen kelas atas ini merupakan salah satu brand dengan valuasi saham yang sangat besar.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 13 April 2018 13:13 WIB
Logo Louis Vuitton di salah satu gedung di Jenewa, Swiss. - Reuters/Denis Balibouse

Bisnis.com, JAKARTA -- Siapa tidak tahu brand Louis Vuitton? Merek fesyen kelas atas ini merupakan salah satu brand dengan valuasi saham yang sangat besar. 

Namun, tak banyak yang tahu kalau merek asal Paris, Prancis yang lahir pada 1854 ini didirikan oleh seorang pemuda miskin yang menggunakan namanya sendiri sebagai identitas produk-produk karyanya.

Louis Vuitton lahir di Anchay, Jura, Prancis Timur pada 4 Agustus 1821. Ayahnya, Xavier Vuitton, adalah seorang petani dan ibunya, Corinne Gaillard, adalah seorang pembuat topi.

Dia memiliki kehidupan yang normal layaknya anak kecil kebanyakan sampai berusia 10 tahun, ketika sebuah tragedi menimpa keluarganya dan sang ibu meninggal dunia.

Setelah ibunya tiada, Vuitton senior memutuskan untuk menikah lagi dan ibu tirinya sangatlah disiplin. Vuitton junior yang mulai beranjak remaja dikenal sangat keras kepala dan selalu memiliki ketidakcocokan dengan ibu tirinya.

Memasuki usia remaja, Vuitton sudah terlihat penuh dengan ambisi. Dia juga bosan menjalani kehidupan yang sederhana di desa dan berencana untuk melarikan diri dari rumah.

Pada usia 13 tahun, Vuitton pun memantapkan hati untuk pergi ke Paris dan mencari keberuntungan di sana. Dia nekad nekad mewujudkan mimpinya pergi ke kota besar tersebut sendirian dengan berjalan kaki pada 1835.

Perjalanan menuju Paris ternyata memakan waktu kurang lebih dua tahun. Untuk bertahan hidup, Vuitton remaja melakukan pekerjaan sambilan. Dia juga tidur di mana pun asal tidak kehujanan ataupun kepanasan. 

Saat itu, Revolusi Industri sudah memasuki Paris. Kota itu pun menawarkan banyak peluang untuk para pengusaha dan pengrajin untuk mengembangikan ide-ide brilian mereka.

Awal Karir dan Mendirikan Louis Vuitton

Saat usianya menginjak 16 tahun, Vuitton magang di tempat pembuat boks dan pengepakan barang yang dimiliki oleh pengusaha sukses, Monsieur Marechal. Pekerjaan ini sangat cocok dengan karakter diri Louis yang memang kreatif.

Pada abad ke-19 di Eropa, membuat boks adalah sebuah pekerjaan yang keren dan terhormat. Vuitton pun mampu membuktikan bahwa dirinya sangat terampil dalam membuat boks yang berkualitas baik.

Terbukti, beberapa tahun kemudian boks-boks buatan Louis menjadi favorit di kalangan pecinta mode dan bangsawan zaman itu. Keberuntungannya makin terlihat ketika dia ditugaskan membuat koper pribadi untuk Permasuri Eugénie de Montijo, istri dari Napoleon III pada 1853.

Vuitton diberi tanggung jawab untuk membuat koper pakaian khusus yang cocok dibawa sang permaisuri ke Tuileries Palace, Château de Saint-Cloud, dan berbagai kegiatan lain di resor tepi laut.

Lagi-lagi, dia unjuk gigi dan keluarga kerajaan sangat puas dengan produk serta jasa pengepakan yang dilakukannya. Ibarat kata, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, kepiawaian Vuitton tersebut sekaligus membuatnya makin terkenal di kalangan kaum elit dan para petinggi kerajaan lainnya.

Setelah makin terkenal, dia akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Setelah berhenti dari toko Marechal, Vuitton membuka toko pembuatan boks dan jasa pengepakannya sendiri pada 1854.

Tanda di luar tokonya bertuliskan “Securely packs the most fragile objects. Specializing in packing fashions.” Yang artinya; “Aman untuk membungkus benda-benda yang rapuh. Terutama untuk membungkus barang-barang fesyen.”

Perusahaan kecil rintisannya ini sudah disukai orang-orang dari awal berdiri dan makin terkenal ketika pada 1858 dia memperkenalkan kotak “stackable rectangular shaped” atau kotak berbentuk segi empat utuh. Pada saat itu, boks berbentuk segi empat dirasa lebih nyaman digunakan dibandingkan boks berbentuk bulat.

Pesanan pun berdatangan dan membuatnya produk buatannya semakin terkenal.

Mengikuti kesuksesan komersial boks berbentuk segi empatnya, Vuitton memperluas bisnisnya dan membuka bengkel produksi yang lebih besar di luar Paris. Tasnya menjadi sangat populer dan membuatnya menerima pesanan pribadi dari Khedive Mesir Ismail Pasha, penguasa Mesir saat itu.

Pada 1867, perusahaan ini berpartisipasi dalam Exposition Universelle, sebuah pameran internasional yang diselenggarakan di Paris. Demi melindungi produknya dari duplikasi para pesaing fesyennya, Vuitton mengubah desain Trianon menjadi desain dengan garis-garis beige dan cokelat pada 1876.

Pada 1885, dia membuka toko pertamanya di London, Inggris di Oxford Street. Pada 1888, karena duplikasi yang terus-menerus dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, Vuitton pun menciptakan desain dengan pola Kanvas Damier, yang mengenakan logo yang bertulisan "marque L. Vuitton déposée", yang artinya "merek dagang terdaftar L. Vuitton".

Bisnisnya sempat mengalami kemunduran selama Perang Perancis-Prusia pada 1870-1871, saat itu bengkel pembuatan boksnya dijarah dan dihancurkan. Namun, karena sudah memiliki jiwa yang kuat sejak remaja, dia tidak membiarkan musibah tersebut membatasi ambisinya.

Bengkel produksi kembali dibangun usai perang berakhir dan tidak butuh waktu lama sampai bisnisnya kembali ramai. 

Palet monokrom dengan warna beige yang digunakan Vuitton dalam karya-karyanya pun akhirnya menjadi identitas yang tak terpisahkan dari brand ini sejak 1872. Kekhasan ini kemudian dilanjutkan oleh putranya, dengan membuat kanvas monogram yang menyertakan motif tanaman dan inisial LV.

Vuitton menutup mata untuk selama-lamanya pada 1892, dalam usia 70 tahun. Bisnisnya otomatis diwariskan kepada anaknya Georges Vuitton. Dia mewariskan merek fesyen yang kini sudah tersebar lebih dari 50 kota dan memiliki lebih dari 460 toko di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, harga produk dan merek dagang yang sudah berdiri selama kurang lebih 164 tahun ini sangat disukai dan terkenal terutama di kalangan kaum hawa kelas atas. Harga yang mahal tidak menyurutkan minat konsumen.

Bahkan, sekarang rangkaian produk Louis Vuitton tidak hanya mencakup koper tapi juga pakaian, parfum, dan aksesoris fesyen lainnya.

Kehidupan Pribadi dan Keluarga Louis Vuitton

Vuitton menikahi perempuan cantik yang sangat dicintai sampai akhir hayatnya, Clemence-Emilie Parriaux. Keduanya menikah pada 1854, yakni saat Parriaux masih berusia 17 tahun dan Vuitton sudah berusia 33 tahun pada 1854.

Pasangan ini dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahir pada 1857.

Selama hidupnya, Vuitton sempat mendapatkan penghargaan sebanyak dua kali karena karya-karyanya, yakni medali perunggu di Exposition Universelle pada 1867 dan medali emas serta hadiah utama di ajang yang sama pada 1889.

Tag : fesyen
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top