Jay Z dan Kerajaan Inggris jadi Investor di Aplikasi JetPribadi Milik Pria Ini

Sergey Petrossov CEO JetSmarter, sebuah aplikasi pemesanan JetPribadi bernilai miliaran dollar tidak pernah terpikirkan bahwa idenya akan banyak diminati oleh para selebriti dan orang-orang penting lainnya.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 20 April 2018  |  12:19 WIB
Jay Z dan Kerajaan Inggris jadi Investor di Aplikasi JetPribadi Milik Pria Ini
Sergey Petrosov - cnbc

Bisnis.com, JAKARTA- Sergey Petrossov CEO JetSmarter, sebuah aplikasi pemesanan JetPribadi bernilai miliaran dollar tidak pernah terpikirkan bahwa idenya akan banyak diminati oleh para selebriti dan orang-orang penting lainnya.

Idenya muncul ketika pada usia yang ke 21 tahun dia berkesempatan untuk naik JetPribadi dan kini dia sukses membuka layanan jasa untuk orang-orang bisa memesan JetPribadi dengan JetSmarter.

"Pada saat itu, saya tidak tahu itu akan menjadi bisnis," kata Petrossov seperti yang dikutip oleh CNBC.

Di awal membuat JetSmarter, jelas bukanlah perjalanan yang mudah baginya yang saat itu (pada 2009) baru lulus dari University of Florida.

Dia juga banyak diragukan karena memperkenalkan sistem digital pada saat itu masih sangat awam di dunia industri.



"Saya melihat peluang sejak awal. Dari 2009 hingga 2012, saya pergi ke pameran perdagangan pribadi dan melakukan beberapa nasihat," katanya.

Menjelaskan bahwa dia berpikir untuk membuat aplikasi digital agar orang dapat dengan mudah menemukan dan memesan jet pribadi untuk dipakai.

Diperjalannya, dia menyadari bahwa industri jet pribadi saat itu belum terlalu bisa dimanfaatkan. Karena pada 2012, ekonomi berbasis jaringan daring seperti Airbnb dan Uber berkembang sedemikian rupa, namun jet pribadi hanya terbang dengan kapasitas rata-ra ta 10-15%.

"Itu adalah penggunaan pesawat yang tidak efektif, perlu ada media berbagi," ungkap Petrossov.

Meskipun merupakan konsep tanpa aset, Petrossov dan chief technology officer barunya tahu bahwa ini akan menjadi usaha yang mahal. Mereka memutuskan untuk meluncurkan JetSmarter pada tahun 2013, beberapa investor di awal, sebelum akhirnya benar-benar mencari investor besar untuk aplikasi pemesanan jet pribadi mereka tersebut.

"Pertama, ada tema digital, tetapi berbagi membutuhkan lebih banyak sumber daya dan modal. Kami selalu tahu bahwa berbagi adalah bagaimana Anda dapat memperluas pasar," kata Petrossov.

Kucuran dana pun egera datang, dan sejak meluncurkan platform JetSmarter di 2015, kini platform ini telah menerima investasi dari beberapa investor profil tinggi termasuk rapper Jay-Z dan Kerajaan Arab Saudi.



Diposisikan sebagai "hibrida" untuk menurunkan biaya untuk selebaran pribadi yang ada, sambil memberikan kenyamanan yang lebih besar bagi pengguna baru, platform ini memungkinkan anggotanya untuk menjadwalkan penerbangan dan memesan kursi kosong di rute jet pribadi yang ada.

"Ini berevolusi menjadi konsep yang tidak hanya memberikan solusi bagi pengguna jet yang ada, tetapi juga bagi orang-orang yang terbang secara komersial dan menginginkan fleksibilitas," jelasnya.

Selama beberapa tahun terakhir, paket keanggotaan telah melalui beberapa literasi, memicu kritik dari beberapa pengguna yang kini juga dikenai biaya tambahan untuk karyawan pribadi. Tapi Petrossov mengatakan dia fokus pada "akses demokratisasi ke perjalanan pribadi."

Hari ini, untuk menjadi anggota dikenakan biaya keanggotaan US$ 5.000 per tahun, dengan berbagai biaya tambahan untuk memesan penerbangan dan memesan kursi kosong. Tingkat keanggotaan yang lebih tinggi mulai dari harga US$50.000.

"Kami ingin menetapkan standar baru. Ini bukan tentang eksklusivitas, ini tentang menyediakan perjalanan yang lebih efisien," katanya.

JetSmarter mengatakan saat ini sudah terdaftar 15.000 anggota, terutama pelancong bisnis, di AS, Eropa, dan Timur Tengah. Dalam beberapa tahun ke depan, Petrossov berharap dapat memperluas basis pelanggan ini dengan menawarkan biaya yang lebih rendah untuk perjalanan singkat.

"Tujuan kami adalah untuk mengambil pangsa pasar besar terhadap maskapai penerbangan komersial, khususnya bisnis dan kelas satu, terutama untuk rute di bawah lima jam," tukasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aplikasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top