Inovasi Boy Thohir & Iwan Lukminto

Karena hendak menjual saham ke publik pada 2008, Garibaldi Boy Thohir tak ingin perusahaan yang dipimpinnya, PT Adaro Energy Tbk., hanya menjual batu bara. Sebatas menambang, menjadikan investor malas melirik perusahaan itu. Adaro perlu nilai tambah.
Hery Trianto | 18 Mei 2018 09:39 WIB
Hery Trianto

Bisnis.com, JAKARTA -- Karena hendak menjual saham ke publik pada 2008, Garibaldi ‘Boy’ Thohir tak ingin perusahaan yang dipimpinnya, PT Adaro Energy Tbk., hanya menjual batu bara. Sebatas menambang, menjadikan investor malas melirik perusahaan itu. Adaro perlu nilai tambah.

Lalu, Boy memulai upaya yang belakangan disebut sebagai self disruption, sebuah upaya mencerabut dari akar bisnis sendiri, melahirkan sebuah inovasi, sehingga investor memiliki ekspektasi baru terhadap Adaro. Dalam bisnis, ekspektasi adalah kunci membangun optimisme.

Dia melakukan benchmarking pada dua perusahaan dengan karakter mirip dengan Adaro. Pertama, dengan Peabody Energy Corporation, sebuah perusahaan batu bara terbesar di dunia asal AS. Baik Adaro & Peaboy, punya produksi batu bara rendah sulfur dan residu (ash), yang diklaim ‘lebih ramah lingkungan’.

Peabody bergerak jadi produsen batu bara saja, dan menyerahkan sebagian besar proses produksi kepada para kontraktor. Karakter ini mirip dengan Adaro saat masih dikuasai oleh investor asal Australia.

Perusahan kedua adalah Shenhua Group Corporation Ltd. dari China. Menurut Boy, Shenhua menjadi perusahaan batu bara terintegrasi. Karena letaknya di pedalaman—sama dengan Adaro—Shenhua membangun infrastruktur sendiri berupa jaringan kereta, pelabuhan dan belakangan memiliki pembangkit listrik sendiri.

Lagi-lagi ini dianggap Boy se­ru­pa dengan Adaro terkini yang mem­bangun jalan serta pelabuhan. “Saya ti­dak mau rumit-rumit, dengan benchmarking, Adaro jadi tahu posisi, lalu punya tujuan hendak kemana,” tutur pria 53 tahun yang pada 2017 dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai orang terkaya no-23 di Indonesia dengan aset US$1,4 miliar ini.

Boy lalu mengenang pertama kali pergi ke China 25 tahun silam saat berbulan madu dengan Alinda, istrinya. Saat itu, sang istri langsung kapok untuk kembali karena kondisi China masih sangat tertinggal.

Namun, China kini jauh berubah, dengan segala macam kemajuan dan menjelma menjadi raksasa perekonomian dunia. Shenhua, adalah salah satu perusahaan milik negara yang kini begitu perkasa dalam melakukan ekspansi, termasuk membangun sejumlah pembangkit listrik skala raksasa di Indonesia.

Adaro lalu memilih ‘jalan Shenhua’ ini sebagai cara untuk mengubah diri menjadi perusahaan batu bara terintegrasi. Sepuluh tahun lalu, Boy telah mengusulkan kepada manajemen dan pemegang saham lain dan disetujui, ketika perusahaan sejenis merasa dengan menambang saja sudah kaya raya.

Kemauan untuk medisrupsi diri-sendiri inilah yang oleh Profesor Rhenald Kasali menjadi alasan mengapa Adaro masih eksis sampai sekarang. Mengutip Rhenald, Boy menyebut ‘kalau kalian [Adaro] tidak melakukan itu mungkin sekarang sudah gone.’

Selanjutnya, kita tahu, Adaro kini menjadi salah satu perusahaan publik paling menguntungkan, ditunjang oleh kecenderungan kenaikan harga batu bara. Perusahaan yang dimiliki Boy bersama pengusaha Theodore Permadi Rachmat, kini juga telah merambah bisnis pembangkit listrik dan mengembangkan batubara kokas (coking coal) sejak 2012.

Adaro Energy mengelola sumber daya 13,5 miliar ton. Tambang emiten ini tersebar di enam lokasi baik di Pulau Sumatra maupun Kalimantan. Sumber daya yang dikelola Adaro merupakan sepersepuluh dari batu bara seluruh Indonesia sebesar 124,8 miliar ton.

Seolah tak mau kembali ke zona nyaman, Boy terus ingin membawa Adaro memasuki kuadran bisnis baru. Salah satunya dengan apa yang dia sebut sebagai second self disruption melalui pengembangan coking coal, dan berambisi menjadi salah satu pemain utama dunia di bisnis ini.

Langkah ekspansi Adaro melalui upaya memberikan nilai tambah terhadap produk batu bara semakin gencar. Setelah membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 2x1.000 megawatt di Batang, Jawa Tengah, perusahaan publik ini tengah merampungkan akuisisi Kestrel Coal Mine.

Kestrel merupakan perusahaan coking coal di Queensland, Australia milik Rio Tinto Group, salah satu perusahaan pertambangan terbesar di dunia. Bersama EMR, sebuah private equity, Adaro hendak mengambil alih 80% saham Rio Tinto. Perusahaan ini merupakan produsen batu bara kokas dengan produksi 5,5 juta ton per tahun.

Dari tambang di Kalimantan Tengah, Adaro memproduksi batu bara yang banyak digunakan untuk industri baja tersebut sebesar 1 juta ton per tahun. Akuisisi ini, adalah jalan Adaro menjadi salah satu produsen batu bara utama kokas dunia --memiliki harga pasar sekitar dua kali lipat dari batu bara thermal—dengan total produksi 20 juta ton per tahun dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.

***

Berbeda dengan Boy, Presiden Direktur PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) Iwan S. Lukminto mewarisi bisnis keluarga yang didirikan oleh ayahnya H.M. Lukminto. Bidang bisnis Sritex adalah tekstil dan sangat unik karena banyak memproduksi seragam militer.

Sejak memegang tongkat estafet kepemimpinan pada 2006, Iwan dihadapkan pada realitas bisnis yang tidak mudah, apalagi bisnis tekstil banyak disebut sebagai sunset industry. Namun perlahan, dia mencoba membalikkan stigma itu dengan kinerja, termasuk memastikan transformasi bisnis menuju perusahaan publik yang sudah dicanangkan sejak awal dekade 2000-an.

Iwan berambisi menguasai bisnis tekstil dari hulu hingga hilir. Itulah mengapa Sritex memiliki pabrik rayon sebagai bahan dasar kain. Dia juga ingin menjaga keunikan usahanya di mana mayoritas hasil produksi untuk ekspor.

Itulah mengapa, saat bertemu dengannya, awal pekan lalu, saya menanyakan soal berkah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang tahun ini sudah mencapai 3,5%. Bisa ditebak, perusahaan-perusahaan dengan orientasi ekspor seperti Sritex, pelemahan nilai tukar mata uang domestik membawa keuntungan tambahan bagi perusahaan.

Kebetulan, saya pernah dua kali berkunjung ke pabrik Sritex di Sukaharjo, Jawa Tengah, beberapa tahun silam. Kehadiran perusahaan ini seperti menjadi oase bagi masyarakat sekitarnya.

Betapa tidak, Sritex kini mem­pe­ker­jakan lebih dari 50.000 karyawan, efek­tif dalam menambah denyut nadi per­ekonomian di wilayah Soloraya. Sri­tex juga menjadi ikon Sukaharjo, se­lain menjadi salah satu pusat produksi se­ra­gam militer dunia.

Iwan menjalankan amanah almarhum ayahnya dengan menjadikan Sritex sebagai sumber penghidupan banyak warga, selain tentu saja tetap menguntungkan secara korporasi. Dengan pertumbuhan penjualan rerata 25% sejak 2007, kita dapat membayangkan betapa berkembangkan perusahaan ini dari waktu ke waktu.

Kini Sritex telah menjadi perusahaan tekstil terbesar yang terintegrasi secara vertikal di Asia Tenggara dengan mengoperasikan 14 pabrik spinning, 3 pabrik weaving, 3 pabrik finishing, dan 8 pabrik garmen. Saat sukses melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2013, perusahaan ini memiliki kapasitas produksi pakaian 12 juta potong per tahun.

Iwan menyebut, rahasia sukses ini adalah perpaduan antara inovasi, dedikasi, kerja keras dan penghayatan total pada pekerjaan. Dalam berbisnis, dia berpedoman pada prinsip cengli, tiap pihak mendapatkan perlakukan yang adil. Sukses juga bukan hanya soal materi, tetapi bagaimana hidup berguna bagi orang lain.

Sejauh ini, Sritex telah menghasilkan lebih 300.000 desain, termasuk seragam Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia. Perusahaan ini mengekspor pakaian militer untuk 30 negara lebih, termasuk Jerman, Inggris, Belanda, Australia, Malaysia, hingga Sudan. Sritex juga mengerjakan pesanan merek-merek besar seperti Zara, Quicksilver, Uniqlo, Guess, dan Timberland.

Namun, Iwan tidak sukses sendiri. Ia dibantu satu-satunya saudara lelakinya Iwan Kurniawan Lukminto yang akrab dipanggil Wawan. Sepeninggal ayah mereka, keduanya telah menjadi dwitunggal dalam menjalankan bisnis keluarga.

Kerja keras Iwan memimpin Sritex sejak 12 tahun silam hingga menjadi perusahaan publik pada 2013 berbuah dengan penghargaan Best CEO da­lam Bisnis Indonesia Award 2018, me­nyi­sihkan 12 kandidat lain, CEO pe­ru­sa­haan yang meraih penghargaan sebagai emiten terbaik pada perhelatan ini.

Tag : adaro, sritex
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top