5 Kunci Menangani Konflik di Tempat Kerja

Di tempat kerja, terkadang tekanan dari atasan dan tugas kantor yang menumpuk membuat Anda tidak nyaman. Bahkan, bisa menimbulkan konflik yang secara tidak sadar sudah dipupuk dari kebiasaan yang tidak menyenangkan.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 21 Mei 2018 07:31 WIB
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Di tempat kerja, terkadang tekanan dari atasan dan tugas kantor yang menumpuk membuat Anda tidak nyaman. Bahkan, bisa menimbulkan konflik yang secara tidak sadar sudah dipupuk dari kebiasaan yang tidak menyenangkan.

Seringkali, untuk menghindari konflik, bawahan akan melakukan drama-drama—seperti melakukan kebohongan kecil, menangis, cari muka dan sebagainya—agar bisa diampuni dan disayangoleh atasan.

Sebaliknya, bisa juga si atasan menggunakan jabatannya untuk tidak mempedulikan masalah yang dihadapi oleh anak buahnya. Yang paling buruk adalah jika atasan pilih kasih alias hanya memedulikan anak buah yang disukai..

Bawahan yang baik adalah mereka yang sadar tugas dan tanggung jawabnya, sedangkan seorang atasan yang baik adalah mereka yang mau menyadari juga membantu, tidak berpihak dan mendengarkan anak buah agar kinerjanya menjadi lebih baik.

Memperdalam keterampilan penyelesaian konflik yang efektif merupakan komponen penting dalam membangun model bisnis yang berkelanjutan. Konflik yang tak terselesaikan sering mengakibatkan hilangnya produktivitas, kreativitas, dan tidak terjadinya kerja sama yang matang. Biasanya konflik yang terjadi di tempat kerja didasarkan pada dua hal, yakni komunikasi dan emosi.

Lalu, bagaimana agar Anda dapat menghadapi konflik di tempat kerja sehingga tidak mengganggu produktivitas? Mike Myatt, CEO N2Growth, melalui Forbes memberikan lima kunci penting untuk menangani konflik di tempat kerja.

Ini dia kuncinya, seperti dikutip Bisnis, Senin (21/5/2018):

1. Tentukan Target dan Deskripsi Pekerjaan Yang Jelas
Ini adalah langkah positif dalam menangani konflik atau paling tidak untuk memperkecil kemungkinan datangnya konflik. Adanya kerangka kerja, kolaborasi sesama dan antar tim, pelatihan kepemimpinan, peraturan perusahaan, deskripsi pekerjaan yang jelas, target yang diinginkan, tentukan sikap yang dapat ditoleransi ataupun tidak, dan pastinya komunikasi antar atasan dan anak buah yang terbuka akan membantu untuk menangani konflik yang bermunculan di tempat kerja.

2. Tekan Konflik Secara Langsung
Meskipun Anda tidak selalu dapat mencegah konflik, rahasia penyelesaian konflik sebenarnya adalah pencegahan konflik secepat mungkin. Dengan benar-benar mencari area-area yang berpotensi konflik dan secara proaktif mengintervensi dengan cara yang adil dan menentukan, Anda mungkin akan mencegah terjadinya konflik-konflik tertentu.

Jika ada konflik, Anda bisa meminimalisir tingkat keparahannya dengan segera melakukan penanganan. Waktu yang dihabiskan untuk mengidentifikasi dan memahami ketegangan alami akan membantu menghindari konflik yang tidak perlu.

3. Memahami Faktor What’s In It For Me (WIIFM)
Sangat penting untuk memahami motivasi orang lain sebelum melakukan pertimbangan. Cara untuk menghindari konflik adalah membantu orang-orang di sekitar Anda mencapai tujuan mereka.

4. Faktor Penting: Pilih Konflik yang Bisa Diatasi dan Hindari Konflik Sebisa Mungkin
Namun, jika isunya sangat mungkin untuk menimbulkan konflik, maka hal itu pasti sangat penting untuk diselesaikan. Jika masalah, keadaan, atau situasinya cukup penting, dan ada banyak yang dipertaruhkan, orang akan melakukan apapun untuk berkomunikasi dan menutup perbedaan yang ada.

5. Lihat Konflik sebagai Peluang
Hikmah dalam setiap konflik adalah potensi untuk belajar atau mengajar yang luar biasa. Di mana ada ketidaksepakatan, di sana ada potensi yang melekat untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Jika Anda seorang CEO yang tidak memanfaatkan konflik untuk memperbaiki tim dan tujuan pengembangan kepemimpinan, Anda kehilangan kesempatan besar. Para pemimpin yang cerdas mencari keuntungan dalam semua opini yang berbeda.

Intinya, di mana ada keinginan yang tulus, konflik di tempat kerja pasti akan terselesaikan. Dengan berkompromi, empati, kembali pada landasan untuk memajukan perusahaan, menjadi pendengar yang aktif, melakukan pekerjaan sesuai dengan tugas dan banyak pendekatan lainnya untuk menyelesaikan konflik.

Namun, jika memang konflik tidak dapat terselesaikan secara profesional bahkan secara pribadi, maka penyelesaian yang tegas harus dilakukan agar tidak mendatangkan kerugian di masa mendatang.

Tag : pekerjaan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top