Larry Ellison, Pendiri Oracle Corporation yang Aktif dalam Kegiatan Amal

Larry Ellison adalah pendiri dari perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Oracle Corporation, perusahaan yang membuatnya mendapatkan tempat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Aprianto Cahyo Nugroho | 27 Juni 2018 10:24 WIB
Larry Ellison - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Larry Ellison adalah pendiri dari perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Oracle Corporation, perusahaan yang membuatnya mendapatkan tempat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Berdasarkan data orang terkaya yang dihimpun Forbes, Larry menempati posisi 10 dalam daftar, dengan kekayaan mencapai US$58,5 miliar pada tahun 2018.

Larry Ellison lahir di Bronx, New York, pada 17 Agustus 1944. Ketika dia berumur sembilan bulan, Larry mengidap penyakit radang paru-paru, dan ibunya, Florence Spellman, mengirimnya ke Chicago untuk dibesarkan oleh bibinya dan pamannya, Lillian dan Louis Ellison, yang mengadopsinya.

Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Larry mendaftar di University of Illinois, Champaign, pada tahun 1962, di mana ia menjadi mahasiswa sains terbaik di awal masa kuliahnya. Di tahun kedua perkuliahannya, ibu angkatnya meninggal, dan Larry putus kuliah. Musim gugur berikutnya, ia mendaftar di Universitas Chicago, tetapi ia keluar setelah hanya satu semester.

Dilansir Biography.com, Larry kemudian pindah ke Berkeley, California, dengan sedikit uang, dan selama sepuluh tahun berikutnya beberapa kali berpidah pekerjaan ke berbagai perusahaan, termasuk Wells Fargo dan Amdahl Corporation.

Larry yang memiliki minat dan keahlian dalam ilmu computer dasar tersebut akhirnya mendapat posisi sebagai programmer di Amdahl, di mana ia bekerja pada sistem mainframe yang kompatibel dengan IBM.

Larry membaca makalah yang diterbitkan oleh IBM tentang jenis baru dari bahasa pemrograman database yang disebut SQL. Larry lalu mengubah SQL menjadi database. Pada tahun 1977 ia mendirikan Software Development Labs dengan mantan atasannya di Amdahl, Robert Miner, bersama Ed Oates dan Bruce Scott.

Awalnya, perusahaan berupaya keras agar dapat menawarkan produk database mereka, dengan cara menyebut produk awal langsung dengan Version 2.0. Dengan cara ini, Badan Intelijen Amerika (CIA) tertarik untuk membeli produk Software Development.

"Versi kami pertama adalah Oracle Version 2. Kami tahu tidak ada yang mau membeli version 1,” ungkap Larry, seperti dikutip Business Insider.

"Pelanggan pertama kami adalah Central Intelligence Agency," lanjut Larry.

Pada tahun 1981, IBM menandatangani kerja sama untuk menggunakan Oracle, yang membuat penjualan perusahaan meningkat dua kali lipat setiap tahun selama tujuh tahun ke depan. Larry kemudian mengganti perusahaan menjadi Oracle Corporation.

Oracle Corporation

Pada tahun 1986, Oracle Corporation melakukan penawaran umum perdana/IPO, tetapi beberapa masalah akuntansi membantu menghapus sebagian besar kapitalisasi pasar perusahaan dan Oracle tertatih-tatih di ambang kebangkrutan.

Setelah perombakan manajemen dan penyegaran siklus produk, produk-produk Oracle yang baru kembali membanjiri industri, dan pada tahun 1992 perusahaan menjadi pemimpin dalam bidang manajemen database.

Kesuksesan terus berlanjut, dan karena Larry adalah pemegang saham terbesar Oracle, ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Larry mengarahkan perhatiannya pada pertumbuhan melalui akuisisi, dan selama beberapa tahun berikutnya ia melahap beberapa perusahaan, termasuk PeopleSoft, Siebel Systems dan Sun Microsystems, yang semuanya membantu Oracle mencapai kapitalisasi pasar sekitar US$185 miliar dengan 130.000 karyawan pada tahun 2014.

Pada tahun 2014, Larry meninggalkan posisi CEO perusahaan pada tahun 2014, namun masih menjabat pada dewan direksi dan Chief Technology Officer (CTO).

Dalam upaya pengembangan komputasi berbasi awan, Oracle melebarkan sayapnya dengan mengakuisisi perusahaan pengembang komputasi berbasis awan, Netsuite, senilai US$9,3 miliar pada tahun 2016.

Tetapi menjadi miliarder bukan tujuan utamanya. "Ketika saya memulai Oracle, apa yang ingin saya lakukan adalah menciptakan lingkungan di mana saya akan menikmati bekerja. Itu adalah tujuan utama saya. Tentu, saya ingin mencari nafkah. Saya tentu tidak pernah berharap menjadi kaya, tentu tidak sekaya ini," ungkapnya dalam wawancara dengan Smithsonian Institution, seperti dikutip Business Insider.

Selain menjadi pengusaha, Larry juga berperan aktif dalam kegiatan amal. Di tahun 2016, Larry menyumbangkan US$200 juta kepada University of Southern California untuk pengembangan pusat perawatan kanker.

Selain itu, ia juga telah menggelontorkan ratusan juta dolar untuk amal, terutama penelitian medis dan pendidikan. Dia juga mengatakan bahwa dia berencana untuk melakukan lebih banyak kegiatan amal.

Tag : oracle
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top