Mathieu Flamini, Flamboyan Sepak Bola Prancis yang Terjun ke Bisnis Biokimia

Prancis baru saja mengubur impian Belgia meraih tiket final Piala Dunia 2018. Pasukan Les Bleus memang menjadi salah satu calon kuat untuk memenangi ajang sepak bola dunia paling bergengsi tersebut didukung pemain-pemain hebatnya
Renat Sofie Andriani | 11 Juli 2018 09:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Prancis baru saja mengubur impian Belgia meraih tiket final Piala Dunia 2018. Pasukan Les Bleus memang menjadi salah satu calon kuat untuk memenangi ajang sepak bola dunia paling bergengsi tersebut didukung pemain-pemain hebatnya.

Euforia merajalela di hati para pemain dan pendukung Les Bleus setelah Prancis memastikan lolos ke babak final Piala Dunia untuk yang ketiga kalinya.

Meskipun tidak lagi masuk dalam skuat, mantan pemain timnas Prancis Mathieu Flamini sudah pasti merasakan hal yang sama. Pengalamannya di beberapa klub besar dan laga Piala Dunia pernah mengangkat namanya sebagai salah satu pemain tengah bertalenta Prancis.

Lapangan rumput mungkin telah membesarkan mental dan fisiknya bersepak bola, tapi Flamini justru lebih mendulang sukses di luar lapangan lewat kemampuan berbisnisnya di bidang biokimia.

Bukan sembarang bisnis, dengan bisnis itu, kekayaan pria berzodiak Pisces ini disebut-sebut melampaui bintang sepak bola sensasional, Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo. Oleh Forbes, ia pernah didapuk sebagai pesepak bola terkaya di dunia. Siapa Flamini?

Awal Karir Sepak Bola

Lahir pada 7 Maret 1984 di Marseille, Prancis, Mathieu Flamini bergabung dengan tim muda Olympique de Marseille pada tahun 2001 dan berlatih selama sekitar dua tahun.

Dilansir dari Football Top, pada tahun 2003, ia mendapat tawaran bergabung dengan skuat senior Marseille serta memulai karir profesionalnya. Selama musim 2003/2004, gelandang muda Prancis itu berhasil masuk ke skuat utama sebanyak 14 kali.

Pada tahun 2004, talenta Flamini menarik pelatih Arsenal Arsene Wenger membesutnya masuk dalam tim. Selama 4 musim, dari 2004 hingga 2008, Flamini menjadi salah satu pemain lapis pertama Arsenal. Total selama bermain untuk klub tersebut, Flamini telah tampil di 102 pertandingan dan mencetak 7 gol.

Ia melanjutkan karirnya dan pindah ke klub AC Milan di Liga Serie A Italia dengan kesepakatan senilai 5,8 juta euro. Meski awal karirnya di klub ini tidak tampak mulus, seiring berjalannya waktu, Flamini kerap dipercaya mengisi posisi gelandang tengah dan playmaker.

Flamini bermain dalam 122 pertandingan dan mencetak 8 gol untuk AC Milan sepanjang 2008-2013, sebelum kembali ke pangkuan Arsenal. Setelah beberapa kali bermain untuk salah satu klub papan atas di Inggris tersebut, ia diketahui pernah mengenyam pengalaman di Crystal Palace dan Getafe.

Secara nasional, Flamini bermain dalam 8 pertandingan dan mencetak 1 gol untuk tim U-21 Prancis dari tahun 2004 hingga 2005. Kemudian tahun 2007 hingga 2008, ia tampil dalam 4 pertandingan tim nasional Perancis.

Mendirikan Perusahaan Biokimia

Karir profesional seorang pesepak bola mulai meredup ketika memasuki usia 30-an. Flamini paham benar fakta ini dan telah mempersiapkan segala sesuatunya. Bukan properti ataupun restoran, ia memilih bidang bisnis yang lebih serius untuk ditekuni.

Pada tahun 2008, bersama seorang rekannya yakni Pasquale Granata, Flamini mendirikan GF Biochemicals (GFB), perusahaan pertama di dunia yang memproduksi Levulinic Acid (LA) dalam skala industri.

“Saat itu dia [Pasquale] sudah tertarik dengan masalah perubahan iklim dan kami benar-benar ingin melakukan sesuatu. Jadi setelah bertemu dengan seorang ilmuwan, bersama-sama kami mengembangkan bioteknologi ini,” ungkap Flamini tentang rekan pendirinya.

Dalam proses pendirian perusahaan, mereka menghimpun tim yang terdiri dari sejumlah ilmuwan dan insinyur, dan telah bekerja sama dengan University of Pisa selama tujuh tahun untuk menyempurnakan produksi LA.

LA dibuat dari biomassa seperti rumput, yang kemudian dapat digunakan dalam plastik, pelarut, bahan bakar, dan industri farmasi. Kandungan bahan kimia di dalamnya serupa dengan minyak, namun terbilang tidak mudah merusak lingkungan.

“Ini akan membantu mengurangi karbon oksida. Asam ini memiliki potensi yang kuat karena bereaksi persis seperti minyak, yang berarti dapat menggantikan minyak,” terang Flamini dalam suatu kesempatan, seperti dikutip BBC.

Perusahaan ini berpendapat bahwa LA akan menjadi elemen penting bagi dunia yang telah mengalami dekarbonisasi, membantu menggantikan bahan kimia berbahan dasar fosil, serta mengurangi jejak karbon dari produk-produk konsumen.

Kebanggaan Keluarga

Flamini pribadi memiliki harapan bahwa perusahaannya dapat membantu melestarikan kehidupan di dunia. Diakuinya, beberapa tahun setelah GF Biochemicals didirikan, ia merahasiakan hal ini dari pihak-pihak terdekat, baik itu rekan setim maupun keluarganya.

“Keluargaku bahkan tidak tahu apapun tentang [perusahaan] ini. Kedua orangtuaku tidak tahu apa-apa sebelumnya. Awalnya mereka khawatir, tetapi sekarang mereka bangga,” tutur Flamini, seperti dikutip The Sun.

Walaupun potensi pasar bisnis ini begitu menggiurkan, ia menegaskan dorongan untuk menyelamatkan dan melestarikan dunialah yang menjadi tekad utamanya dalam mengembangkan perusahaan.

“Perubahan iklim dan bagaimana meresponsnya menjadi perhatianku. Itu masalah terbesar saat ini,” ujarnya.

Didukung ratusan pekerja, GFB kian mengembangkan sayapnya. Perusahaan ini memiliki laboratorium produksi serta telah mendirikan kantor di Milan dan Belanda.

GFB juga telah mengakuisisi Segetis, sebuah perusahaan kimia di Amerika Serikat yang memproduksi Levulinic Acid, dengan tujuan untuk mengembangkan teknologi bioplastiknya.

Sepak Bola Tetap Prioritas

“Saya sangat beruntung. Untuk operasi sehari-hari kami memiliki tim sangat kuat yang datang dari perusahaan kimia yang sangat besar. Saya lebih terfokus pada strategi perusahaan,” jelas Flamini.

Terlepas dari pencapaiannya dalam berbisnis, ia menekankan bahwa sepak bola tetap menjadi prioritasnya. Setidaknya ia telah membuktikan kemampuannya menelurkan fulus berlipat-lipat saat ia memutuskan gantung sepatu.

“Seperti yang Anda bayangkan, seorang pemain sepak bola memiliki kepentingan lain di luar lapangan. Dan minat saya adalah bioekonomi.”

Tag : timnas prancis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top