Jurus Keperkasaan Yandex

John Naisbitt memang pernah me-wanti-wanti gejala gejala mabuk teknologi tinggi, yang bila tidak cepat diobati bisa membawa persoalan serius bagi manusia. Namun perusahaan dari Rusia ini tampaknya bisa mengemasnya menjadi bisnis yang apik.
Inria Zulfikar | 30 Juli 2018 21:28 WIB
Taipan Rusia Alisher Usmanov sedang menjajaki penjualan 30 persen sahamnya di klub sepak bola Inggris Arsenal - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Bukan bermaksud mendewakan teknologi tetapi apa yang tidak bisa kita temukan di dunia maya atau Internet saat ini?

Jadi, jangan heran bila Google, misalnya, makin menjadi-jadi. Ia tak lagi sebatas mesin pencari. Teknologi yang semula diusung Sergey Brin dan Larry Page, pendiri Google, kini menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang tampaknya tidak pernah ketinggalan zaman dan diakrabi.

Kisah sukses keduanya sudah habis diulas ke dalam bentuk media apapun. Mungkin tinggal layar lebar saja yang belum mendapat giliran. Tidak terlalu sulit bagi Holywood untuk melakukan hal ini.

Itu semua berkat mesin pencari dan kegigihan Brin dan Page untuk menggugah orang ‘berpikir diluar kotak’.

Bila demikian berarti orang lain pun bisa saja mengulangi jalan emas pendiri ‘Google, bukan? Mengapa tidak?

Tantangan itulah yang ingin dijawab oleh Arkady Volozh dan Ilya Segalovich yang berasal dari Rusia yang dimulai beberapa tahun silam.

Entah ingin meniru langkah Brin dan Page, ujung tombak kembar dari Yandex secara ‘provokatif’ membuka kantornya tidak jauh dari markas Google di Mountain View, California. Bisa jadi keberanian mereka didorong oleh rasa percaya diri setelah mengetahui bahwa di Rusia Yandex ternyata mampu menyalip Google dalam hal pasar pencarian.

Kabar terakhir, pada 2017 otoritas Rusia mengizinkan sayap bisnis antaran Yandex melakukan merger dengan Uber. Selain itu Yandex.Taxi berambisi go public pada semester I/ 2019 supaya makin disegani lawannya macam Vezet (didukung UFG Private Equity), Taxi Maxim, dan Gett Inc (pemodal Israel).

Yang jelas, apa yang dilakukan Volozh, CEO Yandex, dan rekannya, Segalovich tentunya bukan cuma gertak sambal. Mereka bukan orang baru di teknologi mesin pencari. Keduanya sudah berkutat dengan ‘mainan’ itu sejak akhir 1980, jauh sebelum Brin dan Page kasak-kusuk mendirikan Google.

Tantangan ke depan bagi Yandex adalah meraih pasar secara cukup signifikan di AS, terutama untuk pencarian image.

Bermodal kondisi keuangan yang sehat, Volozh berambisi membawa Yandex—kependekan dari yet another indexer—masuk bursa (Nasdaq). Lampu hijau sudah dikeluarkan otoritas bursa (SEC).

Namun saat itu tampaknya Volozh harus bersabar dulu karena pasar modal sedang tidak kondusif akibat krisis finansial global. Meski demikian, daftar panjang investor yang siap membeli saham sudah menunggu. Salah satunya adalah Alisher Usmanov, pebisnis asal Rusia yang sudah mematok pembelian 10% saham Yandex bila go public kelak.

Dalam bukunya High tech high touch (1999), John Naisbitt memang pernah me-wanti-wanti gejala gejala mabuk teknologi tinggi, yang bila tidak cepat ‘diobati’ bisa membawa persoalan serius bagi manusia. Ujung-ujugnya, manusia menjadi budak teknologi dan bukan sebaliknya.

Kita belum mengetahui secara pasti gejala yang disebut penggarang best seller Megatrends dan Global Paradox itu sudah terobati atau belum.

Internet, bila tidak dikelola dengan baik, juga memabukkan. Game online juga begitu. Bahkan banyak kasus kekerasan yang berujung kematian di AS dan beberapa negara lainnya diilhami oleh karakter jahat yang terdapat di permainan maya.

Tentu bukan itu harapan Brin-Larry dan Volozh-Segalovich ketika ingin menciptakan mesin pencari yang bisa diakses siapapun. Google yang bertengger kokoh sebagai entitas bisnis menciptakan lapangan kerja yang luar biasa besar di industri teknologi informasi.

Nilai sahamnya yang sexy membuat investor tertarik untuk terus memburunya. Bisnis pun bergulir dibuatnya. Strategi ini pula yang rasanya akan ditempuh Volozh dan Segalovich di tanah perantauan, yaitu menjadikan industri mesin pencari sebagai penghela ekonomi di saat krisis.

Mengenai segala ekses yang ditimbulkan ‘zona mabuk teknologi’-nya Naisbitt, itu merupakan pekerjaan rumah kita yang harus dibereskan. Kita harus membuat pagar yang kokoh—melalui undang-undang dan penegakkannya di lapangan--agar kemajuan teknologi informasi membawa manfaat sebesar-besarnya dan kebaikan bagi bangsa ini.

Mimpi Indonesia

Lalu kapan Indonesia bisa memiliki mesin pencari sendiri yang diakui dunia? Dengan sumber daya alam yang melimpah, sudah sepatutnya kita memiliki SDM yang andal pula agar ‘hal remeh temeh’ seperti mendirikan perusahaan mesin pencari tidak serta merta dipandang sebagai ‘mimpi kali yee...’

Terus terang, kita belum mampu semewah apa yang dilakukan Nicholas Negroponte, pendiri Media Lab di Massachussetts Institute of Technology (MIT). Bersama putranya, Dimitri, mereka mencanangkan misi global dengan menyediakan sebuah komputer laptop yang bisa mengakses Internet untuk setiap anak, yang jumlahnya mencapai 1 miliar orang di seluruh dunia.

Penyediaan komputer tersebut dilaksanakan melalui yayasan yang mereka bentuk, 2B1 (To Be One). Salah satu penyokong utamanya adalah Sega Enterprise, pembuat permainan elektronik global.

Negroponte dan Dimitri yakin bahwa akses Internet di seluruh dunia bisa memiliki efek yang sama  dengan menciptakan perdamaian dunia, menjamin nasib manusia, menjamin kesehatan bumi dan ekonomi dunia.

Kita masih berada di Timur sebagai orang Timur dengan kekayaan budaya yang diakui dunia. Berbagai kemudahan yang diperoleh seiring dengan kemajuan teknologi jangan sampai membawa bangsa ini seperti Naisbitt menilai Amerika.

“Hiburan nomor satu di Amerika dewasa ini adalah media, dan genre nomor satunya ialah kekerasan.”

“Namun, kita belum menganggapnya serius. Momok kekerasan di layar kita merembes ke dalam memori kita, mimpi kita, percakapan kita dan kita bersikukuh bahwa kekerasan itu tidak berbahaya, bahkan mendidik.”  

Tag : rusia
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top