Bisnis Milenial: Yang Muda yang Berjaya

Padahal, kita kerap membaca bahwa generasi milenial tidak loyal, kurang tangguh dibanding generasi X, serba instan, dan banyak stereotip negatif lain yang ditempelkan. Nyatanya, mereka mampu bersaing dengan generasi sebelumnya yang sudah lebih lama makan asam-garam kehidupan.
Asteria Desi Kartika Sari, Rayful Mudassir, Dewi Andriani | 19 Agustus 2018 21:24 WIB
Founder dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya memberikan paparan saat berkunjung ke Wisma Bisnis Indonesia, di Jakarta, Senin (4/6/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Berlahan tapi pasti, anak-anak muda Indonesia yang terjun ke dunia bisnis mulai memperlihatkan tajinya, bukan lagi sekadar kelas UMKM tapi perusahaan bonafide bernilai miliaran dolar. 

Beberapa adalah generasi sekolah bisnis ternama seperti Nadiem Makarim yang memperoleh gelar Master of Business Administration di Harvard Business School. Namun, sebagian adalah jebolan sekolah Tanah Air seperti William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia, yang lulusan Bina Nusantara.

Sejumlah bisnis rintisan yang mereka gawangi telah membuktikan bahwa sentuhan generasi milenial bisa seampuh tangan Paman Gober—tokoh kaya raya dalam kisah Donald Bebek.

Padahal, kita kerap membaca bahwa generasi milenial tidak loyal, kurang tangguh dibanding generasi X, serba instan, dan banyak stereotip negatif lain yang ditempelkan. Nyatanya, mereka mampu bersaing dengan generasi sebelumnya yang sudah lebih lama makan asam-garam kehidupan. Lalu, apa rahasia generai milenial ini?

Hadirnya role model baru dari dunia bisnis menjadi salah satu roda penggerak anak muda Indonesia untuk terjun menjadi entrpreneur. Tak hanya menggarap pasar domestik, mereka bahkan sudah merambah ke luar negeri.

Namun tentu saja, menjalankan bisnis bukanlah perkara mudah seperti membalikan telapak tangan, butuh konsep matang dan mental yang kuat untuk mengembangkan bisnis. Selain itu, tentu saja, keberanian.

Soal keuletan dan keberanian ini dibuktikan Co-founder dan Direktur Utama PT Tokopedia William Tanuwijaya. Startup yang valuasinya telah melampaui nilai US$1 miliar itu didirikannya dengan filosofi bambu runcing yang melambangkan keberanian, kegigihan, dan harapan.

Pria kelahiran 11 November 1981 ini bukan berasal dari keluarga pebisnis, namun berani memutuskan untuk mendirikan startup dan meninggalkan status karyawan. Usahanya pun tak langsung direspons positif, banyak yang meragukan mimpinya.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk memulai Tokopedia. Ia sempat kesulitan mencari modal lantaran orang-orang masih meragukan ide bisnis yang diusung. Bahkan, ada salah satu calon investor yang memberikan nasihat agar berhenti.

“Satu hal yang mengubah hidup kami adalah ketika saya bertemu dengan seorang calon investor, yang memberikan saya nasihat: ‘Kalian masih muda, jangan sia-siakan masa muda kalian. Muda itu cuma sekali, carilah mimpi yang lebih realistis. Jangan mimpi yang muluk-muluk. Role model kalian, mimpi Silicon Valley, Sergey Brin, Larry Page, Mark Zuckerberg, mereka adalah orang-orang yang spesial. Kalian tidak!’”

Di momen itulah William sadar bahwa membangun bisnis itu tidak mudah. Membangun bisnis adalah tentang membangun kepercayaan, dan kepercayaan itu adalah tentang kredibilitas, dan rekam jejak masa lalu.

Kegigihan akhirnya membuahkan hasil. Mulai dari suntikan modal East Ventures, disusul CyberAgent Ventures, Beenos, SoftBank, hingga gelontoran dari Alibaba Group yang kini jadi salah satu pemegang saham terbesar di Tokopedia.

Tahu betapa sulitnya membangun bisnis membuat William ingin membantu pelaku usaha lain di Tanah Air. “Tokopedia adalah tentang ini, tentang sebuah platform untuk memulai, tentang sebuah platform yang memberikan peluang dan kesempatan kepada setiap orang Indonesia.”

William bersama Tokopedianya, Nadiem Makarim yang mendisrupsi bisnis taksi lewat Gojek, juga Ferry Unardi (Traveloka) atau Achmad Zaky (Bukalapak) kini menjadi role model milenial Indonesia.

Hal itu diakui Marketing Managing Partner Inventure Yuswohady yang mengalisis fenomena kemunculan banyaknya milenial yang menjadi entrepreneur. Tokoh-tokoh ini membuktikan bahwa kesuksesan bisa dibangun dari bawah oleh anak muda, tidak mengandalkan patronase.

Selain soal figur, kondisi ekonomi di Tanah Air juga mendukung. Indonesia yang telah masuk middle income country sejak 2010 yang ditandai dengan disposable income masyarakat mulai tinggi.

Disposable income itu adalah income yang menganggur yang akhirnya ditabung atau diinvestasikan. “Makanya yang paling konservatif itu, ya, deposito menabung, atau investment di pasar modal. Tetapi yang paling berisiko itu menggunakan duit itu untuk berbisnis,” ujar Yuswohady.

Rata-rata bisnis yang dimasuki pun bidang yang dekat dengan mereka yakni bidang kreatif dan digital yang jangkauannya global. Sebagai contoh, kini Gojek sudah direplikasi di vietnam, demikian juga Traveloka yang menjangkau ke lima negara di Asia Tenggara.

Namun, terjun ke dunia bisnis bukan perkara mudah, apalagi bagi anak muda yang pengalamannya masih terbatas. Menurut Yuswohady, menghasilkan suatu produk dam membuatnya laku di pasar itu sulit.

Apalagi, lanjutnya, bisnis yang sustainable itu jarang. Bahkan tidak ada jaminan bagi unicorn seperti Tokopedia atau Gojek bertahan lama. “Dengan lingkungan bisnis cepat, tingkat risikonya juga semakin tinggi sehingga sustainability menjadi barang yang mahal.”

Salah satu kunci yang harus dimiliki generasi muda manakala terjun ke ke dunia bisnis adalah tahan banting, tidak mudah menyerah ketika gagal. Sementara itu, soal modal usaha kini kian kurang relevan jadi faktor keberhasilan suatu usaha.

Soal modal ini Anda bisa bertanya kepada Reynold Wijaya yang masuk daftar Forbes: 30 Under 30 Asia 2018. Ya, pendiri platform peer to peer (P2P) lending terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara ini punya solusi.

Lewat Modalku, ia menghubungkan pelaku usaha kecil dan menengah yang potensial namun belum layak kredit dengan pemberi pinjaman yang mencari alternatif investasi terjangkau dan menarik.

Reynold sejatinya punya pilihan untuk melanjutkan bisnis keluarga, tanpa susah payah membangun startup dari bawah. Dengan status sebagai anak pemilik Unifarm Group, Reynold justru memilih membangun Modalku.

SISTEM FRANCHISE

Di luar startup, bisnis kuliner juga mengantarkan suami-istri Nilam Sari (37 tahun) dan Hendy Setiono (35) merambah ke 9 negara lewat brand baba Raffi. Bisnis yang dikembangkan sejak 2003 itu kini setidaknya sudah memiliki 1.300 outlet Kebab Turki Baba Raffi.

Untuk bisa ekspansi ke luar negeri, Baba Raffi harus menyiapkan sistem dan tim. Awalnya memang tidak mudah karena persiapan pembukaan di luar negeri hampir separuh dari tim diangkut.

Namun, setelah menggunakan sistem franchise, ekspansi jauh lebih mudah karena bisa online 24 jam lewat website. “Sekarang sudah ada Google Ads dan keyword. Baba Raffi mainkan keyword investasi, franchise, kebab, dan food chain,” ujar Nilam Sari.

Menurutnya, saat ini memulai usaha sudah tidak susah, bahkan pemerintah sangat mendukung para entrepreneur berkembang. Bahkan, lanjutnya, Badan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Perdagangan banyak memberi kesempatan pameran ke luar negeri. “Membuka cabang di luar negeri itu yang bergerak tim dan sistem. Kalau nggak ada tim dan fondasi yang kuat maka akan sulit.”

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Tag : generasi milenial
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top