Francois Thiebaud: Jam Tangan Lebih Memberi Sensasi Emosional

Tissot, salah satu merek jam tangan mewah asal Swiss di bawah Swatch Group, menjadi pencatat waktu resmi atau official timekeeper untuk Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus—2 September 2018.
Oktaviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi | 28 Agustus 2018 12:08 WIB
Presiden Tissot SA Franois Thibaud

Bisnis.com, JAKARTA – Tissot, salah satu merek jam tangan mewah asal Swiss di bawah Swatch Group, menjadi pencatat waktu resmi atau official timekeeper untuk Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus—2 September 2018. Bisnis berkesempatan mewawancarai Presiden Tissot SA François Thiébaud, yang untuk kali pertama datang ke Indonesia, baru-baru ini. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana awal Tissot dikenal dunia sebagai pencatat waktu resmi untuk sejumlah kompetisi besar, seperti NBA, Tour de France, UCI World Cycling Championship, MotoGP, dan FIM World Superbike Championship?

Saya ingin jelaskan dahulu bahwa Tissot adalah bagian dari Swatch Group secara global. Kami memiliki 18 perusahaan berbeda dalam satu grup. Saya sebutkan beberapa yang pasti Anda kenal, seperti Breguet, Jaquet Droz, Harry Winston, Longines, Rado, Omega, Tissot dan Calvin Klein.

Grup kami ini menjadi satu sejak era 1980-an. Pasalnya pada 1970-an, industri jam tangan mewah asal Swiss sempat jatuh. Pendiri Swatch Group, Nicolas G. Hayek, menyatukan semua brand, waktu itu ada 12, belum 18 seperti sekarang ke dalam satu grup, Swatch Group.

Mengapa saya menjelaskan ini kepada Anda? Sebab, di dalam grup kami sudah ada beberapa yang berpengalaman sebagai timekeeper di beberapa ajang, seperti Longines. Lalu juga ada Omega.

Sebelumnya, keduanya berkompetisi dan bersaing ketat untuk menyediakan layanan terbaik agar bisa menjadi pencatat resmi untuk ajang berkelas, seperti Olimpiade. Itu terjadi sebelumnya.

Namun, ketika pendiri kami menyatukannya akhirnya kami berbagi untuk menjadi pencatat waktu resmi untuk berbagai perhelatan. Omega menjadi pencatat waktu untuk Olimpiade dan ajang kelas dunia untuk atletik, sedangkan Longines, misalnya, untuk perhelatan olahraga ski dan gimnastik.

Selain itu, ada juga Tissot yang menjadi pencatat waktu resmi untuk NBA, Tour de France, UCI World Cycling Championship, MotoGP, dan Asian Games.

Mengapa Tissot juga ingin terlibat sebagai timekeeper untuk ajang Asian Games?

Ketika founder kami menyatukan itu , dia tetap ingin agar brand yang ada di grup tetap penjadi pencatat waktu resmi di berbagai ajang. Ini merupakan pekerjaan yang besar dan ada dibutuhkan di berbagai bidang.

Ketika menjalankan fungsi sebagai timekeeper, Anda tidak sekadar menjadi pencatat waktu. Tetapi Anda juga harus memikirkan bagaimana cara agar ketepatan dan kejelasan informasi waktu yang diberikan sungguh sangat membantu para peserta pertandingan.

Ini juga kepada para penoton yang ada di tribun dan para permirsa televisi, serta untuk para pelatih atlet. Ketika Anda mampu untuk menjadi pencatat waktu yang akurat dan membantu, Anda bisa memberikan layanan jam terbaik.

Tissot telah 20 tahun menjadi mitra Asian Games, sejak 1998 di Bangkok hingga Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Apa saja hal, baik teknologi maupun manajemen sistem, yang baru diterapkan di Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang?

Tissot hadir untuk mendukung pergelaran pesta olahraga negara-negara di Asia ini lantaran memiliki kesamaan semangat. Asian Games mencerminkan semangat keberagaman dan dinamisme. Melalui ajang ini, kami sekaligus ingin menunjukkan kualitas terbaik sebagai timekeeper.

Ajang sekelas ini memungkinkan Tissot menunjukkan kualitas pencatatan waktu yang sempurna dan akurat untuk membuktikan kualitas produk kami. Kami akan meningkatkan sejumlah kualitas layanannya dengan berkaca dari perhelatan sebelumnya.

Pencatatan waktu yang lebih presisi dengan sejumlah inovasi. Inovator dengan tradisi merupakan motto kami dan hal ini terus kami lakukan.

Menurut Anda, bagaimana potensi pasar Indonesia? Bagaimana strategi Tissot di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan?

Kami mulai untuk melakukan yang lebih baik. Saya ulangi, kami mulai untuk melakukan yang lebih baik dan lebih baik lagi. Pasalnya, Indonesia adalah pasar yang sangat, sangat besar. Daya beli masyarakat yang terus meningkat. Lalu lihatlah gaya anak muda di sini, sangat moderen, reaktif.

Melalui ajang Asian Games yang diselenggarakan selama kurang lebih beberapa minggu ini, mereka bisa melihat Tissot dalam berbagai pertandingan. Semoga itu bisa membuka mata mereka ketika melihat Tissot hadir di setiap pertandingan.

Mungkin tidak akan langsung, tetapi pada kemudian hari mereka bisa memilih untuk membeli produk Tissot.

Produk jam tangan berbeda dengan penunjuk waktu di handphone. Jam tangan memberikan sensasi emosional yang berbeda dengan gadget. Jam tangan memberikan Anda kenangan akan waktu.

Bagaimana dengan rencana jangka panjang Tissot di Indonesia?

Saya percaya dengan tim saya yang ada di sini. Saya punya pemimpin yang hebat di sini dengan tim yang bisa membuat Tissot lebih baik lagi. Saya yakin mereka bisa berbuat lebih banyak lagi di pasar Indonesia untuk Tissot pada masa mendatang.

Jangan lupa juga, kami menjadi official timekeeper juga untuk ajang balapan bergengsi MotoGP. Lihat semalam kan ? Indonesia juga banyak penggemar balapan itu .

Kami menjadi pencatat waktu MotoGP. Jadi, Tissot sangat cocok untuk Indonesia.

Teknologi informasi membuat pemasaran produk sangat jauh berubah. Toko daring menjamur, gerai pemasaran berkurang. Bagaimana Tissot menyikapi perubahan ini?

Anda tahu tentang konduktor musik? Ketika menjadi konduktor musik, Anda tidak bisa tidak mesti tahu tentang musik dan mendengarkan musik.

Saya mengatakan kepada seluruh jajaran saya, termasuk di Indonesia, agar selalu memiliki harapan atau bisa bereksplorasi tentang apa teknologi baru, yang sungguh paling baru, dan mengkreasikan sebuah rencana terkait dengan hal itu ke depan.

Prioritas kami adalah untuk menjual produk jam tangan. Kami ingin membuat orang percaya dengan kami dan datang membeli produk kami. Kepercayaan itu lebih penting dari uang. Meski ada uang, kalau tidak percaya, mereka tidak akan membeli.

Oleh karena itu, melalui Asian Games kami ingin membuktikan kepada orang tentang kualitas kami sehingga mereka percaya dan datang kepada kami. Kami juga memilih brand ambassador setiap tahun yang bisa memberikan kepercayaan kepada masyarakat akan keunggulan produk kami.

Apakah benar bahwa saat ini industri jam tangan mewah tertekan dengan kehadiran produk jam tangan pintar atau smartwatch?

Tidak. Tidak benar. Saya yakin pernyataan itu bukan dari Anda, melainkan dari informasi lain. Meski ada petunjuk waktu di ponsel, jam tangan tentu berbeda. Industri jam tangan mewah ini sudah bertahun-tahun.

Industri teknologi komunikasi juga sudah lahir sejak lama dan keduanya tetap tumbuh. Pasalnya, mereka fokus untuk sektor mobile-nya, sedangkan kami untuk jam tangannya.

Smartwatch bagi saya cukup sesuai digunakan untuk berolahraga, untuk kaum muda dan aktivitas bergerak. Namun, untuk ke acara resmi dan sebagainya, Anda membutuhkan jam tangan khusus. Jangan datang ke pesta dengan smartwatch.

Sekali lagi, pada jam tangan, Anda memiliki memori akan waktu, misalnya barang itu menjadi kado indah dari ibu Anda dahulu kala. Kami Swatch Group bisa membuat smartwatch. Pada tahun depan, kami akan menghadirkan jam tangan canggih dengan teknologi digital.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (28/8/2018)

Tag : jam tangan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top