Empat Wirausaha Sosial Ini Dapat Dana Hibah Hingga Rp2,7 Miliar

Tahun ini DBS Foundation memberikan bantaun sebesar SGD1,25 juta untuk 12 wirausaha sosial di Asia, sebagai bagian dari 2018 Social Enterprise Grant Programme.
Dewi Andriani | 31 Agustus 2018 22:13 WIB

Jumlah wirausaha muda di Indonesia kian bertambah. Beberapa di antaranya bahkan tidak menjadikan profit atau keuntungan sebagai satu-satunya tujuan dalam berbisnis.

Cara berbisnis bagi sebagian wirausaha muda tersebut adalah dengan pemberdayaan untuk memberikan manfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat atau yang biasa disebut sebagai wirausaha sosial.

Hasil yang ingin dicapai bukan keuntungan materi atau kepuasan pelanggan semata, melainkan bagaimana usaha yang diajukan dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat. Wirausaha sosial selalu berupaya untyk memberikan lebih dari sekadar ‘ikan,’ mereka ingin mengajarkan kepada masayarakat caranya memancing.

Aksi nyata generasi muda Indonesia dalam memberdayakan masyarakat sekitar demi kepentingan bersama patut diperhitungkan. Kepedulian sosial di antara generasi muda Indonesia pun semakin meningkat, terbukti dengan semakin maraknya wirausaha-wirausaha sosial yang bermunculan dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak sedikit dari wirausaha sosial yang mendapatkan apresiasi dan bantuan atau hibah dari sejumlah perusahaan sehingga memungkinkan mereka untuk meningkatkan layanan, mempersembahkan purwarupa ke pasar, meningkatkan proses kerja atau mengembangkan bisnis yang ada dalam mencapai dampak sosial yang lebih besar.

Salah satu perusahaan yang rutin memberikan hibah ialah DBS Foundation. Tahun ini perusahaan asal Singapura tersebut memberikan bantuan sebesar 1,25 juta dolar Singapura untuk 12 wirausaha sosial (social enterprises/SE) di Asia, sebagai bagian dari 2018 Social Enterprise Grant Programme.

Hibah yang berkisar antara 30.000 – 250.000 dolar Singapura (sekitar Rp323 juta – Rp2,7 miliar) yang diberikan kepada SE dari Singapura, Indonesia, Hong Kong, India, dan Taiwan. Di Indonesia sendiri ada empat wirausaha sosial yang berhak mendapatkan dana hibah.

demo

produk kemasan berbahan rumput laut

PertamaEvoware, wirausaha sosial yang bertujuan untuk meningkatkan gaya hidup yang ramah lingkungan dan menyediakan nilai inovatif kepada masyarakat urban.

Kemasan (bio-packaging) berbahan dasar rumput laut yang dikembangkan untuk menggantikan kemasan plastik bagi produk makanan dan non-makanan, merupakan inovasi sosial yang relevan dan tepat waktu, khususnya dengan lebih dari 150 juta ton limbah plastik yang mencemari laut saat ini.

Kemasannya bersifat bio-degradable, dapat dimakan dan kaya akan serat, yang menyajikan berbagai keuntungan bagi lingkungan dan makhluk hidup. Bekerja sama secara langsung dengan petani rumput laut, Evoware membantu meningkatkan taraf kehidupan petani sekaligus menyediakan alternatif ramah lingkungan dari plastik.

gandengtangan.org

Kedua, GandengTangan.org menghubungkan pemilik usaha mikro di Indonesia yang membutuhkan pendanaan, dengan investor yang ingin menciptakan dampak sosial. GandengTangan.org mempersembahkan sebuah platform dana yang aman dan transparan di mana kedua belah pihak dapat saling terlibat dalam menciptakan inklusi keuangan di Indonesia.

Jezzie Setiawan, CEO gandengtangan.org mengatakana bahwa perusahaannya menawarkan akses kepada pemilik usaha mikro untuk meminjam dengan suku bunga yang lebih rendah, yang didukung oleh kekuatan kolektif para investor. “Kami akan menggunakan hibah ini untuk meningkatkan produk dengan teknologi pembelajaran dan data ilmiah untuk penilaian kredit yang akurat, serta merekrut tenaga terampil,” ujarnya.

Ketiga, Mycotech sebuah wirausaha sosial yang membantu peningkatan daur ulang limbah pertanian dan meningkatkan pendapatan tambahan untuk petani di Indonesia. Dengan menggunakan teknologi yang dipatenkan, Mycotech menghasilkan sebuah perekat alami yang menyatukan serat organik - menciptakan material bangunan yang ramah lingkungan, kokoh, dan ringan. Bahan bangunan ini dapat menghasilkan panel dan ubin yang mewah untuk perabot, rak, dan perlengkatan interior lainnya.

Petani kecil yang direkrut sebagai mitra Mycotech juga memperoleh pendapatan tambahan dengan menjualkan limbah agrikultural.

“Pada 2016 kami mendapatkan hibah purwarupa untuk mengoptimalkan pabrik tanaman percobaan, serta demi mendapatkan sertifikasi yang dibutuhkan untuk mulai bekerja. Tahun ini, hibah akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi Mycotech dan merumuskan strategi pengelolaan IP yang lebih baik,” tutur Adi Reza Nugroho, CEO Mycotech.

Keempat, SukkhaCitta sebuah wirausaha sosial yang membawa perubahan ekonomi inklusif dengan membentuk generasi baru para pengrajin, yang dapat bersaing di pasar global dan merasa bangga akan hasil karya mereka. CEO SukkhaCitta Denica Flesch mengatakan sektor kerajinan tangan dalam negeri memiliki potensi yang besar untuk pengembangan ekonomi dan sosial.

“Kami mengapresiasi pengrajin rumahan Indonesia di pedesaan dengan menyediakan pengetahuan tentang industri melalui pelatihan dan sertifikasi yang setara dengan pasar internasional, sehingga menghilangkan praktek eksploitatif dalam menjaga keberlanjutan industri,” ujarnya.

Dengan adanya hibah yang didapatkan tersebut, SukkhaCItta akan lebih banyak melatih pengrajin lokal, memberikan sertifikasi kepada masyarakat desa, dan meningkatkan kapasitas produksi.

Karen Ngui, Board Member of DBS Foundation and DBS’ Head of Group Strategic Marketing & Communicationn mengatakan DBS Foundation Social Enterprise Grant Programme telah dilaksanakan selama empat tahun untuk membantu tumbuh kembang wirausahawan muda yang bersemangat sekaligus menciptakan solusi inovatif untuk menghasilkan dampak sosial yang berkelanjutan.

Mulai dari menciptakan aplikasi yang membantu para tunanetra; drone yang mendistribusikan obat-obatan ke daerah terpencil; hingga penggunaan rumput laut dan bunga sebagai bahan dasar kemasan; atau AI untuk mengurangi pemborosan makanan.

 

Tag : wirausaha
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top