‘Sketsa Penyelamatan’ Shigeru Ban di Antara Puing-puing Gempa

Gempa bumi yang intensif menghantam Ibu Pertiwi dalam beberapa waktu terakhir menegaskan pentingnya konstruksi bangunan yang dapat diandalkan dan tahan gempa.
Renat Sofie Andriani | 04 Oktober 2018 12:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Gempa bumi yang intensif menghantam Ibu Pertiwi dalam beberapa waktu terakhir menegaskan pentingnya konstruksi bangunan yang dapat diandalkan dan tahan gempa.

Indonesia memang dianggap menjadi salah satu negara rawan gempa. Ini dikarenakan posisinya yang terletak di tengah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), jalur gempa paling aktif di dunia.

Sudah barang tentu negara kita membutuhkan lebih banyak bangunan tahan gempa, apalagi dukungan pembangunan dalam proyek penanggulangan bencana.

Shigeru Ban, seorang arsitek kenamaan asal Jepang, telah lama menyikapi permasalahan ini, setidaknya di beberapa negara lain, melalui berbagai karya arsitektur yang menarik perhatian dunia.

Mulai dari tempat tinggal pribadi, kantor perusahaan, museum, hingga bangunan publik, ia dikenal karena orisinalitas, ekonomi, dan kecerdikan karyanya, yang tidak bergantung pada solusi berteknologi tinggi.

Dengan terobosannya, ia bersama tim yang tergabung dalam Shigeru Ban Architects (SBA) mampu dengan tanggap dan efisien mendirikan bangunan untuk korban bencana alam.

Lebih dari dua dekade lamanya ia telah melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi bencana alam di seluruh dunia, merangkul warga setempat, relawan, dan mahasiswa, untuk merancang dan membangun tempat penampungan dan bangunan yang sederhana, berbiaya rendah, dapat didaur ulang, namun tetap nyaman bagi para korban bencana.

Ia pernah membangun penampungan darurat dari kertas di Haiti pascagempa pada 2010, pengungsi tsunami di Sri Lanka pada 2014, ataupun membangun rangka atap dengan tabung karton saat gempa di Christchurch, Selandia Baru.

Alih-alih bahan beton, Shigeru menekankan penggunaan bahan bangunan daur ulang dengan tujuan membangun kembali struktur yang berkelanjutan pascabencana.

“Kekuatan bangunan itu sendiri tidak ada hubungannya dengan kekuatan material. Bahkan bangunan beton dapat dihancurkan gempa bumi dengan sangat mudah, tetapi bangunan yang terbuat dari kertas terkadang tidak dapat dihancurkan oleh gempa,” jelasnya, seperti dilansir dari Star2.com.

Saking fenomenalnya, Shigeru masuk profil majalah Time dalam proyeksi mereka untuk inovator abad ke-21 di bidang arsitektur dan desain. Ia juga adalah peraih Pritzker Architecture Prize, penghargaan paling bergengsi di bidang arsitektur modern, pada 2014. 

Sukses yang datang karena bakat, dedikasi, atau kerja keras?

Unggul dalam Seni

Shigeru Ban lahir di Tokyo pada 5 Agustus 1957 dari pasangan seorang pengusaha di Toyota dan seorang desainer 'haute couture' untuk wanita. Kecintaan sang Ayah pada musik klasik mendorong Shigeru belajar bermain biola di usia dini.

Sementara itu, pengalaman sang Ibu sebagai seorang desainer adibusana yang setiap tahun bepergian ke Eropa untuk ambil bagian dalam pekan-pekan mode di Paris dan Milan, kerapkali membangkitkan kerinduan Shigeru untuk bepergian ke luar negeri di kemudian hari.

Ketika Shigeru masih berusia muda, orangtuanya sering mempekerjakan tukang kayu untuk merenovasi rumah keluarga mereka yang terbuat dari kayu.

Kecakapan dan keahlian tukang kayu ternyata menyimpan pesona baginya. Ia kerap memungut potongan-potongan kayu untuk membuat berbagai hal. Di situlah, ia memutuskan ingin menjadi seorang tukang kayu.

“Saya ingin menjadi  tukang kayu ketika saya masih kecil,” ujarnya, seperti dikutip In Design Live.

Keterampilannya dalam kerajinan dan seni tampak sangat jelas saat ia menduduki bangku sekolah dasar dan menengah. Desain rumah yang dirancangnya sebagai tugas sekolah saat liburan musim panas dipajang di sekolah sebagai karya terbaik. Pengakuan ini mendorongnya untuk menjadi arsitek.

Rugby dan Arsitektur

Pada saat yang sama, Shigeru memiliki kecintaan terhadap olahraga rugby. Ia telah bermain rugby sejak berusia sepuluh tahun. Di sekolah menengah pertama ia bahkan dipilih sebagai anggota tim junior regional Tokyo untuk bertanding melawan tim nasional Korea.

Melansir Pritzker Prize, demi mengembangkan kecintaannya pada rugby dan arsitektur, Shigeru berusaha keras agar dapat memasuki Universitas Waseda. Dengan tekun ia menghabiskan akhir pekannya untuk belajar menggambar agar dapat diterima di universitas tersebut.

Beranjak ke tingkat kelas berikutnya, ia harus berupaya lebih keras dengan menghadiri sekolah menggambar setiap hari setelah berlatih rugby di sekolah. Ia pun terpilih sebagai anggota reguler tim rugby dan bermain di turnamen nasional. Namun, timnya harus tersingkir pada putaran pertama.

Shigeru kemudian memutuskan menyingkirkan rencana untuk memasuki Universitas Waseda, yang dikenal karena keunggulannya dalam rugby, dan memilih fokus mempelajari arsitektur dengan memasuki Tokyo University of the Arts.

Sebagai bagian dari upaya masuk universitas itu, ia belajar pemodelan struktural menggunakan kertas, kayu, dan bambu untuk pertama kalinya. Kemampuannya yang luar biasa dengan cepat membuktikan bahwa dia tak tertandingi di bidang ini.

Namun suatu hari, ia menemukan artikel tentang John Hejduk, seorang "arsitek kertas" dan dekan Cooper Union's School of Architecture di New York.

Pergulatan Shigeru dengan model dan rencana bangunan adalah sesuatu yang revolusioner baginya. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat (AS) dan belajar arsitektur di Cooper Union.

Pendidikan Arsitektur

Pada tahun 1977, Shigeru mengunjungi California untuk belajar bahasa Inggris. Pada saat itu, ia baru mengetahui bahwa Cooper Union tidak menerima siswa dari luar negeri dan hanya menerima siswa yang ditransfer dari sekolah lain di Amerika Serikat.

Menyiasati hal ini, ia mencari sekolah untuk dapat dipindahkan dan memutuskan masuk Southern California Institute of Architecture (SCI-Arc), yang baru saja didirikan saat itu.

Arsitek terkenal sekaligus pendiri SCI-Arc, Raymond Kappe, mewawancarainya. Terlepas dari kemampuan berbahasa Inggris Shigeru yang buruk, Kappe terkesan dengan portofolio Shigeru dan meloloskannya memasuki institut tersebut sebagai mahasiswa tahun kedua.

Dalam perjalanannya menempuh pendidikan, Shigeru sangat terinspirasi oleh rangkaian Rumah Studi Kasus, yang dipengaruhi oleh arsitektur tradisional Jepang. Pada tahun 1980, setelah menyelesaikan tahun ke-4 di SCI-Arc, ia akhirnya dipindahkan ke Cooper Union.

Semua siswa yang pindah dari sekolah lain memulai pendidikannya di tingkat kedua. Di antara teman sekelas Shigeru adalah rekannya, Dean Maltz, dan arsitek terkenal lainnya seperti Nanako Umemoto (Reiser + Umemoto) dan Laurie Hawkinson (Smith-Miller + Hawkinson Architects).

Pada akhir tahun keempat, Shigeru mengambil jeda satu tahun dari Cooper Union dan bekerja di kantor Arata Isozaki di Tokyo. Ia kembali ke Cooper Union dan meraih gelar Sarjana Arsitektur pada tahun 1984.

Setelah lulus, Shigeru mendampingi fotografer Yukio Fukagawa dalam perjalanan ke Eropa, di mana ia mengunjungi arsitektur Alvar Aalto di Finlandia untuk pertama kalinya. Ia begitu terkagum-kagum oleh bagaimana arsitektur Aalto menekankan konteks dan material regional.

Terjun ke Dunia Nyata

Pada 1985, ia membangun usahanya sendiri yakni Shigeru Ban Architects di Tokyo. Meski dimulai tanpa pengalaman kerja apa pun, ia mampu mengembangkan usahanya hingga menambah kantor di Paris dan New York.

Sekitar tahun 1985 dan 1986, ia mengatur dan merancang instalasi pameran Emilio Ambasz, pameran Alvar Aalto, dan pameran Judith Turner, sebagai kurator Galeri Axis di Tokyo.

Saat mengembangkan struktur tabung kertas yang ia laksanakan untuk pertama kalinya di pameran Aalto, Shigeru mendesain "PC Pile House", "House of Double-Roof", "Furniture House", "Curtain Wall House", "2/5 House", "Wall-Less House", dan "Naked House" sebagai rangkaian studi kasus.

Ketika Shigeru menemukan bahwa dua juta pengungsi dari Perang Sipil Rwanda tahun 1994 terpaksa hidup dalam kondisi yang buruk, ia mengusulkan tempat penampungan terbuat dari kertas kepada Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi. Usulnya diterima dan ia pun dipekerjakan sebagai konsultan.

Kemudian pascagempa Kobe pada tahun 1995, ia membangun "Paper Log House" untuk para mantan pengungsi Vietnam yang tidak memiliki kemungkinan untuk tinggal di rumah-rumah sementara yang disediakan oleh pemerintah Jepang. Shigeru juga membangun "Paper Church" Takatori dengan para relawan mahasiswa.

Hal ini mendorong pendirian sebuah LSM yakni Voluntary Architects' Network (VAN) yang memulai kegiatan bantuan bencana. VAN membangun perumahan sementara di Turki pada 1999, barat India pada 2001, dan Sri Lanka pada 2004.

Ia juga membangun sekolah sementara pascagempa bumi Sichuan tahun 2008, sebuah aula konser di L'Aquila, Italia, dan tempat penampungan pascagempa bumi 2010 di Haiti.

Setelah gempa besar yang melanda timur Jepang pada tahun 2011, VAN menyiapkan 1.800 sistem partisi kertas di lebih dari 50 tempat penampungan, untuk memberikan privasi kepada para keluarga.

VAN juga membangun perumahan sementara di Onagawa, Prefektur Miyagi, Jepang. Langkah ini membawa perbaikan besar dalam kualitas hidup di tempat penampungan dan lingkungan perumahan sementara, yang diabaikan oleh pemerintah.

Kemudian pascagempa di Canterbury Selandia Baru pada 2011, Shigeru membangun Katedral yang terbuat dari kertas karton sebagai simbol rekonstruksi kota Christchurch.

“Saya tertarik dengan material yang sederhana. Baja adalah bahan yang luar biasa, Anda bisa melakukan apa saja dengan baja. Adapun kayu dan kertas terbatas dalam apa yang bisa mereka lakukan. Saya tertarik untuk bekerja dalam batasan material itu. Saya ingin memanfaatkan kelemahannya dan membuat sesuatu yang berbeda.”

Penghargaan dan Kerja Sama

Pada tahun 1995, pembangunan struktur tabung kertas oleh Shigeru menerima sertifikat arsitektur permanen dari Menteri Konstruksi di Jepang. Pada tahun 1998, Nobutaka Higara menjadi mitra di kantornya di Tokyo.

Kemudian pada 2000, bekerja sama dengan arsitek Jerman/insinyur struktural Frei Otto, Shigeru membangun sebuah struktur tabung kertas untuk Japan Pavillion Hanover Expo di Jerman. Struktur ini menarik perhatian dari seluruh dunia untuk arsitekturnya yang dapat didaur ulang.

Pada 2004, bekerja sama dengan Jean de Gastines (mitra di kantornya di Paris sejak 2004) dan Philip Gumuchdjian, Shigeru memenangkan kompetisi Pompidou Center-Metz.

Ia menghimpun mahasiswa Jepang dan Eropa serta membangun kantor sementara yang terbuat dari struktur tabung kertas di teras lantai atas Centre Pompidou di Paris.

Pada 2001, ia diangkat sebagai profesor di Fakultas Lingkungan dan Studi Informasi di Universitas Keio. Setelah memenangkan kompetisi Centre Pompidou-Metz, ia mendirikan praktik pribadi di Paris dengan mitranya Jean de Gastines.

Shigeru mengundurkan diri dari Universitas Keio pada 2008 dan berlaku sebagai profesor tamu di Harvard University dan Cornell University pada 2010. Kemudian pada 2011, ia menjadi profesor di Kyoto University of Art and Design.

Selain mengembangkan sistem material dan struktur, ia terus menelurkan karya-karya arsitektur, menjadi sukarelawan untuk bantuan bencana, dan mengajar. Tak hanya tentang kertas, karyanya juga berkaitan dengan bahan alami lain seperti bambu (Bamboo Furniture House, 2002).

Ia juga membuat sistem-sistem struktural yang dibangun dari kontainer pengiriman (di antaranya Nomadic Museum, New York, 2005; Container Temporary Housing, Onagawa, 2011), dan struktur kayu tanpa konektor logam (sebagai contoh Centre Pompidou-Metz, 2010; Aspen Art Museum, 2014).

Selain itu, ia menciptakan furnitur dan arsitektur yang dibuat dengan serat karbon (Carbon Fiber Chair, 2009; dan Museum Rietberg Summer Pavilion, 2013).

Meski dihujani dengan begitu banyak penghargaan arsitektural, Shigeru tampak enggan menonjolkan dirinya di bawah sorotan publikasi. “Saya bukan Starchitect,” tegas Shigeru, merujuk pada julukan yang berarti 'Bintangnya Arsitek'.

Perwakilan penghargaan Pritzker Prize, Tom Pritzker, memiliki kesan yang mendalam tentang Shigeru.

“Komitmen Shigeru Ban untuk tujuan-tujuan kemanusiaan melalui karya bantuan bencana alam adalah contoh untuk semua. Inovasi tidak dibatasi oleh jenis bangunan dan empati tidak dibatasi oleh anggaran. Shigeru telah membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik.”

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top