Jonathan Sudharta: Halodoc tak Gantikan Rumah Sakit

Kinerja perusahaan rintisan PT Media Dokter Investama (Halodoc) diklaim terus bertumbuh. Pada tahun ini, usaha bebasis daring yang menghubungkan pasien dengan dokter itu pun semakin ekspansif. Untuk membahas rencana pengembangan bisnis perusahaan, Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO & Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta
Oktaviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi | 10 Oktober 2018 14:28 WIB
Profil singkat Halodoc yang dikembangkan PT Media Dokter Investama.

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja perusahaan rintisan PT Media Dokter Investama (Halodoc) diklaim terus bertumbuh. Pada tahun ini, usaha bebasis daring yang menghubungkan pasien dengan dokter itu pun semakin ekspansif. Untuk membahas rencana pengembangan bisnis perusahaan, Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO & Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta. Berikut petikannya:

Bagaimana ide awal pendirian Halodoc?

Lima belas tahun yang lalu, saya mengawali karier sebagai medical representative yaitu tenaga yang mempromosikan ke dokter-dokter tentang penggunaan obat. Sebagai medical representative, saya sering menunggu dokter, bahkan sampai pukul 01.00 atau 02.00 pagi.

Saat menunggu dokter itu, saya sering mengobrol dengan para pasien yang saat itu juga menunggu dokter. Setelah itu, banyak pasien yang akhirnya menghubungi saya, karena tahu saya kenal dan punya hubungan baik dengan banyak dokter untuk menanyakan apakah pasien tersebut harus kembali lagi ke dokter untuk diperiksa.

Setelah 15 tahun kemudian, saya akhirnya berpikir jumlah dokter di Indonesia masih terbilang sedikit, dan banyak pasien yang terkadang sulit bertemu dokter.

Lantas, apa yang Anda lakukan setelah itu?

Berdasarkan pengalaman tersebut, pada 2015 saya presentasi ke Kementerian Kesehatan mengenai platform yang kami kembangkan. Pada awalnya sempat ada keraguan. Ini karena platform yang menghubungkan pasien dengan dokter secara online ini belum pernah ada di Indonesia, dari sisi regulasinya juga belum ada.

Akan tetapi, Menteri Kesehatan menyatakan perlu membuka diri, dan membangun aturan yang lebih future oriented. Akhirnya, pada April 2016 kami launching platform kami yaitu Halodoc.

Apakah bisa dikatakan bahwa Halodoc merupakan pionir di bidang ini?

Yang menilai seharusnya orang lain, tetapi sampai saat ini yang menghubungkan pasien, dokter, apotik, dan laboratorium dalam sebuah platform itu memang baru kami. Jadi kalau dibilang pionir, rasanya ya kami memang satu-satunya sih saat ini.

Pada saat awal beroperasi, adakah kesulitan dalam meyakinkan publik memakai Halodoc?

Pada dasarnya, perusahaan digital itu ada karena adanya kesulitan dirasakan pasar, dan incumbent bisnis belum bisa penuhi. Jadi, kalau ada kesulitan yang dirasakan masyarakat, untuk meyakinkan itu tidak susah, tinggal bagaimana kami berkomunikasi dengan masyarakat.

Dunia kesehatan ini butuh kepercayaan, tidak bisa sekadar mengatakan setiap orang bisa ketemu dokter. Masyarakat harus diberikan informasi mengenai siapa dokternya dan meyakinkan keabsahan dari platform kami.

Awalnya kami memang butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat, tetapi dengan adanya berbagai pengalaman positif yang dibagikan beberapa pasien yang sudah pernah memanfaatkan layanan kami, itu juga membantu untuk meyakinkan masyarakat.

Adakah batasan wilayah operasional?

Kalau untuk konsultasi dengan dokter tidak ada batasannya, bisa di seluruh Indonesia. Akan tetapi kalau jasa pengiriman obat, baru bisa melayani di kota-kota yang sudah ada Gojek. Memang Gojek kan sudah ada di 140 kota, sedangkan kami baru ada di 30 kota.

Bagaimana mekanisme kemitraan Halodoc dengan dokter?

Kalau memang dibutuhkan, dokter memiliki kemampuan untuk langsung merujuk pasien ke rumah sakit. Adapun, rujukannya bisa diberikan langsung dari Halodoc. Akan tetapi, banyak juga pasien yang cukup konsultasi dengan dokter, tanpa perlu adanya rujukan, dan hanya diberi rekomendasi obat.

Kira-kira waktu yang dibutuhkan sejak awal konsultasi, sampai dengan mendapatkan obat itu sekitar 35 menit. Untuk konsultasinya, bisa melalui percakapan online biasa. Namun, kalau memang dokternya merasa perlu melihat lukanya pasien, bisa video call.

Adakah insentif yang didapatkan para dokter?

Pasti secara komersial ada, karena dokter ada biaya prakteknya. Akan tetapi, saat ini kami masih melakukan promosi, sehingga biaya konsultasinya dibebaskan. Kami sendiri masih belum memutuskan promosinya diberlakukan sampai kapan.

Pada dasarnya, Halodoc ini bisnisnya sociopreneur, antara bisnis sosial dan yang betul-betul bisnis agak bercampur, karena ada panggilan kemanusiaan juga. Saat ini, kami masih mengutamakan dulu edukasi kepada masyarakat, sambil menunggu timing yang tepat untuk melakukan monetisasi.

Selain menerima konsultasi secara online di Halodoc, para dokter juga praktek di rumah sakit, bagaimana pengaturannya?

Sebagai penyedia platform, kami meminta komitmen para dokter yang mau bergabung untuk menyediakan jadwal mereka bisa menerima konsultasi dari pasien di Halodoc. Setelah itu, kami pantau KPI mereka.

Kalau respons dan jawaban dokter terkait sesuai dengan waktu yang dijanjikan, mereka dapat poin tambahan. Jadi, pada saat jadwalnya para dokter menerima konsultasi, mereka itu betul-betul terkonsetrasi berkomunikasi dengan pasien di Halodoc saja.

Dari sisi kemitraan dengan apotek dan laboratorium, apa saja nilai tambah yang bisa mereka dapatkan?

Ada beberapa apotek yang saya tahu dari total bisnisnya itu, sekitar 70% disumbang dari kontribusi Halodoc. Banyak apotek kecil yang sebelumnya usaha mereka terancam tutup, tetapi akhirnya bisa hidup kembali.

Jadi, dampak ekonominya memang bisa langsung dirasakan oleh apotek. Begitu juga terkait kemitraan dengan laboratorium, banyak pasien yang melakukan pengecekan ke laboratorium mitra kami.

Apa saja upaya pengembangan bisnis yang sudah dijalankan pada tahun ini?

Kami beberapa minggu yang lalu baru launch layanan Halodoc yang merambah ke rumah sakit. Kami mencoba membantu pasien yang tidak bisa ke rumah sakit, atau untuk menyelesaikan masalah yang ringan, misalnya menunggu obat.

Faktanya, kami tidak pernah bilang kami menggantikan rumah sakit. Kalau orang perlu ke rumah sakit, harus tetap ke rumah sakit. Akan tetapi, biasanya waktu tunggu obat di rumah sakit itu cukup lama, dan kami bisa membantu pasien menyelesaikan masalah waktu tunggu tersebut.

Pasien yang sudah diperiksa oleh dokter, bisa memberikan resep obatnya ke booth Halodoc yang tersedia di rumah sakit tersebut. Nanti, obatnya langsung diantar. Saat ini booth kami sudah tersebar di 85 rumah sakit, dan targetnya pada tahun depan booth kami bisa tersebar di 500 rumah sakit.

Adakah rencana perluasan jangkauan layanan?

Fokus utama kami sebenarnya menambah jumlah kota yang kami layani. Untuk konsultasi sebenarnya sudah bisa dilakukan di mana saja, tetapi untuk layanan antar obat itu kami masih ada batasan logistik.

Secara bertahap, ke depannya kami ingin bisa menjangkau ke seluruh kota. Mungkin pada tahun ini kami ingin bisa meningkatkan layanan dari 30 kota menjadi ke 50 kota. Pada 2020, seharusnya kami targetkan sudah bisa melayani 140 kota.

Adakah rencana untuk memperluas jangkauan layanan ke luar negeri?

Sebagai anak bangsa, itu menjadi salah satu mimpi kami. Potensinya juga sebenarnya di bidang kesehatan, khusunya di Asia Tenggara sangat besar. Akan tetapi, kami cenderung untuk menang di negara sendiri terlebih dahulu, baru pergi ke negara lain, daripada buru-buru ekspansi ke luar negeri, tetapi menjalankan bisnisnya tidak optimal.

Bagaimana upaya penanganan terhadap keluhan pasien?

Sejauh ini kami belum pernah menerima keluhan yang terbilang ekstrem, tetapi keluhan minor memang ada. Yang dimaksud keluhan minor ialah, misalnya dokter lama merespons pertanyaan pasien. Kami selalu menginformasikan keluhan-keluhan dari pasien itu kepada para dokter, dan berupaya memperbaiki serta meningkatkan layanan.

Bagaimana Anda melihat potensi bisnis layanan konsultasi kesehatan daring ini?

Saya yakin saat ini banyak dokter di Indonesia yang memberikan layanan telekonsultasi. Baik menggunakan Halodoc, percakapan online, maupun telepon.

Industri ini sebenarnya sudah tercipta. Namun, seperti kami ini sudah diformalisasi, misalnya pendataan, dan izin dokternya jelas. Saya percaya, seiring dengan perkembangan waktu, teknologi ini akan menjadi hal yang biasa ke depannya.

Apa saja tantangan yang dihadapi industri ini?

Tantangan terbesarnya adalah mengubah kebiasaan orang yang lebih percaya kata teman, atau mitos menjadi lebih percaya dengan tenaga medis. Menurut saya, mencari obat melalui pencarian di internet itu juga cukup bahaya, karena banyak obat atau jamu yang kandungannya tidak jelas.

Oleh sebab itu, kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai layanan konsultasi dengan dokter secara online. Kegiatan sosialisasi dan edukasi ini secara rutin kami lakukan baik melalui saluran online maupun offline.

Apa mimpi besar Anda terhadap Halodoc?

Yang pertama ialah menyederhanakan akses kesehatan di Indonesia. Kesehatan itu cakupannya luas, mulai dari konsultasi dengan dokter, tunggu obat, dan tunggu pembayaran. Kami berupaya dengan teknologi, masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan dengan lebih praktis dan nyaman.

Bagaimana strategi Anda untuk pengembangan SDM?

Sejak awal beroperasi, sampai dengan saat ini kami sudah memiliki 300 staf. Untuk pengembangan potensi, kami memberikan kesempatan kepada staf yang melakukan kesalahan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi itu.

Saya juga hargai keberanian staf untuk mengambil risiko dalam membuat keputusan bisnis. Kuncinya adalah empowerment untuk mengembangkan potensi SDM.

BIODATA:

Nama: Jonathan Sudharta

Tempat & Tanggal Lahir: Jakarta, November 1981

Riwayat Pendidikan:

- Bachelor of Commerce majoring e-Commerce, Curtin University, Australia

Riwayat Karier:

- CEO & Co-Founder PT Media Dokter Investama/Halodoc (2016—Sekarang)

- Business Development Director Mensa Group

- Commercial Director Mensa Group

*) *) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (10/10/2018)

Tag : rumah sakit
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top