Siapa Carlos Ghosn, Bos Nissan yang Ditahan di Jepang

Carlos Ghosn pernah dan masih dianggap pahlawan di Jepang. Kisahnya pernah diadaptasi ke dalam sebuah seri komik ternama 2001 silam.
Iim Fathimah Timorria | 20 November 2018 12:46 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Carlos Ghosn pernah dan masih dianggap pahlawan di Jepang. Kisahnya pernah diadaptasi ke dalam sebuah seri komik ternama 2001 silam.

Ghosn bahkan masuk 10 besar daftar warga asing yang diinginkan penduduk Jepang menjadi pemimpin mereka. Dalam jajak pendapat nasional pada 2011 itu, ia berada di peringkat 7, mengalahkan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang cuma bertengger di posisi 9. Di lain jajak pendapat, ia disebut sebagai pria yang ingin dinikahi mayoritas perempuan Jepang.

Segala pujian yang disematkan ke Ghosn bukan tanpa alasan. Tangan dinginnya pernah membawa Nissan, salah satu perusahaan otomobil asal Jepang, selamat dari kebangkrutan.

Lahir di Brazil dari orang tua keturunan Lebanon, Ghosn mengenyam pendidikan di sebuah universitas elit di Prancis. Ia memulai karier di perusahaan pembuat ban Michelin pada 1978 dan bekerja selama 18 tahun di sana.

Ia bergabung dengan Renault pada tahun 1996 dan memperoleh tugas di divisi Amerika Selatan. Ia mengusung perubahan radikal di divisi tersebut dan membawa Renault kembali bangkit dan mendulang profit. Atas kontribusinya, ia dijuluki 'Le Cost Killer' oleh publik Prancis.

Reputasi Ghosn melejit ketika ia bertanggung jawab dalam pembelian 40% saham Nissan oleh Renault pada 1999. Saat itu Nissan terjerat hutang dan telah kehilangan aset dalam jumlah besar selama 7 tahun berturut-turut. Ghosn kemudian melakukan restrukturisasi di tubuh Nissan dengan menutup lima pabrik domestik dan memberhentikan 21.000 pekerjaan di perusahaan tersebut.

Tangan dingin Ghosn dalam mengelola perusahaan tak sampai di situ. Ia kemudian membuat suatu perjanjian yang memungkinkan Renault dan Nissan berkolaborasi dan beroperasi seolah dua perusahaan tersebut adalah satu entitas.

Aksi tersebut bisa dibilang seperti merger, namun aliansi kedua perusahaan memungkinan mereka untuk berbagi biaya pengembangan model baru dan menegosiasikan kesepakatan yang lebih baik dengan pemasok dengan membeli komponen secara bersama.

Aliansi Nissan-Renault lantas berkembang dengan menyertakan Mitsubishi pada 2016. Jika aliansi ini adalah satu entitas, maka kombinasi Nissan-Renault-Mitsubishi adalah produsen mobil terbesar di dunia dengan penjual per tahun mencapai 10,6 juta unit. Angka tersebut mengungguli penjualan Toyota atau Volkswagen yang berdasar catatan tahun ini menjual 5,5 juta unit pada semester pertama.

Ghosn yang kerap disebut sebagai orang yang visioner adalah lambang dari pemimpin yang multitasking. Saat menjabat sebagai CEO dan pemimpin eksekutif Renault dan Nissan pada 2005-2017, ia menghabiskan waktu berpindah dari Prancis ke Tokyo setiap minggu. Ia juga telah memperkenalan mobil listrik lebih dulu dibanding kompetitornya lewat Nissan Leaf pada 2010 di Jepang dan Amerika Serikat.

Dalam autobiografinya, Ghosn berkisah bahwa ia kerap merasa berbeda karena latar belakang multikulturalnya. Ia merasa perbedaan budaya yang ia rasakan selama tumbuh dewasa membuatnya lebih ingin mengitegrasikan diri dan memahami budaya lain. Hal itulah yang membuatnya berhasil menghadapi iklim kerja Jepang yang cenderung rigid.

Warga negara asing yang menaklukkan kekakuan Jepang, demikian kira-kira Ghosn dipandang oleh publik Jepang. Penangkapannya adalah tamparan dalam tubuh Renault dan Nissan. Dua perusahaan tersebut diperkirakan akan kehilangan salah satu sosok paling penting yang merekatkan keduanya sebagai perusahaan produsen otomotif terbesar di dunia.

Tag : nissan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top