Kampung Berseri Astra: Mengolah Sampah Jadi Berkah

Sampah selalu menjadi masalah di sejumlah daerah. Namun, di tangan masyarakat peduli lingkungan asri, sampah dapat diubah menjadi berkah.
Azizah Nur Alfi | 24 Desember 2018 13:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sampah selalu menjadi masalah di sejumlah daerah. Namun, di tangan masyarakat peduli lingkungan asri, sampah dapat diubah menjadi berkah.

Sunyoto bersama dengan sejumlah warga Perumahan Telaga Murni RW 05, Cikarang Barat, Bekasi, tengah sibuk menyiapkan 15 drum dengan volume masing-masing 80 liter. Mereka tergabung dalam Masyarakat Peduli Lingkungan Asri (Mapela) Telaga Murni (TM) 05 yang terbentuk pada 2015.

Drum itu digunakan untuk mengolah sampah dapur menjadi pupuk organik cair dengan kapasitas produksi yang lebih besar yakni dapat mencapai 5 liter per drum. Proyek ini direncanakan mulai berjalan pada Januari 2019.

Pengolahan sampah dapur menjadi pupuk organik cair sebenarnya telah dilakukan kelompok swadaya masyarakat itu sejak awal 2018, tetapi kapasitas produksinya masih terbatas. Di samping itu, hanya sebagian masyarakat yang konsisten mengelola sampah dapur.

Sunyoto yang juga Ketua Mapela TM 05 mengatakan, pengelolaan sampah dapat dilakukan sejak dari dapur rumah tangga. Dia rutin mengumpulkan sisa makanan hingga kulit buah maupun sayuran dalam wadah dengan kapasitas 3 liter.

Setelah wadah penuh, dia menambahkan bakteri fermentasi agar limbah organik dapat terurai sehingga menjadi pupuk organik cair. Perlu waktu 2 pekan untuk proses fermentasi. Selanjutnya, proses itu akan menghasilkan cairan yang nantinya digunakan sebagai pupuk.

Pada mulanya, dia memanfaatkan pupuk cair agar tanamannya tumbuh subur. Namun sesekali, dia mendapatkan permintaan produk serupa dari kerabat maupun teman sejawat.

"Satu wadah ini [500 ml] dijual Rp25.000. Kadang ada permintaan untuk ikut pameran," katanya saat ditemui pada Minggu (23/12/2018).

Darsimin, Pengurus Mapela TM 05 lainnya, juga memanfaatkan limbah dapurnya sebagai bahan baku pupuk cair. Dia memiliki 2 wadah yang penuh dengan limbah dapur.

"Selain cairannya yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, ampasnya juga bisa dimanfaatkan sebagai kompos dan media tanam," imbuhnya.

Atas inisiatif itu, Mapela TM 05 diganjar juara 1 lomba Sadatasu atau sampah dapur tanaman subur yang diselenggarakan PT Astra International Tbk. di Kupang, NTT, pada Juni 2018. Komitmen menciptakan lingkungan yang asri di wilayah RW 05 Perumahan Telaga Murni juga berhasil meraih penghargaan sebagai Kampung Berseri Astra pada 2017.

Sunyoto menilai upaya mengelola sampah dan menciptakan lingkungan yang asri, bukan tanpa hambatan. Butuh strategi untuk mengajak masyarakat ikut serta dalam program ini, di antaranya melalui program posyandu dan PAUD berbasis sampah, serta bank sampah.

"Kami tidak mengejar penghargaan. Ini berawal dari keinginan kami membuat lingkungan jadi lebih asri dan mengurangi sampah," imbuh Sunyoto.

Selain menggunakan sisa makanan maupun sampah dapur, pengurus Mapela TM 05 lainnya, Sunarno mengatakan bahan baku pupuk organik cair juga dapat berasal dari cangkang telur, air bekas mencuci ikan, hingga air cucian beras. Bonggol pisang, kulit buah, hingga sayuran, akan menghasilkan pupuk cair lebih banyak.

Dia meyakini, produksi pupuk organik cair dengan kapasitas yang lebih besar dapat menjadi potensi bisnis kepada masyarakat sekitar. Selain itu, pupuk cair dari sampah dapur turut mendukung penghijauan di sekitar hunian.

"Kami ingin semaksimal mungkin jangan membuat sampah. Sebaliknya, justru bisa bernilai usaha. Untuk saat ini skala [produksi pupuk cair] masih kecil," katanya.

Tag : umkm
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top